kita, kaum yang mudah sekali terdistraksi.
sudah sejak lama saya ingin menuliskan ini. mari menengok kembali masa-masa saya awal kuliah. saat itu, yang ada di genggaman saya adalah ponsel biasa. kegunaannya hanya telepon dan SMS. bukan smartphone.
selain gadget sederhana itu, ada netbook kecil bersama saya. saat itu, saya baik-baik saja bersama keduanya. saya mengkonsumsi informasi tidak dari ponsel saya yang lusuh itu. meski beberapa kali kerap kesulitan untuk berkomunikasi dengan teman-teman (karena bukan smartphone, saya tidak bisa menggunakan aplikasi LINE atau Whatsapp) hingga beberapa teman harus menjadi ‘jembatan’ untuk saya dengan dunia luar, saya merasakan satu fenomena yang jelas.
praktis, saat itu saya tidak leluasa berponsel ria seperti sekarang. impactnya, saya jadi lebih sering membaca, belajar, mereview materi kuliah, dan kegiatan lain yang lebih bervariasi. saat itu, salah satu teman saya yang tentunya sudah punya smartphone terlihat sangat addict dengan ponselnya. Saya melihatnya selalu menggenggam ponsel ke mana pun ia pergi. dan saya -pada saat itu- menganggapnya sebagai perilaku yang abnormal.
beberapa tahun setelah saya punya smartphone, saya pun menyadari perilaku abnormal itu juga kini saya miliki. menghabiskan berjam-jam di smartphone. menatap layar seperti tak berkesudahan. ponsel digenggam mulai saat memeriksa jam di pagi hari hingga low-bat di malam hari untuk kemudian ‘terpaksa’ harus diisi ulang.
dulu saya menganggap teman yang mengikuti tren dan gosip di dunia maya merupakan perilaku tak berguna. tapi sekarang? saya ada di posisi teman saya itu. semakin kemari, semakin saya rajin memantau lini masa media sosial. entah untuk tujuan apa.
kebebasan saya mengakses berbagai tempat di dunia maya seperti menghadapkan saya pada sebuah pintu ke mana saja. pintu yang setelah saya membukanya, ada banyak pintu-pintu lain yang tak kalah menarik untuk dibuka. pintu yang membawa saya pada dunia tak berbatas.
media sosial menjadi shortcut pengisi waktu. media penghibur. komunikasi. media sosial menawarkan banyak aspek yang sulit kita temui di dunia nyata. nggak bisa traveling? yuk, nonton vlog traveling aja. gabut? kebetulan, ada artis A kesandung kasus, ikutin deh.
keterikatan saya pada media sosial semakin menjadi-jadi. di masa lalu, saya menghapus Path jauh sebelum media sosial ini tiada. saya pun dulu sangat aktif di Facebook, tetapi kini sudah tidak lagi. Twitter saya punya, tapi saya onggokkan begitu saja, dikunjungi namun jarang sekali. praktik digital minimalism mulai saya jalani.
the one and only social media which distracts me a lot is instagram. ya, Instagram memberikan banyak informasi untuk saya. dari sekedar menjaga keterikatan dengan teman-teman di sana, hingga (yang lebih sering) scrolling dan menerima apa yang disuguhkan beribu foto dan caption.
visual dan verbal yang begitu memikat, pikir saya. hingga tak jarang saya kerap menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk sekedar ‘menghabiskan’ Instagram story orang-orang. atau melihat-lihat bagian eksplore yang maha dahsyat tidak berkesudahan.
demi itu, secara tak disadari, saya menyingkirkan hobi saya. saya menjadi sedikit menulis. semakin jarang membaca buku. tidak berkomunikasi dengan benar. hingga menggerus waktu tidur saya. at that time, saya menyadari bahwa bukan lagi saya yang mengontrol apa yang ingin saya lakukan, melainkan kesenangan saya pada media sosial yang mengontrol saya.
hingga tiba suatu waktu yang terjadi belum lama ini, saya merasa kebiasaan saya itu tidak lagi benar. saya memutuskan puasa Instagram untuk waktu kira-kira sebulan lamanya. lalu untuk urusan pekerjaan dan menghubungkan saya dengan beberapa kolega, saya memakainya lagi.
untuk mengimbanginya, saya pun memutuskan untuk membeli paket baca di Gramedia Digital. memungkinkan saya untuk mengasup informasi yang bukan dari media sosial. saya mengajak diri saya untuk menghidupi hobi lama saya.
namun, niat mulia itu tidak ujug-ujug berjalan baik. saya kembali terdistraksi. untuk fokus pada tulisan yang saya baca, rasanya sulit. ada postingan instagram yang belum saya lihat. atau konten di Youtube yang belum saya tonton hingga selesai. drama korea dan film yang berderet di wishlist. semua hal yang bisa saya gapai melalui internet, nyatanya mendistraksi saya begitu kuat.
saya lalu sadar, seberat itu yang saya alami demi berjarak sejenak dari lini masa. ibarat puasa, saya justru lebih craving that digital things daripada sebelum saya berpuasa. seperti anak kecil, semakin dilarang, semakin saya menginginkannya.
puncaknya, hari ini, paket internet saya mendadak habis tanpa saya ketahui. WiFi tiada. teman yang bisa saya pinjami internet (tetring) masih tidur pulas. jadilah saya benar-benar tidak bisa mengakses apapun.
harus begitu dulu, sampai saya bisa menikmati bacaan yang tadi tidak saya pahami. ternyata dengan ketiadaan distraksi yang absolut, saya baru bisa mencerna tulisan demi tulisan di aplikasi baca yang sedang saya asup.
ketika ponsel saya terhubung dengan internet, maksimal 10 halaman bisa saya habiskan sebelum kemudian saya bosan dan memilih membuka pintu menarik lainnya. ketika internet tiada, saya ternyata dapat melampaui 50 halaman. sungguh semakin aneh diri saya hehehe.
dunia maya ternyata mengambil tak kalah banyak daripada yang ia berikan pada saya, dan mungkin juga anda.
semoga setelah ini laku hidup bijak ber-media sosial mampu saya praktikkan lebih lagi.