Tidak mengapa sekarang sendiri dulu. Bukankah memang syarat untuk bahagia itu tak semestinya berdua? Nikmati prosesnya.
seen from United States
seen from China
seen from Australia
seen from Taiwan
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from Türkiye
seen from China

seen from Mexico

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
Tidak mengapa sekarang sendiri dulu. Bukankah memang syarat untuk bahagia itu tak semestinya berdua? Nikmati prosesnya.
Menentukan Pilihan
“Jika nanti ada yang bertanya padamu tentang jalan yang kamu ambil, tentang pilihan yang kamu tetapkan, juga tentang alur cerita yang kamu buat dan ikuti, katakan saja bahwa setiap darimu pasti membutuhkan seseorang yang harus menemani, membutuhkan sebuah tujuan yang harus dicapai dan keberanian untuk bertanggung jawab pada semua pilihan”
Setiap darimu pasti akan membuat pilihan hidup, sadar ataupun tidak. Bahkan, dengan kamu mengomentari setiap pilihan hidup orang lain, secara tidak langsung kamu sudah mengambil pilihan untuk itu. Sebenarnya yang terpenting dari menentukan pilihan bukan hanya dilihat dari kebutuhanmu saja, tapi juga dari sekitarmu entah keluarga, sahabat, atau bahkan orang asing yang berada dihadapanmu.
Menentukan pilihan tidak semudah berangan bahwa kamu akan nyaman jika menjalaninya, atau bahagia jika bersamanya. Tapi lebih dari itu ada sisi sosial yang harus di sentuh, bagaimana dengan pilihanmu nanti akan memberikan manfaat untuk dirimu juga sekelilingmu, juga bagaimana dengan pilihanmu nanti akan membuatmu lebih bisa bermuamalah dengan baik pada keluarga, kerabat, juga masyarakat.
Jika orientasimu hanya pada ketenangan dan kebahagiaan dirimu saja, percayalah semua akan berlalu dan hanya tersisa bosan dan menua. Karena yang membuat semuanya terasa abadi adalah kebaikan yang bertebaran darinya dan banyaknya manfaat yang dirasakan olehmu juga sekelilingmu. Percayalah.
Menentukan pilihan bukan sekedar dari diri sendiri, bukan juga dari nafsu yang menggebu, atau dari indahnya paras dunia. Tentukanlah pilihan untuk keselamatan dunia juga akhiratmu.
@jndmmsyhd
Jangan sandarkan cita-citamu pada waktu. Jangan pula menyerahkan perwujudan impianmu pada masa yang belum tau entah bagaimana. Apalagi menyandarkannya pada manusia. Harus tetap berpegang teguh pada pendirian diri sendiri, ikuti kata hati. Ikuti sembari menjalani.
Waktu hanya memberikanmu ruang agar tetap bisa berjuang. Menyediakan kesempatan jikalau ada hal yang tak sesuai dengan harapan.
Waktu tidak berjalan, waktu itu diam. Waktu pun tak pernah memaksakan, hanya kita yang kurang mempersiapkan. Waktu pernah tak menyimpan kenangan, pun tidak membuat lupa dan melupakan. Waktu hanyalah ruang dan hanya meberikan pelajaran. Ya, waktu adalah faktor pendukung agar biasa dan terbiasa menghadapi keadaan. Termasuk baik dan buruknya kenyataan yang menimpa dan menempa.
Kita sendiri yang sepenuhnya memutuskan jawaban. Kitalah yang menentukan kemauan apa yang ingin didapatkan.
Percaya diri lalu dewasakanlah terlebih dulu emosi diri.
Teruslah berjalan, hadapi semua yang menghadang. Selesaikan dengan pikiran dan hati yang tenang. Buanglah sifat ketergantungan. Belajar saja dan terima apapun yang ditemukan. Lelah mungkin akan datang. Namun itu adalah pertanda bahwa kita jangan menyerah begitu saja.
Lelah boleh. Menyerah jangan.
Bangsa dalam Genggaman: Pemuda Menentukan Arah Demokrasi
SURAU.CO – Sejarah bukanlah sekadar deretan tanggal dan peristiwa di buku pelajaran. Ia adalah cermin besar yang memantulkan siapa kita hari ini, sekaligus mengingatkan ke arah mana kita seharusnya melangkah. Dalam sebuah forum pendidikan pengawasan pemilu, seorang narasumber melontarkan pertanyaan yang menggugah: “Salahkah jika saya mengatakan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah kaum…
Jika Ada Makhluk Yang Bisa Menentukan Nasibmu Di Dunia. Bersaksilah Engkau Akan Menentukan Nasibnya Di Akhirat. #Dakwah #Islam
“Sesungguhnya Allah, Rabb ku dan Rabb mu, Karena itu sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus”. Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia : “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan Dien) Allah?” para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab : “Kamilah penolong-penolong (Dien) Allah, kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang ke Esaan Allah)”. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (QS. Ali Imran : 51-54). Jika Ada Makhluk Yang Bisa Menentukan Nasibmu Di Dunia. Bersaksilah Engkau Akan Menentukan Nasibnya Di Akhirat. Ini adalah pernyataan Nabi Isa As kepada kaumnya untuk menggambarkan bahwa mereka adalah sama dihadapan Allah dalam hal penghambaan. Bahwa saya (Nabi Isa AS) dan kalian (kaumnya) adalah sama-sama hamba Allah SWT, sama-sama punya kewajiban beribadah kepada Allah, karena Allah itu adalah Rabbku dan Rabb kalian, Rabb kita bersama, maka fokus penyembahan kita adalah kepada Allah. Saya (Nabi Isa AS) memberi peringatakan kepada kalian ini bukan karena saya ingin menjadi pemimpin kalian, akan tetapi Allah lah yang menentukan saya untuk melakukannya, “Inilah jalan yang lurus”. Kalimat “hadza sirathimustakim” dalam ayat ini mengandung pengertian bahwa, setelah Nabi Isa AS menyatakan bahwa Allah adalah Rabb kita, pernyataan yang bersifat Aqidah, Beliau juga menunjukan manhaj dalam praktek ibadah tersebut, bahwa jalan yang ditempuh dalam ibadah itu adalah jalan yang lurus, bukan lainnya. Dan bahwa jalan yang lurus itu adalah bersifat untuk mencapai tujuan. Adalah suatu yang lumrah bahwa setiap Nabi pasti menunjukan jalan untuk kaumnya untuk mencapai tujuan akhir mereka, yaitu Kebahagian akhirat, hanya saja sebagian besar ummatnya akan merasa berat untuk menempuh jalan yang lurus ini, maka seorang nabi atau pembawa misi risalah harus menggunakan seluruh panca indranya untuk bisa mendeteksi siapa saja yang bersedia mengikuti Jalan yang lurus dan siapa yang enggan. Ketika kita memberi nasehat kepada seseorang tentang jalan yang lurus ini, serta merta kita dapat merasakan perubahan raut muka orang tersebut, ada yang langsung bermuka masam dan ada juga nampak keceriaan di wajahnya, senang dan gembira menerima nasehat dan peringatan. Demikiannlah ketika Nabi Isa AS memberi peringatan dan nasehat kepada kaumnya, tiba-tiba belau merasakan bahwa ada diantara kaumnya yang tidak suka, ada yang lebih memilih kekufuran daripada iman sebagaimana dinyatakan Allah didalam ayat ke 52 nya, “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia : “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan Dien) Allah?” para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab : “Kamilah penolong-penolong (Dien) Allah…”. “Man anshori ilallah”, siapa penolong-penolong agama Allah, ini artinya garis pemisah antara mereka yang bersedia menjadi penolong agama Allah dan mereka yang tidak bersedia. Jika kita cermati ayat ini kita akan dapatkan bahwa Allah mengklaim tidak bersedia menolong agama Allah sebagai orang kafir, yaitu orang yang terasa kekufuran mereka oleh Nabi Isa AS. Suatu ketika dimasa Rasulullah SAW, beliau juga pernah berkata kepada kaumnya, “Siapa yang bersedia menolongku kepada Allah”, ketika musim haji beliau pernah menyampaikan kepada tamu baitullah yang datang, wahai semua kaum, sesungguhnya Quraisy melarangku untuk menyampaikan risalah dari Rabbku dan melarang orang-orang untuk beriman, siapakah di antara kalian yang menolongku ?, maka bangkitlah beberapa pemuka dari Yatsrib yang bersedia menyatakan menjadi anshor (penolong). Secara sembunyi-sembunyi pada malam harinya mereka bertemu di bukit Aqobah, melaksanakan perjanjian besar, meletakan pondasi yang kokoh, dalam penegakkan Dienu
llah. Suatu persaksian yang ditulis dengan tinta emas oeh sejarah Islam, itulah “Bai’at Aqobah”. Pada peristiwa “Bai’at Aqobah“ ini Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengambil bai’at kalian untuk melindungi dan menolongku sebagaimana kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian”. Adda’ bin Ma’rur RA segera menjabat tangan Rasulullah SAW dan berkata, “baik ya Rasulullah, demi dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, kami pastilah akan menolongmu dan melindungimu, sebagaimana kami melindungi sarung-sarung kami (melindungi anak dan istri kami)”, maka mereka semua menyatakan bai’at. Abi Haisyam bin Tihan RA bangkit dan berkata sesungguhnya antara kami dan orang-orang Yahudi yang ada di Yastrib ada berbagai ikatan, yang setelah bai’at ini pastilah kami akan memutuskannya, apakah nanti setelah Allah memenangkan Engkau atas kaumu, apakah engkau akan kembali kepada mereka dan meninggalkan kami? Rasulullah SAW tersenyum dan berkata tegas, “Darah adalah darah, binasa adalah binasa, aku adalah bagian dari kalian, dan kalian adalah bagian dariku, aku akan memerangi siapapun yang kalian perangi, dan berdamai kepada siapapun kalian yang berdamai dengannya”. Artinya, kalaupun harus bersimbah darah kita akan bersimbah darah bersama, kalaupun kita akan binasa maka kita akan bisana bersama, tidak akan ada yang lari meninnggalkan kalian”. Demikianlah tonggak pertama dari penegakkan Islam pada masa Rasulullah SAW, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi dahulu pada masa Nabi Isa AS. Maka ketika Nabi Isa AS berkata, siapa yang mau menjadi penolongku, orang-orang hawariyyun menjawab “Nahnu Anshorullah”, kamilah penolong Allah”, kami telah beriman kepada Allah maka saksikanlah bahwa kami muslim artinya hanya orang kafir yang tidak bersedia menolong Allah. Ayat “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya (makar), dan Allah membalas tipu daya (makar) mereka itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya (makar)”, dalam ayat ini Allah menentukan otoritas pribadi-Nya dalam membalas makar (tipu daya), tidak menyerahkan pembalasan makar kepada hamba-Nya, maka Allah tidak katakan “Wamakaru wamakarol muslimun” (mereka orang-orang kafir membuat makar maka orang-orang muslim membalas makar mereka), tidaklah demikian akan tetapi Allah sendiri yang membalas makar. Maka sebagai hamba Allah dalam hal ini kita tidak punya hak untuk berfikir-fikir bagaimana membalas makar orang-orang kafir, bagi kita cukup meningkatkan ibadah kepada Allah saja, yaitu ibadah dalam artian luas. Jika para ulama menentukan berbagai rukun dalam ibadah seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji maka sesungguhnya itu adalah bagian dari ibadah, bukan berarti hanya itulah yang disebut ibadah, sebab jika kita melaksanakan apa saja yang menjadi perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang Allah itu adlah ibadah, apa saja. Kalau kita melakukannya atas adasar perintah Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk ibadah, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jika kita melaksanakan apa yang semua Allah perintahkan, ketundukan kita dalam menjalankan semua yang Allah perintahkan dan menjauhi segala yang dilarang, otomatis akan menjadi balasan atas makar orang kafir, karena Allah mengetahui sikap dan karakter mereka dan Allah sudah membuat dan menyiapkan tangkisan dari semua bentuk makar mereka berupa perintah dan larangan. Ibarat kata ketika Allah mengatakan lakukan ini, lakukan itu atau jangan begini, jangan begitu pada hakekatnya adalah tangkisan dari semua makar yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Sebagai orang beriman kita hanya perlu mempelajari dengan teliti untuk dapat kita amalkan dengan teliti semua jurus-jurus yang Allah ajarkan. Jika seorang pesilat yang hebat, yang sudah berpengalaman hingga masa tuanya ingin mengajarkan muridnya untuk menghadapi musuh besarnya, dia tentu sudah tau kelemahan dan kekuatan musuhnya maka sang guru membentuk jurus-jurus dan gerakan-gerakan dengan berbagai arahan, bagaiman cara maju, bagaimana cara menghindar dan mengelak, jangan begini, jan
gan begitu dan lain-lain sebagainya, ketika bertemu musuh seorang murid tinggal mempraktekan jurus-jurus dan langkah-langkah yang telah diajarkan oleh gurunya, maka semua jurus-jurus itu akan otomatis menjadi penangkis daripada serangan jurus-jurus musuhnya yang telah diketahui oleh gurunya itu. Allah Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Bijaksana telah menentukan, telah menyusun semua instruksi dan larangan daalam 114 surat dalam Al Qur’an. Tinggal kita mempraktekannya dengan teliti, maka terbalaslah makar orang-orang kafir, meskipun makar mereka itu tadinya mampu menggulung gunung, sebagaimana Allah SWT berfirman didalam QS. Ibrahim (14) : 46-47, “Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu, dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan”. Semoga Allah SWT memandaikan kita dan menjadikan kita orang yang teliti didalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam, menjadikan kita sebagai penolong-penolong agama Allah dan dengan kita teliti melaksanakan perintah dan larangan Allah maka otomatis akan menjadi pembalas bagi makar orang-orang kafir. Semoga Allah memandaikan, membimbing dan memudahkan langkah-langkah kita, aamiin. Wallahu a’lam sumber : https://khilafatulmuslimin.net/makar-allah-pasti-yang-terbaik/ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم – قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ Allohumma solli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim, wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Allâhumma-ghfir liummati sayyidinâ muhammadin, allâhumma-rham ummata sayyidinâ muhammadin, allâhumma-stur ummata sayyidinâ muhammadin. Allahumma maghfiratuka awsa’u min dzunubi wa rahmatuka arja ‘indi min ‘amali. Jika Ada Makhluk Yang Bisa Menentukan Nasibmu Di Dunia. Bersaksilah Engkau Akan Menentukan Nasibnya Di Akhirat.