Kau benar, aku hanya mengada-ada.
Perihal rasa yang sejatinya bukan untukku,
Tentang bahagia yang ku buat-buat sendiri
Untuk malam yang kutangisi seorang diri
Setiap luka yang sedang menganga
Terimakasih, selamat tinggal.
seen from Yemen
seen from Spain
seen from United States
seen from China
seen from Argentina
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Germany
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Russia
seen from Russia
seen from China
seen from United States

seen from United Kingdom
Kau benar, aku hanya mengada-ada.
Perihal rasa yang sejatinya bukan untukku,
Tentang bahagia yang ku buat-buat sendiri
Untuk malam yang kutangisi seorang diri
Setiap luka yang sedang menganga
Terimakasih, selamat tinggal.
A letter from nowhere pt 6.
perihal patah hati luka yang tidak pernah diobati ataupun, noda yang tidak bisa dimantrai tidak apa-apa, kamu akan terbiasa. pada akhirnya, cinta untuk diri sendiri yang akan menandingi. kasih untuk nurani, yang akan melindungi berterima kasih untuk jiwa yang sempat mampir meski ujung ujungnya harus berakhir. tidak apa-apa kamu akan baik baik saja tidak apa-apa kita disini masih sama-sama mengembara
Hi Sobat Elbeh, bakal nge-trip ke Bali bareng temen satu geng? Bingung ngapain a… Hi Sobat Elbeh, bakal nge-trip ke Bali bareng temen satu geng? Bingung ngapain aja? 🤷
What's the real essence of graduation ceremony celebration?
Several days ago some of my juniors at campus celebrated their graduation ceremony which is Indonesian called it "Wisuda". It's the most prestigious moment in undergraduate student's life. They've to face many obstacles before that moment, they've to feel how exhausted the process is to achieve their bachelor degree. Many of undergraduate students face frustating days, have to face the most boring time that's waiting for supervisors all day long, revising the proposal, complicated requirements and steps and the pressure. That's all the steps they've to face before a happy, prestigious, and essential day called Wisuda come.
When the time comes, undergraduate students feel so happy that they need to perpetuate that moment in the entire of their life, one of the ways is a photograph.
Be honest, I did it too and it doesn't annoy me when they share a post of their graduation ceremony but there's one thing that tickles me so much... It's such as a must for the participants of Wisuda and what's bothered me a bit is a question from some people to me "Kau dak foto Wisuda di Studio?" (Didn't you take a photograph of Wisuda in a studio?)
My first reaction will always be "Silent for a moment" after that I smile, a wide smile. I smile to them and answer it with a question "Is it a must?". Probably you've known their answer.
"Iyo laaah kapan lagi? Wisuda S1 ado sekali seumur hidup" (Ofcourse it is. You only experince it once"
I keep smiling and say "Ooooh"
For me they aren't wrong. It's their opinion about that tradition, just like me who has my own opinion about that tradition. For me they have their right to express their thought so do I.
The tradition of that photo is positive, they're right that a prestigious moment should be captured but for me, there's one that more important than just capture the moment. It's about the essence, the core of graduation itself, the essence or the degree itself, the thing that I should do aftet I accepted the degree itself.
That's euphoria. I KNOW IT WELL. But as I said before, it's my choice to not to capture that moment esp in studio photo. For me the important one isn't Wisuda itself but what I become after Wisuda? "Hari ini Wisuda besok ngapain?" (What do you wanna do after graduation ceremony?) that's a big question that is important to be answered. What's the essence of that graduation ceremony?
Fahri: Ngapain ke Kalimantan, Ibu Kota Pindah Aja ke Pulau Reklamasi - detikNews
Fahri: Ngapain ke Kalimantan, Ibu Kota Pindah Aja ke Pulau Reklamasi – detikNews
Jakarta– Wakil Ketua DPRFahri Hamzahmengusulkan agar ibu kota dipindah ke pulau reklamasi. Menurutnya, hal itu untuk mengembalikan mentalitas bangsa Indonesia menjadi mentalitas maritim.
“Yaudah pindahinibu kota itu ke pulau reklamasi itu. Saya sudah hitung luas pulau reklamasi itu dengan luas Washington DC itu persis sama. Jadi ngapain ke Kalimantan? Situ aja ada pulau reklamasi bagus, pakai…
View On WordPress
(via https://www.youtube.com/watch?v=BOdPZvSvBdI)
Nanda, Ketua DPC Hanura Kota Malang, Bertemu dengan Bupati Malang Rendra Kresna, Ngapain?
Kinan Manja Nanda, Ketua DPC Hanura Kota Malang, Bertemu dengan Bupati Malang Rendra Kresna, Ngapain? Artikel Baru Nih Artikel Tentang Nanda, Ketua DPC Hanura Kota Malang, Bertemu dengan Bupati Malang Rendra Kresna, Ngapain? Pencarian Artikel Tentang Berita Nanda, Ketua DPC Hanura Kota Malang, Bertemu dengan Bupati Malang Rendra Kresna, Ngapain? Silahkan Cari Dalam Database Kami, Pada Kolom Pencarian Tersedia. Jika Tidak Menemukan Apa Yang Anda Cari, Kemungkinan Artikel Sudah Tidak Dalam Database Kami. Judul Informasi Artikel : Nanda, Ketua DPC Hanura Kota Malang, Bertemu dengan Bupati Malang Rendra Kresna, Ngapain? Nanda bertamu tidak sendiri. Ia bersama beberapa pejabat Hanura dan PAN Kota Malang seperti Sekretaris DPD PAN Kota Malang Dito Arief http://www.unikbaca.com
sifatku pengacau
Apakah ada yang salah denganku? Apa ada yang tidak benar dariku? Apa sifatku selalu membuat segalanya menjadi berantakan? Padahal bukan itu mauku, bukan itu pula maksudku. Jika diriku bertindak berlebihhan maafkanlah dan jika itu semua diluar kendali, aku sama sekali tidak bermaksud. Maafkanlah sifat yang terlalu terbuka, gampang bercerita dan cerewet ini. Semua ini aku dapatkan dari turunan bapaku yang juga seperti ini. Jika aku bisa memilih juga aku akan bersikap selayaknya perempuan yang lain, akan tetapi tidak begitu kehendak-Nya. Mungkin memang aku ditakdirkan seperti ini dan akan selalu seperti ini. Ada banyak hal yang mungkin aku dapatkan dari sifatku. Banyak yang kuuntungkan dan banyak yang kurugikan. Mungkin itu impas. Sifat terlalu terbuka itu mungkin membuat siapa saja berfikir aku yang tidak beres, padahal sebenarnya alasan semua itu adalah aku senang sekali mengenal orang baru dan bercerita apa saja asalkan itu sejalan denganku. Itu membuatku berfikir bahwa orang baru, pengetahuan baru, karakter baru serta relasi baru, hanya itu. Apakah itu akan disalah artikan? Apakah sifatku ini menganggu? Maafkanlah diriku, aku hanya perempuan yang mencoba bersikap ramah akan tetapi keramahanku mengacaukan segalanya.