Aku menamai kisah mereka sebagai kisah satu hati dua kehidupan. Sebab mereka terpisah, berjauhan, tak saling bertemu lagi dan yang pasti mereka memutuskan untuk tidak bersama.
Entah mengapa aku juga tak mengerti. Yang ku tau mereka tetap saling mencintai, tapi hidup mereka terpisah, jauh sekali, hingga seakan untuk saling mengingat saja, sangat tidak mungkin. Tapi samar-samar, nama mereka satu sama lain tersimpan dalam memori paling rapi di tempat paling indah di semesta ingatan paling sunyi. Ia selalu dikunjungi, hanya untuk membuat debaran hati yang syahdu dengan irama nadi yang meneduhkan. Lalu sambil memeluk dada, mereka berkata "Ternyata rasa itu masih sama, aku menyukai ini dan aku berulang kali jatuh cinta dengan kadar yang sama. Aku menyukai perasaan ini, sekali lagi aku menyukainya".
Sering mereka hendak memulai kembali, menyatukan kehidupan mereka. Sebab hanya kehidupan yang tak ingin menyatu, hati mereka sejak lama masih satu dan tak mungkin terbelah. Namun usaha itu selalu gagal, ada trauma yang ada di antara mereka. Selain itu, ada pula latar belakang hidup yang tak mungkin menjadi satu, meskipun sangat mungkin untuk dirembukkan. 'Aku takut' kata si pria 'cinta itu harus setara' katanya tersedu-sedu.
Beberapa waktu yang lalu. Setelah membuat sebuah postingan kecil di akunnya, ia tiba-tiba mendapat pesan dari si wanita. Hatinya berdebar, ia tersenyum. Ia seolah hidup kembali. Tetapi lagi-lagi pembatas itu masih di sana, ia tak ingin melukai siapapun dengan menghancurkan atau bahkan melompatinya.
"mengapa kamu tak kembali?" Tanya si wanita singkat.
"jangan, aku tak ingin merindu lagi, biarkan aku pergi. Kamu tau betapa lelahnya aku membuat rindu ini tenang setelah sekian bulan lamanya mengamuk tubuhku".
"Ya.. Tapi kamu memang jahat, mengapa kamu tak membawa semuanya. kamu jahat karena meninggalkan separuh di sini".
"Kini aku harus apa?" Tanya si wanita kembali.
"Biarlah kita begini saja. Biarkan saja masa lalu terbawa hembusan angin hingga menghilang".
"Tapi aku ingin tau, apa kamu rindu juga denganku?" Tanya si pria.
"Memang aku siapa bagimu hingga bisa merindu seenaknya?".
"Aku ingin tahu, apakah kamu masih manusia atau robot. Berhati ataukah tidak".
"Kesal. Mana mungkin aku lupa, mana mungkin aku tak rindu".
"Aku sempat yakin bahwa kamu melupakan ku. Karena itu aku sebisa mungkin menghilangkan jejak ku darimu agar kamu tak kembali ingat".
"jika begitu, aku akan melupa, tapi bukan tak lagi merindu"
"iya aku juga, yang pasti teruslah berjalan, dan jangan balikkan badanmu. Aku takut saat itu aku berada di belakangmu dan tak kuat melihat matamu lalu aku tanpa sadar memelukmu. Hapus juga jejakmu, agar aku benar-benar kehilangan jejak saat ingin mencarimu".
"kita penjahat, membunuh kehidupan yang sejatinya akan bahagia".
Setelah itu, keduanya terdiam. Lalu pesan itu menjadi kalimat terakhir sebelum semua rindu itu meronta-ronta.
-------------------------------
Bagaiman menurutmu? Apa yang mereka sembunyikan? Apa trauma yang mereka alami?
Aku sempat bertanya namun si pria selalu berkata, 'aku enggan mengatakannya'. Mungkin aku saat bersamanya seperti saling mengikat satu sama lain hingga kehilangan kebebasan. Aku ingin ia terbang bebas demikian denganku.
"Tapi aku memastikan, bahwa saat itu kami masing masing membawa satu hati yang sama, meski berada dalam dua kehidupan yang berbeda" katanya melanjutkan sebelum terdiam dan tersenyum.