Siang itu matahari bersinar sangat terik. Beruntung jalanan ibukota tidak begitu macet. Empat puluh lima menit kemudian aku dan Pak Adi tiba di Hotel tempat meeting siang itu. Mereka memasuki area lobby.
"Kita makan siang," Pak Adi mengajakku menuju restoran di hotel tersebut. Aku hanya mengangguk kemudian mengikutinya.
Selama makan siang, kami hanya terdiam. Entahlah, aku hanya tidak ingin berbasa-basi dengan direktur muda ini. Dan seperti biasa Pak Adi sangat irit dalam berbicara. Aku meletakkan sendok dan meneguk air segelas air putih hingga habis tak bersisa. Meskipun restoran ini sangat sejuk karena AC, tapi aku merasa gerah. Aku melambai kepada pelayang dan meminta segelas air putih dingin lagi.
Makanan masih tersisa di piring. Aku sedang tidak berselera makan padahal perutku belum terisi penuh. Mungkin karena aku kurang nyaman makan bersama bosku.
"Kenapa tidak dihabiskan? Apa makanannya kurang enak?" tanya Pak Adi menatap makanan yang hanya kusentuh sedikit.
Aku menggeleng, "makanannya sangat enak, hanya saja saya sedang tidak berselera untuk makan."
"Kamu tidak punya selera makan karena tempatnya atau karena makan siang dengan saya?" tanya Pak Adi telak. Dia meletakkan sendok dan menatapku tajam.
"Tidak Pak, tentu saja bukan itu alasannya. Saya hanya sedang tidak berselera." Aku berusaha memberi senyum terbaikku meski aku tahu gagal total. Aku bukanlah orang yang pandai bersikap manis apalagi dengan atasan di tempat kerja. Aku berprinsip jika bermanis-manis tidak ada hubungannya dengan menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Kerja adalah kerja.
Pak Adi hanya terdiam dan melanjutkan makan siangnya. Aku teringat pesan whatsapp dari Radit yang belum aku balas. Aku mengaduk-ngaduk tas dan menemukan smartphone ku.
"Maaf Pak, boleh saya membekas pesan?" tanyaku sopan.
"Silakan Sally, kamu tidak perlu meminta izin saya untuk hal seperti itu. Ini bukan jam kerja dan saya yang memaksamu makan siang dengan saya. Jadi saya tidak punya hak untuk membuatmu mati bosan di sini." Pak Adi menjawab panjang lebar, ada senyum kecil di bibirnya. Aku terpana, sungguh ini adalah kalimat terpanjang sepanjang sejarah aku mengenalnya, tentu saja meeting-meeting itu tidak masuk hitungan.
Pak Adi mengetuk meja di depanku, membuyarkan aku dari lamunan. Entah sudah semerah apa wajahku saat ini. Aku segera membuka pesan whatsapp dari Radit.
"Thank you" balasku singkat. Pesan terkirim, tapi tidak dibaca oleh Radit. Aku meletakkan smartphoneku di atas meja.
"Saya permisi ke restroom sebentar" aku berpamitan, Pak Adi hanya mengangguk.
Aku memandang pantulan wajahku di cermin. Sungguh bodoh, kenapa hari ini aku sial sekali. Terjebak dalam hal yang sangat tidak aku sukai. Kalau dipikir-pikir Pak Adi sama sekali tidak butuh bantuanku untuk memahami proposal untuk meeting nanti. Di dalam mobilpun kami hanya membahas beberapa poin saja yang aku yakin sudah dia kuasai. Lantas kenapa dia harus repot-repot mengajakku. Bukankah biasanya sekretarisnya yang menemaninya setiap meeting. Kenapa juga dia tidak memperbolehkan aku kembali ke kantor terlebih dahulu.
Aku keluar dari restroom dengan pikiran berkecamuk. Tiba-tiba ada yang menahan bahuku dari belakang. Aku tersentak, di depanku ada tembok yang tinggal berjarak lima senti dari dahiku.
"Kalau jalan jangan melamun. Apa sih yang sedang kau pikirkan Sal?" sebuah suara yang tak asing berbicara padaku. Aku memutar tubuhku dan menemukan lelaki yang beberapa hari ini memenuhi pikiranku. Lelaki dengan mata yang tajam dan senyum yang ramah.
"Radit? Sedang apa kau di sini?" tanyaku.
"Terima kasih Radit, bukankah itu yang seharusnya kau katakan padaku?" kata Radit mengulum senyum.
"Terima kasih. Tapi sedang apa kau di sini?" tanyaku lagi.
"Well, aku ada meeting di Hotel ini. Masih lima belas menit lagi sih." Radit melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Oh, kalau begitu aku pergi dulu" aku memutar tubuhku bersiap melangkah namun lagi-lagi Radit menahan tanganku seperti yang dia lakukan pagi ini.
"Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Radit penasaran.
"Terjebak dalam situasi yang tidak bisa aku tolak." Kemudian akupun berlalu meninggalkan Radit yang terus memandang punggungku. Aku tahu seharusnya aku tidak bersikap jual mahal begini pada Radit. Bukankah aku tertarik padanya? Dan aku juga merasa senang setengah mati ketika akhirnya bisa mengenalnya. Namun, ada bagian dari hatiku mengatakan untuk tidak terlalu akrab pada lelaki ini.
Aku kembali ke meja di mana Pak Adi sudah menungguku.
"Ayo kita menuju tempat meeting" kata Pak Adi pendek dan mendahuluiku. Aku segera menyambar tas dan handphoneku lalu mengekor di belakang Pak Adi.
Kami memasuki ruang meeting yang terletak di lantai sepuluh hotel ini. Ada dua orang lelaki yang tengah menunggu di sana. Aku terperangah ketika mengenali salah satu dari dua orang itu. Raditpun tak kalah kaget. Namun dia segera menguasai diri dan tersenyum mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya pada kami.