Padahal mungkin kamu telah lama menetap, hanya aku saja yang terlalu sombong untuk sekedar menyapamu, atau bahkan sekedar menandai keberadaanmu.
Satu kalimat yang bisa menggambarkannya dengan baik adalah hitam dalam putih-putih dalam hitam.
Sadarkah kita, ketika telah mencemari jiwa sendiri dengan kedengkian sesikit demi sedikit, tak jarang juga memupuknya dengan kuat. Atau menimpa amal-amal baik dengan dosa-dosa kecil yang berkelanjutan.
Belum lagi, soal bicara. Karena kemampuan ini memang seperti kemampuan 'bela diri' bisa digunakan untuk membela diri dan menyerang pertahanan orang lain.
Realitasnya, sistem kehidupan kita gak segampang prinsip bertahan hidupnya hewan, tapi soal kita sadar atau ngga.
Kadang-kadang kita sering lupa udah melakukan apa, shalat hanya sebatas gerakan ritual. Tanpa paham, merasuk ke hati membawa ketulusan diri ke langit.
Maka itu, sadar adalah kunci. Sadar bahwa kita disini sedang apa, untuk apa, dan untuk siapa.
Jangan sampai habits berupa apapun yang merupakan amal baik tidak diiringi dengan tata cara yang benar menurut syariat.
Akibatnya fatal, yang harusnya jadi amal kebaikan malah gagal karena gak memenuhi kriteria.
Biar selalu sadar, kita sendiri harus bisa peka sama alam sekitar, kondisi sekitar kita selalu bisa jadi warning untuk kita yang sering banget lupa.
Sebanyak mungkin tanamkan reminder dalam diri, biar kalau lupa daratan ngga tenggelam. Karena kalau udah tenggelam bakal susah ngajak ke daratannya lagi.
Sadar, bahwa Allah selalu melihat segala perbuatan. Malaikat Rakib dan Atid selalu sedia mencatat amal, serta kematian yang selalu mengikuti kemanapun kita pergi.