Keluar Dari Zona Nyaman
"Someday we will find what we are looking for. Or maybe not, maybe we will find something much greater than that." -Noelle Mae Lumb.
Nyaman itu jebakan. Pernah dengar istilah itukan sebelumnya?
Bagaimana tidak, 6 tahun lamanya aku terbiasa mendengar lantunan ayat suci dan perkataan lembut, dikelilingi dengan orang-orang baik, selalu hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang memperhalus budi pekerti. Pondok pesantren sangat nyaman. Tempat di mana hati terasa damai dan tentram, tak ada gadget yang membuatmu resah dengan banyaknya informasi, udarapun bersih tak ada polusi yang berarti.
Salah satu alasanku ingin mengabdi kala itu adalah: aku terlalu nyaman di pondok. Hatiku masih berat di sini. Jujur, aku sangat menyayangi tempat ini. Aku tidak siap membayangkan betapa sulitnya hidup di luar pesantren. Benakku berkata: Dunia luar kejam, kalau belum punya cukup bekal, aku berpotensi bisa terseret ke sana kemari tanpa arah.
Kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan.
Hingga akhirnya aku mendapatkan kabar kalau aku lolos SNMPTN dengan jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Jakarta. Aku tidak merasa excited. Namun jika pilihan ini tidak aku ambil, pondok pesantren bisa kena blacklist untuk menerima SNMPTN di tahun berikutnya.
Akhirnya langkah demi langkah kujalani. Aku resmi berhenti mengabdi, namun resmi menjadi mahasiswa.
Banyak hal-hal baru yang mengejutkan. Aku banyak tidak siapnya kala itu. Mungkin ketidaksiapan merupakan kata dengan makna negatif. Tapi aku pernah mendengar kutipan "If we wait untill we are ready, we will be waiting 'till the rest of our lives."
Percayalah: selepas lulus dari pesantren dan merasakan bagaimana kehidupan sesungguhnya di luar pesantren, aku banyak merasa tidak percaya diri dan kurang kuat dengan prinsip diri. Aku telah merasakan beberapa momen di mana aku hilang kendali, patah, kehilangan harapan, dan putus asa.
Ternyata aku belum cukup kuat. Aku berada di fear zone kala itu. Aku bertanya-tanya: Siapakah aku sebenarnya? Fani seperti apa yang ingin aku bentuk? Sampai kapan harus tidak siap dengan kenyataan? Aku ingin menjadi apa di kemudian hari?
5 tahun silam aku banyak bertanya dan belajar mengenal diriku sendiri. Aku perlahan belajar bersahabat dengan diriku agar tahu ke mana harus menuju. Tantangan demi tantangan terlewati dan itulah yang membentukku sekarang.
Tidak siap bukan berarti buruk. Tidak siap nyatanya menjadi batu pertama di mana kita 'sadar' dan harus menjadi dewasa. Ternyata, ketika kita melihat ke belakang: banyak sekali hal yang sudah dipelajari, tujuanpun perlahan-lahan sudah mulai kokoh untuk diwujudkan.
Aku berterima kasih kepada Tuhan yang memberiku kesempatan belajar untuk menembus keterbatasanku. Tuhan yang senantiasa menunjukanku jalan dan membimbingku.
Dan kini, aku akan terus belajar, aku akan terus melangkah menghidupkan impian, aku akan terus mendewasakan diri seiring usia.
Keluar zona nyaman mungkin terdengar menakutkan, tetapi percayalah: di sana akan ada hal baik yang menyapa, hal yang mungkin besar dan tak pernah kamu sangka-sangka. @henniarum @sekotenggg @mathmythic @adhit21 @gugunm















