Bisu Abadi
Bagaimana kau menyukainya? Bagaimana bisa hatimu bertahan dengannya?
Rindu kau ramu setiap saat, dari detik ke menit berikutnya, dari menit menuju jam, dari jam menuju hari. Apakah kamu belum bosan? Suara jam berderit menyeret jarumnya mengikuti alunan semesta. Sesekali karena jengkel kau cabut baterai nya, kau menyangka dengan jarum jam itu berhenti bergerak, dunia pun tak lagi berputar. Kau, ah alangkah kesalnya...
Cahaya senja berpendar menyusup ke dalam ruangan mu. Kau hanya diam di sana, seperti tak bernafas, sambil sesekali membolak-balik kertas dan buku-buku di sekeliling mu. Saban waktu, kau merajut hari demi hari tanpa henti. Sudah tak perdulikah kau dengan dirimu sendiri?
Kau begitu layu, bibirmu yang mengering, tubuhmu kurus, kulit yang semakin pucat. Seperti mayat yang tak pernah hidup lalu menjelma bisu abadi.
Ceritalah!!... Jika beban di pundak mu sedemikian berat hingga membuatmu membisu, lepaskan beban itu sejenak, carilah kawan untuk membantumu. Sungguh, kau tak hidup sendiri.
Lalu, Jangan lagi kau Kurung dirimu di tempat gelap itu, yang cahaya pun masuk dengan enggan, udara pun seperti terpenjara di dalamnya. Keluarlah..!
Namun aku terus saja terheran-heran. Apa cinta selalu membuat mu demikian, apa rindu kerapkali menyiksa jiwamu?..
Dia tiba-tiba menatap tajam, aku terperanjat, ia layaknya mayat yang bangkit dari kematian. Lalu dengan terbata-bata ia berkata; "Jangan angkuh dihadapan cinta, kau hanya belum merasakannya, kelak jika kau mengalaminya, kau akan bisu sepertiku, lalu hanya sakit dan sesak yang kau rasakan dihatimu".
Membisu..














