Some redesigns of my two ocs ! Izzah and Mike :)

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Australia
seen from Singapore
seen from United States
seen from United Arab Emirates
seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Indonesia
seen from Germany

seen from Germany
Some redesigns of my two ocs ! Izzah and Mike :)
Dawuh Bu Nyai
1) Santrinya ummi-e musti jadi perempuan yang nurut dalam taat. Syurga perempuan itu gampang meski hanya di rumah saja. Asal bagus sholat dan akhlaknya, insyaAllah teridhoi Allah.
2) Perempuan itu lebih baik malu daripada berani. Malu bila dimiliki oleh laki-laki itu baik, tapi malu bila dimiliki oleh perempuan itu jauh lebih baik.
Teman saya yang seorang santri beberapa kali menyampaikan itu, apalagi saat mentoring. Dia adalah mentor bagi saya dan teman-teman liqo’ saya. Dia juga pernah mengatakan demikian saat mentoring:
Sejak Mbak mondok, Mbak belajar banyak dari ummi (istrinya abah yai). Ummi itu pinter banget jaga izzah dan iffah.
Ummi itu punya rasa malu yang tinggi. Ummi itu nurut banget sama abah yai. Ummi selalu ada di dalam rumah, beliau gak berani keluar tanpa ijin dari abah yai. Ummi gak pernah mau menemui dan ‘meladeni’ tamu laki-laki, siapapun itu orangnya. Kalo ada tamu laki-laki dan kebetulan abah yai gak ada di rumah, ummi pasti nyuruh santri laki-lakinya buat keluar ‘meladeni’ tamu itu.
Ummi punya banyak amanah di luar rumah. Beliau banyak undangan buat mimpin diba’an, ngisi ceramah, dakwah. Tapi, apa yang dikatakan abah yai? “Udah, semua tugasmu biar aku ambil alih aja. Kamu di rumah aja, urusin dan jaga anak-anakmu, jaga rumah, jaga kemuliaan dirimu, dan jaga kehormatan keluarga.” Maka tugas ummi yang tadinya fardu ‘ain jadi fardu kifayah.
Contohlah juga Bunda Khadijah. Beliau itu wanita yang paling pintar menjaga kesucian dan kehormatan dirinya. Saat beliau menjadi istrinya Abu Halah dan Atiq, beliau adalah wanita yang paling pintar menjaga kesucian dan kehormatan dirinya. Saat beliau menjadi janda, beliau adalah wanita yang paling pintar menjaga kesucian dan kehormatan dirinya. Pun saat beliau menjadi istri Rasulullah, beliau juga wanita yang paling pintar menjaga kesucian dan kehormatan dirinya.
Berteman sama cowok itu boleh, tapi jangan sampai temen cowok kita itu mengerti banyak hal tentang diri kita. Misal mereka sampe tau warna kesukaan kita, makanan kesukaan kita, kepribadian kita, rasa masakan kita, apa yang kita sukai, apa yang kita gak suka, dan masih banyak lagi. Kenapa temen cowok kok gak boleh tau? Cukup suami kalian aja yang berhak tau tentang diri kalian. Masak kalian tega kasih suami kalian sisa-sisa?
Saya menunduk dan malu. Sudahkah saya sepintar itu menjaga diri??? Masih “hobi kelayapan” gara-gara amanah di organisasi. Dan gak bisa dipungkiri, teman-teman di organisasi (entah cowok/cewek) pasti tahu banyak tentang kepribadian saya. Lha proses seleksinya aja melibatkan test kepribadian dan saat menjalaninya sering kerja bareng mereka. Heu heu heu~
Jember, 30 Mei 2016
Tulisan : Izzah (Harga Diri)
"Setiap kebaikan itu nasehat, untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dan usahakan untuk setiap nasehat itu tidak melukai yang lain, maka jika kamu menegur jangan sampai menghina, mendidik jangan sampai memaki, dan memberi jangan sampai mengungkit."
Memaksa dan dipaksa itu sama-sama tidak enak, apalagi yang kamu paksa adalah hati. Tapi tidak mengapa jika yang di tuju itu suatu kebaikan, untukmu dan untuknya. Semisal memaksa untuk menjaga diri dari berkomunikasi dengan lawan jenis pada perihal yang tidak penting. Menghindari fitnah dan pintu-pintu jatuh hati sebelum masanya.
Ada yang mengatakan naluri wanita itu lebih nyaman curhat dengan laki-laki, dan naluri laki-laki yang lebih nyaman curhat dengan wanita. Sob, yang benar adalah naluri setiap hamba untuk curhat pada Rabbnya, tapi jarang disadari karena memang yang lebih diutamakan kedekatan dengan manusia ketimbang Allah, benarkan ? Yang menghidupkanmu Allah, maka Allah pula yang akan menghidupimu, tapi semua akan buram jika yang dicari bukan Dia, tapi hati manusia yang tidak pernah mungkin kamu dapatkan selamanya.
Jika setiap hasil harus ada harga perjuangannya, maka untuk berhasil menjadi wanita yang terjaga izzahnya dan laki-laki yang terjaga pendiriannya apa tidak ada harganya ? Harga itu adalah perjuanganmu menjaga izzahmu, harga dirimu.
Selamat dan semangat menjaga hati juga harga diri.
@jndmmsyhd
Neng, Kita harus saling menjaga izzah masing-masing. Neng jagain izzah Aa, Aa jagain izzah Neng
Aa
PEREMPUAN DAN FOTO
Assalamu’alaikum, happy people!
Kali ini saya akan mencoba berbagi pengalaman dan mengemukakan apa yang menjadi pemahaman, persepsi, serta cara pandang saya. Tulisan ini berisi tentang perempuan dan foto yang di-upload di sosial media.
Semua berawal dari awal tahun 2014… Saya yang saat itu masih berusia 17 tahun dengan segala hal-hal khas remaja akhir. Saya punya sosial media, messenger yang cukup lengkap, dan termasuk suka mengganti foto profil walau tidak sering. Foto-foto bersama teman, foto saat sedang liburan, atau foto saat sedang tidak ada acara penting (cuma selfie) menjadi foto profil saya kala itu. Sibuk memilah dan memilih yang mana yang cukup bagus untuk dijadikan foto profil agar saya terlihat cantik. Manusiawi, kan?
Mari sejenak kita telisik tentang rasa ingin eksis. Rasa ingin diakui, rasa ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa diri ini ada, merupakan hal yang normal, merupakan hal yang umum terdapat pada diri manusia. Justru seseorang yang tidak ingin menampilkan dirinya dalam arti tidak terlalu merasa butuh untuk diakui dalam masyarakat, sosial, atau publik, menjadi hal yang perlu dikhawatirkan. Orang-orang yang menarik diri secara berlebihan atau bahasa sederhananya anti sosial menjadi hal yang perlu dipertanyakan.
Jadi, upload foto adalah hal yang normal.
Pertanyaan selanjutnya, apakah upload foto memberikan manfaat seutuhnya?
---
Kemudian saya berfikir; “Kok rasanya capek juga ya pilah-pilih foto mana yang akan dijadikan foto profil. Rasanya ketika ada yang bilang cantik atau komentar bagus merasa senang, tersanjung, tapi sebenarnya ngga mendatangkan apapun untuk saya. Hanya sekedar komentar. Sudah.”
Pemikiran-pemikiran tersebut juga muncul seiring saya berproses dalam hal pakaian – lihat tulisan saya sebelumnya. Saya jadi merasa sebenarnya upload foto diri saya pribadi tidak terlalu membuat saya merasa banyak mendapat manfaat. Bahkan, untuk wanita, upload foto berpotensi menjadi fitnah (ujian) bagi diri sendiri. Terlebih banyak bahaya yang saya ketahui. Misalnya adalah foto disalahgunakan, dicrop lalu ditempelkan pada hal kurang baik oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Atau foto saya dipandang-pandangi lelaki entah siapa di luar sana. Iya jika lelaki tersebut hanya memandang foto dengan biasa, jika dengan diiringi syahwat? Bisa bisa, foto kita dijadikan media laki-laki di luar sana berfantasi. Ngeri!
Kemudian saya mencoba untuk berhenti upload foto di sosial media, messenger. Stop pasang foto profil dengan wajah saya sendiri. Ada hal yang “menarik” yang saya temukan. Ada teman yang menyadari kenapa foto profil saya tidak memasang wajah saya sendiri. Saya iseng menjawabnya dengan “nanti banyak yang naksir”. Candaan semata.
Cerita “menarik” lainnya adalah; ada salah seorang kenalan laki-laki yang baru saja berteman dengan saya di BBM lalu menyadari bahwa saya tidak memasang foto dengan wajah saya. Kemudian dia setengah memaksa meminta dikirimkan foto dengan wajah saya. Tentu saja saya ngeri. Nanti kalau wajah saya dipandang-pandangi terus menerus atau foto saya disalahgunakan bagaimana? Saya juga sedang berhijrah, sedang berproses menuju ke arah lebih baik, dan saya mau menjaga diri saya termasuk lewat foto.
Namun saya juga sempat upload foto di Instagram jika ada hal-hal tertentu. Tidak close up wajah saya dan saya kunci akun saya agar hanya teman-teman saya yang dapat melihat foto saya. Biasanya saya upload foto mengenai momen tertentu dengan wajah yang jauh dari kamera.
Namun belakangan, sejak kurang lebih 3 bulan lalu, saya semakin berfikir sebenarnya upload foto di Instagram ini tujuannya untuk apa. Saya khawatir jika ada komentar-komentar memuji, akan menjadi ujian untuk saya pribadi. Saya khawatir pujian yang ada akan menjadi saya giat mengupload lebih banyak lagi, dan runtuhlah sedikit demi sedikit izzah serta iffah saya sebagai perempuan. Dan sekalipun wajah saya terlihat jauh, tidak jelas, tetap berpotensi timbulnya fitnah (ujian).
Dear, perempuan…
Mari kita mulai dengan yang tidak menutup aurat di foto…
Auratmu tertampakkan, cantik. Terlihat di foto. Tiap mata yang memandang fotomu dengan aurat terbuka, kau akan mendapat dosanya. Karena di foto pun, auratmu tertampakkan, sama saja seperti orang tersebut melihat dirimu menampakkan auratmu secara langsung. Padahal, Allah telah perintahkan kamu untuk menutup auratmu, cantik.
Lalu selanjutnya, untuk kamu yang sudah menutup aurat di foto…
Pujian yang kamu dapatkan akankah membawamu ke surganya, atau malah semakin melemahkan imanmu? Apakah dengan dirimu menutup aurat di foto lantas kamu sudah merasa aman dan merasa tidak akan timbul hal-hal aneh selanjutnya? Dunia ini semakin lama semakin mengerikan. Semakin berbahaya. Semakin banyak kejahatan di luar sana – bahkan pelet hanya dengan menggunakan foto!
Saya bukan wanita yang telah sempurna menjaga diri saya pribadi. Saya pun masih memiliki kekurangan dan kelemahan. Namun saya berusaha memperbaiki diri saya.
Closing statement dari saya adalah: tidak upload foto tidak membuatmu kurang bahagia. Kebahagiaan dalam sebuah momentum, tidak sesempit dimaknai dengan membagikannya melalui sosial media.
Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah datangnya dari saya pribadi.
Mohon diambil yang baiknya, yang kurang baik silahkan ditinggalkan.
---
Dari yang masih belajar,
Aidah Farras Alya | Jakarta, 2 Juli 2017 // 8 Syawal 1438H.
直區公正黨: 續努力改革鬥爭火炬
直區公正黨: 續努力改革鬥爭火炬Source: Sin Chewhttps://www.pressreader.com/5776/20250508/281762750140872
Menjaga Diri
Dua hari ini melihat video orang 'kecil' yang mengharukan. Satu, malu-malu dan ragu (?) dalam antrian vaksin dikarenakan tidak memiliki gawai sehingga tidak bisa mendaftar. Yang kedua, yang berjualan agar-agar dan hanya memiliki uang 5 rb untuk membeli makan di resto padang.
Yang saya syukuri adalah betapa banyak orang baik yang masih peka terhadap lingkungannya, yang satu kemudian divaksin dan yang satu diberi makan secara gratis. Kemudian, dari orang 'kecil' tersebut ada persamaan yang paling mencolok yaitu soal adab dan harga diri.
Adagium dari "Kami memang miskin, tapi kami punya harga diri" menyeruak di dalam ingatan saya. Sesuatu yang entah mengapa malah hilang dari diri mereka yang memiliki kelapangan materiil. Seperti dalam salah satu 'prank' seseorang yang memberi uang kepada mereka yang mau menirukan tingkah laku binatang.
Hal tersebut menjadi pemicu munculnya rekaman memori dan pengajaran dari para guru dan juga ayah-ibu, bahwa manusia memiliki suatu hal yang bernama izzah dan juga rasa malu. Yang apabila hilang salah satunya, maka tinggal tunggu masa rusaknya manusia tersebut.
Sedikit berbagi kisah terkait harga diri. Ada seorang ulama yang tidak mau menerima bantuan covid dari sembarang orang, katanya "Saya tidak mau menerima bantuan dari orang yang tidak jelas sikapnya kepada agama ini". Ada lagi para guru ngaji dan kyai di desa yang tidak mau mengambil qurban lewat kupon, malu katanya.
Ah, moga-moga kita selalu dilindungi Allah dari hilangnya rasa malu.