Gudang XVIII
/i/
senyum yang kau dapat dari penaklukan itu adalah tanda bahwa kebesaran yang dipasung telah menguap. jutaan tahun, seandainya, aku selalu diam dan dosa-dosaku pada semut bisa hilang lalu tak tercatat, maka izinkan. beri kemudahan bagiku agar selalu telaten memandangi semenajung-semenanjung pantai-pantai cekungan-cekungan teluk-teluk gurun, hidu senyum ranum milikmu, serupa mangga tak berdaging
tapi, ada sebuah rasa manis, tipis berkeliaran di kulit-kulit senyap-senyap buat aku harus diam memeram rasa yang akan melilit
/ii/
kau terus berbuah aku hanya lihat diri dibelah kau bisa buat orang duduk-duduk aku selalu teluh para pengaduk
di suatu gedung dalam anganku ada sebuah eksekusi mati
para korban perang melupakan aturan, meninggalkan bangunan, dan menghancurkan batasan-batasan yang menuntut kita-kita untuk bisa sejenis, cocok bentuk
“apa dosanya hingga ia harus menemui kematian sebelum genosida asmara yang dilakukannnya yang gempar di seluruh dunia selesai diusut?”
“ia telah jadi budak karena tinja ia lahap, kencing ia reguk. ia adalah satu-satunya yang selamat
selama amuk thermoplyae jadi hantu baja pada hari ini.”
/iii/
aku bisa bahas bawang, garam-garam, juga kemiri-kemiri, tanpa harus berbelit-belit menutupi bunyi mulut yang akan sampai tapi cinta, yang telah sebanyak bintang-bintang mati di alam semesta teramati ini, apakah juga akan meniru bintang : hidup selama jutaan tahun, menuntun nasib nenek moyang, dan titah awan-awan agar tak terlalu lembut pagi para perindu
/iv/
(bolehkah kau kusebut ‘cintaku’ ‘pabila pantulan suaramu tak berdebum di dekatku dan jarak kita begitu dekat, hingga aku nekat mengucapkan, “selamat tidur!” lewat perhitungan beribu-ribu tahun)
ini bukan sebuah pernyataan, atau bendera kalah. angin ada di atas tanah, topan lebih rusuh dari gempa pemancung, dan rahasia-rahasia tak selalu dinyatakan lewat sebuah pisang
/v/
“boleh aku berkenalan denganmu?”
“tentu.”
“boleh aku meminjam namamu dan memasukannya ke dalam musium?
“tentu. dan kau akan tanya, ‘apa yang tak boleh aku ketahui?’”
“tepat.”
“namamu.”
/vi/
“apa sarapanmu pada hari ini?”
“ketakutan”
“bukankan nikmat?”
“bukankah ia tidak lebih membunuh dibanding perasaan yang terduduk dalam bunker baja penangkal nuklir?”
Love will find a way. Darlin', love is gonna find a way, Find its way back to you. Love will find a way.*
sebuah lagu, dinyanyikan para peladang —apa mungkin sawah-sawah perlu pupuk dari saskatoon, di kanada sana yang jauh, amat jauh dari dengkurmu yang kukhayalkan beratus-ratus ribu menit?
/vii/
kita akan berakhir, kau kata
dan aku kata, kita akan mahir
berjalan-jalan di puncak salju bersama peta-peta digital kolase alam, tempat, rumah-rumah yang tak pernah kau datangi
aku ingin disitu sama kau tapi bukan kau-kau yang lain
05, abad ke-21 (*petikan lirik lagu Love Song dari Tesla)










