Pemalas yang Menerima Kabar-kabar Duka
16.01.18. Pasca menjemput anak dari sekolah.
Ia sampai di rumah satu jam menjelang Ashar. Hari itu matahari seperti neraka yang bocor seupil. Membuat kulitnya terasa terbakar. Membuat kepalanya kliyengan. Ia langsung leyeh-leyeh melepas lelah di bangku panjang ruang tamu sambil mengecek notifikasi WhatsApp. Satu pesan dari sahabat karibnya: "Innalillahi wa innailaihi rajiun. Telah wafat ayahanda kami bla bla bla..."
Ia ikut bersedih. Apalagi, sehari sebelumnya, ia memimpikan rumah kawan yang sudah dianggap seperti saudaranya itu kedatangan banyak tamu. Berdasarkan nubuat gurunya kalau mimpi tersebut adalah ilafat duka-cita. Tapi, ia tidak cerita kepada karibnya. Entahlah.
Ia mengucapkan belasungkawa dan doa dan hadiah fatihah. "Gue sekarang sendirian. Tidak punya ortu lagi, " imbuh sahabatnya. Ia lalu menatap gawainya, membaca dengan hati yang basah.
15.01.18. Ba'da shalat Isya dan makan malam yang alhamdulillah.
Ia menyalakan Mi-nya yang sejak Maghrib sengaja di pasang lambang pesawat. Beberapa notifikasi muncul banyak sekali. Yang terbanyak dari grup WhatsApp. Ia langsung membuka sebuah grup yang salah satunya mencantumkan namanya sebagai admin. "Innalillahi wa innailaihi rajiun. Telah meninggal dunia Habib Abdurrahman Kwitang...bla..bla" Ah, cucu ulama besar Jakarta. Satu lagi ibukota kehilangan putra terbaiknya. Ia bersedih. Ia teringat mimpinya. Ia bersua dengan alm. kakek sang habib setahun lalu. "Sebaiknya, Mas, segera sowan dan berziarah ke Kwitang.." ujar kiai muda yang juga pengurus Jatman dan Matan Jakarta. Ia berharap memiliki kekuatan teleportasi untuk memungkasi nasehat kiai muda dari Cibubur tersebut. Andai.
11.01.18. Pagi di teras rumah dan segelas Caffe Latte yang masih mengepul.
Ia tengah membaca cerpen B.U.D yang ada dalam Muslihat Musang Emas-nya Yusi Avianto Pareanom. Ia suka tokoh dalam dongeng tersebut yang bermain-main dengan permainan kata palindrom. Ia pernah juga dulu bermain-main dengan kata, tapi versi anagramnya. Karena semalaman belum menyalakan gawai, ia menekan tombol pesawat. Hp-nya kembali siuman, dan sejurus kemudian beberapa notifikasi muncul. Dari grup WhatsApp tentu yang paling banyak. Ia memilih membuka grup sekolahnya. "Innalillahi wa innailaihi rajiun. Telah meninggal H. Ikin Muhammad Lukman Sadikin bin H. M. Cholis Hasan. Mohon dimaafkan segala kesalahannya..." satu pesan dikirim oleh kiai muda cemerlang yang punya pesantren di pelosok Bekasi. Ia terdiam. Ia meraba-raba memorinya. Nama itu. Ah, nama almarhum itu adalah pria muda jatmika yang pernah menerjemahkan teks pidatonya untuk lomba pidato bahasa Inggris pada Porseni se-Kabupaten Bekasi dulu. Almarhumlah yang melatihnya melafalkan dengan benar pengucapan beberapa kata dalam bahasa Inggris agar tampak aduhai dan joss. Ia yang bukan siapa-siapa dan bodoh menang juara pertama di ajang tersebut. Kala itu, ia menduga dewan juri sedang kesurupan jin.
Ia memang bukan pendhabit ilmu yang tsiqah, tapi ia ingat dialog terakhir saat bertemu dengan almarhum di Masjid Fathullah UIN Jakarta, tempat ia dan almagfurlah kuliah:
"Sekarang lagi sibuk apa, Bang?"
"Biasalah. Kayak dulu. Cuma ane lagi ambil kelas pengajar Inggris di LIA.."
Konon, menurut catatan adiknya, almarhum abang kelasnya itu pergi menghadap ilahi setelah sebelumnya merampungkan Burdah Bushiri. Ia bungah dan sedih; bungah karena almarhum kelak menjadi salah satu tamu terbaik-Nya, dan sedih karena ia khawatir kembali ke sisi-Nya dalam kondisi keruh dan berdebu dan berjelaga.