Tuan, aku mencarimu dalam keramaian. Di tengah panas kota dan terik matahari yang menusuk ubun-ubun. Mencarimu dalam keramaian, dalam bising, hiruk pikuk, sorakan, gegap gempita, tepukan tangan banyak manusia.
Mencarimu, meski entah bagaimana aku tahu, kau akan datang. Mencarimu, mengharapkanmu menemukanku.
Menemukanmu. Oleh perasaanku, aku menemukanmu. Aku mendengar suaramu, aku tahu aku menemukanmu. Dan kuharap kau menemukanku, meski ingin rasa sembunyi darimu.
Kemudian aku menatapmu, yang tak kunjung tahu kehadiranku di situ. Sekejap aku tahu kau menemukanku, kemudian aku berpaling, meski ingin rasa memandangmu dari balik punggungku.
Nona, aku menemukanmu. Aku menemukanmu di tengah kerumunan, lautan manusia. Aku menemukanmu tertawa bahagia. Aku menemukanmu tersenyum bangga. Tak apa bila kau tak tahu aku ada.
Menggapaimu, aku tak bisa. Menggapaimu sungguh percuma. Mungkin hanya angan yang takkan kunjung tiba. Mungkin apalah aku bagimu, nona? Bahkan sekejap saja kau pandangi aku, ingin rasa selamanya. Kutahu, aku tak membuatmu terpana. Hingga kau pergi begitu saja. Membiarkanku menatap punggungmu menuju tak hingga.