Mencintaiku, Kamu Tidak Pernah Bersungguh-Sungguh (Sebuah Kutipan)
Mencintaiku kamu tidak pernah bersungguh-sungguh.
Sepotong kalimat, yang aku kutip dari seseorang.
Kalimat itu, selalu saja terngiang.
Selalu memenuhi isi kepala.
Setiap kali, menatapmu. Atau sekedar mengingat parasmu.
Mencintaiku seadanya. Setidaknya, itulah yang dapat kurasa, dari geloramu.
Tak pernah terasa. Tak pernah terecap.
Kekurang-pekaanku? Bisa saja. Namun kecil kemungkinannya.
Bila mengingat sensitifitas jiwa.
Kamu mengutarakan. Sekaligus meniadakan.
Menajamkan tiap katanya, seperti menumpulkan di sisi lainnya.
Kamu tidak pernah berusaha. Bahkan untuk sekedar meyakinkan.
Membuat aku yakin, hal itu memang ada.
Bahkan mungkin, kamu tidak yakin bahwa hal itu memang ada.
Jadi biar saja. Setidaknya.
Dari apa yang sudah kita tawakan berdua.
Dari apa yang sudah kita tangisi berdua.
Ada hal yang aku percaya.
Kita, tidak pernah benar-benar nyata.