Maaf adalah jembatan yang dibangun dari kerendahan hati, bukan tanda kalah, melainkan cara pulang. Menerima adalah kedewasaan yang menenangkan arus, agar dua sisi tak terus terpisah oleh gengsi.
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from Saudi Arabia
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from Poland
seen from India

seen from Israel
seen from United States
seen from United States
seen from United States
Maaf adalah jembatan yang dibangun dari kerendahan hati, bukan tanda kalah, melainkan cara pulang. Menerima adalah kedewasaan yang menenangkan arus, agar dua sisi tak terus terpisah oleh gengsi.
Not Friend (Bukan Review Film)
Rasa ini sebenarnya sudah lama ingin kutuliskan. Tapi apa daya dengan kemalasanku. Malam ini, dengan backsound suara teriakan penonton bola, akan kutuliskan sebuah rasa.
Sebelumnya, aku akan berbicara mengenai alasan tulisan ini mengangkat judul film dari negara Thailand, "Not Friend". Seperti judulnya, tulisan ini bukanlah review film. Tulisan ini berisi bagaimana perasaanku mendengar seorang teman telah tiada. Jika pernah menonton film Not Friend, kurasa kalian telah memahami maksudku.
Aku ingat, saat itu adalah 1 tahun yang lalu.Temanku, sebut saja si A meninggal karena kecelakaan. Almarhumah adalah temanku sedari SD. Kami tidak dekat. SMP, kami di sekolah yang berbeda. Kemudian saat SMA, kami bertemu kembali di sekolah yang sama. Sungguh, kami tidaklah dekat.
Ketika SD setelah kuingat kembali, aku memang pernah mengobrol dengannya. Cukup sering, mungkin. Dalam ingatanku, kami sering mengobrol mengenai hal-hal mistis. Seperti, lele berkepala manusia, pipi bolong akibat menyiram ular dengan air panas, dan lain-lain. Saat SD di mataku ia adalah sosok yang asik untuk bercerita hal-hal yang berbau mistis, ia memiliki segudang cerita. Perempuan di kelasku pernah terbelah menjadi dua kubu, kami berada di kubu yang berbeda. Tapi percayalah, meskipun kami berada di kubu yang berbeda, tidak ada masalah di antara kami berdua. Ya, karena kami memang tidak pernah dekat.
Singkat cerita ketika SMA kami bertemu, namun selalu di kelas yang berbeda. Dalam tiga tahun, kami tidak pernah sekelas. Jangankan sekelas, mengobrol dan menyapa saja tidak pernah. Apakah pernah bertemu? Pernah, beberapa kali. Sekolahku tidak sebesar itu hingga memungkinkan dua makhluk tidak pernah bertemu. Ketika kami bertemu, di antara kami tidak ada yang memulai untuk menyapa duluan.
Kau tahu? Kepribadianku sangatlah angkuh kurasa. Aku sangat ingin menjadi seseorang dengan jiwa sosial yang tinggi. Tapi itu hanyalah keinginan belaka, nyatanya ketika bertemu teman yang tidak terlalu dekat aku seperti kebingungan. Dan kurasa, kebingungan itu terasa angkuh bagi orang lain. Aku tidak menyangkalnya.
Aku bingung ketika bertemu teman-teman lama yang tidak begitu dekat. Bingung memulai pembicaraan. Sangking bingungnya, aku ragu itu adalah kenyataan.
"Apa di depanku benar-benar teman lamaku?"
"Saat ini kah waktunya kami bertemu?"
"Mengapa semua orang seperti sudah akrab, hanya aku kah yang terasing di sini?"
"Mengapa hanya aku yang belum bisa mengalir mengikuti pembicaraan mereka?"
Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu terus berputar di kepalaku. Maka dari itu, aku (sedikit) benci perkumpulan dengan teman (tidak dekat) lama.
Kembali mengenai perasaanku 1 tahun yang lalu, aku merasa seperti ketinggalan kereta. Waktu di mana aku dapat menyapanya, mengobrol dengannya, meminta maaf kepada nya telah melaju dengan kecepatan penuh. Aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak dapat mengejar waktu itu. 3 tahun yang kulalui di SMA seakan pudar, hambar, dan tak bermakna. Beberapa kali reuni SD dan SMA diadakan, terasa seperti tiket bioskop yang kulewati karena ketiduran.
Periode SD yang kulalui sangatlah mungkin menciptakan kesalahan-kesalahan yang kulakukan terhadapnya. Lalu periode SMA dan setelahnya adalah waktu di mana aku seharusnya dapat menyapanya dan mengobrol dengannya. Dan mungkin ketika aku telah berteman dengannya, ia akan memaafkan kesalahan-kesalahan yang tak sengaja telah kulakukan. Tapi apadaya, aku tidak menyapanya waktu itu.
Kereta itu telah melaju kencang.
Memang benar apa kata pepatah. Waktu adalah uang.
Pesan: untuk kalian yang membaca tulisan ini, kumohon doakan temanku dengan segala kebaikan.
Maaf yang tak Tersampaikan
Berdamai dengan keadaan dan menerima keadaan itu sendiri mungkin adalah jalan terbaik dalam menghadapi persoalan yang berada di ujung tanduk. Mungkin sudah benar bahwa hal-hal mustahil tidak dapat diubah. Maafkan diriku yang berpikiran kekanak-kanakan. Diriku hanyalah manusia biasa dan mungkin kamu menyadari bahwa selama ini diriku selalu melarikan diri ketika mengambil sebuah keputusan yang penting. Terlepas dari itu semua, diriku hanya menginginkan satu hal yaitu kebahagiaan buat dirimu.
Terkadang tidak selamanya keadaan itu bisa membahagiakan. Maafkan diriku yang ternyata tidak sanggup menghadapi persoalan di ujung tanduk ini. Diriku ternyata lemah dan tidak berdaya hingga berujung malu dilihat dunia. Rasanya seperti ingin menghilang dari dunia ini, tetapi itu sama saja dengan melarikan diri dari keadaan. Diriku hanyalah manusia bodoh seperti joker yang menebar kebahagiaan.
Maafkan aku yang terkadang tidak peka padamu. Mungkin dirimu merasa kesal karena ketidakpekaan diriku. Maafkan aku yang belum bisa memahami dirimu secara mendalam. Maafkan aku yang mungkin secara tidak sengaja maupun sengaja telah menyakiti dirimu. Mungkin bisa dibilang aku menjadi orang jahat, tetapi sekali lagi maaf, maaf dan maaf. Mungkin inilah konsekuensi untuk diriku yang sudah mengambil keputusan. Siap tidak siap harus terima.
---------------------------------------------
Ps: Raito menjadi terdiam setelah membaca isi serpihan surat tersebut. Hanya bisa menangis dalam hati dan merasa sesak sambil menatap langit.
Berani minta maaf itu bukan tentang siapa yang lebih tua atau siapa yang lebih muda, tapi tentang siapa yang salah. Kalau yang tua salah, yang tua itu yang minta maaf, bukan menyudutkan yang muda agar meminta maaf. Padahal letak kesalahan ada pada yang tua. Terkadang kita perlu mendobrak sesuatu yang tampak biasa di sekitar kita, padahal itu keliru. Berat memang, apalagi masalah keberanian meminta maaf ini. Seolah-olah meminta maaf adalah gengsi, padahal itu mulia sekali.
--Robi Afrizan Saputra
Jadilah PEMAAF
Kutipan tulisan
“Mengapa aku tak membalas perlakuanmu ?? Sebab jika aku membalas perlakuanmu dengan cara sebagaimana kamu memperlakukanku, maka aku tahu itu akan sangat menyakiti hatimu. Maka semoga allah memaafkanmu” (ustadz Berik said hafidzahullah)
Menjadi pemaaf memang tidak mudah. Terkadang ketika kita sudah memaafkan kesalahannyapun tetap saja masih ada rasa jengkel yang membuat rasa maaf tadi seperti tidak ikhlas.
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahala atas (tanggungan) allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim. (Terjemahaan surah Asy-Syura:40)
Pernah bertemu dengan orang yang selalu memandang sebelah mata?
Pernah bertemu dengan orang yang selalu memandang hina dirimu?
Pernah bertemu dengan orang yang suka mengada-mengada tentang dirimu?
Pernah bertemu dengan orang yang suka membalikan fakta?
Pernah bertemu dengan orang yang suka menjelekkanmu?
Ya kurang lebih begitulah...
Pastinya hari-hari yang kita lalui dalam proses kehidupan, akan bertemu dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan ekspetasi kita.
Mungkin saja dari keluarga kita sendiri, atau bahkan saudara sendiri. Yaaa mungkin bukan keluarga inti, tapi keluarga jauh!!
Atau saja dari teman sendiri, bahkan orang yang tidak layak dianggap teman pun bisa melakukan hal tersebut.
Atau bisa saja dari orang yang tidak dikenal :)
Masyallah :) allah akan menguji keimanan seorang hamba sesuai dengan kemampuannya.
Ketika kita sedang diuji seperti hal yang diatas, berarti tandanya allah tau kalau kita adalah hamba yang bisa melewatinya. Ketika kita sudah melewati hal tersebut tandanya iman kita akan naik satu tangga dari sebelumnya. Dengan proses tersebut lama kelamaan kita akan belajar menjadi orang Pemaaf :)
Memang hal terbaik untuk melawan semua perbuatan orang lain kediri kita adalah DIAM. Menjadi pendiam menurut aku pribadi adalah salah satu cara untuk menenangkan keadaan.
Semakin kita berusaha untuk membalas, maka sama halnya kita sama seperti dia !!!
Lantas harus bagaimana??
Cukup diam, dan lihat saja rencana tuhan untuk kedepannya :)
*allah pengatur skenario terbaik, tidak usah repot-repot membalas, biarkan allah yang bekerja, kita cukup berserah diri saja
*semakin mendekat ke allah, maka akan semakin tersusun rapi skenario hidupmu dibuat allah.
Al-imam ibnu hibban berkata:
“ yang wajib atas orang yang berakal adalah selalu berlapang dada dan memaafkan ketika datang perbuatan buruk terhadap dirinya dari seluruh dunia, dalam rangka mengharapkan pemaafan dari allah atas berbagai kejahatan yang telah dia lakukan pada hari - harinya yang telah lalu”
Mari kita tutup Ramadhan ini dengan memaafkan sebelum diminta dan kembali pada amalan diri masing-masing~
Cuma mo ngingetin, bentar lagi lebaran. Biasanya ada momen maaf-maafan; entah itu dari si doi atau kita sendiri. Maaf setitik, rusak move on sebelanga wkwkwk gosa lebay! Namanya manusia banyak salahnya ya wajar aja minta maaf, gosa baper!
Kita tak pernah tahu kapan terakhir kali akan bertemu seseorang dan yang tidak kita inginkan mungkin adalah tidak sempat mengungkapkan perasaan, meminta maaf, berterimakasih dan mengucapkan perpisahan.
Ris sutanto
Selamat Lebaran ❤
Hari ini hari dimana orang-orang berbondong bondong saling meminta maaf dan memaafkan.
Hari dimana semua saling menyapa dan mengucap selamat lebaran.
Hubungan antar manusia terasa sangat erat dan penuh rasa hangat.
Memaafkan kesalahan orang lain dan meminta maaf atas kesalahan yang mungkin pernah dilakui pada masa lampau di hari kemenangan ini sudah biasa...
Namun di hari ini juga sudahkah kamu memaafkan dirimu sendiri? Ketika kamu sibuk meminta orang lain memaafkanmu, jangan lupa bahwa kamu harus jadi orang pertama yang memaafkanmu sendiri. Jangan lagi-lagi menyalahkan diri sendiri karena tak pernah sempurna ya?
Gapapa kalau kamu gak sempurna
Gapapa kalau kamu banyak salah
Gapapa kalau masih gak sesuai ekspektasi
Mohon maaf lahir batin ya dear self :)
Seoul, 25 Mei 2020