Mengalah Untuk Menang (':
Ini adalah salah satu konsep yang dirasa cukup efektif untuk kita mendakwahi orang tua, kita sepakat bahwa problematika dalam hal ini banyak dari teman-teman kita yang miss ketika pelaksanaannya
Kita terlalu banyak bermain dengan dalil, kita merasa lebih berilmu dari mereka, sehingga tanpa sadar kita melampaui batas, kita larut bersama suasana, perkataan kita, nada bicara kita, dan suasana hati kita, yang tidak kita control, seketika meninggalkan bekas dihati mereka
Apakah hanya bermodalkan segelintirnya ilmu dan semangat yang tinggi, kita mampu untuk merubah mereka?
Satu hal yang perlu diingat, bahwa "perdebatan hanya akan membuat hati semakin keras dan meninggalkan kedengkian dihati"
Maka tinggalkanlah debat, introspeksi diri lalu minta ampun dan meminta tolonglah kepada Allah, kroscek kembali niat kita, banyak-banyaklah diskusi prihal ini kepada mereka yang dirasa cukup mengilmuinya
Se-shahih apapun dalil yang kita bawa kepada orang tua, jika memang Allah belum berkehendak, bisa dipastikan kesalahannya ada pada diri kita
Memang gemes tiap kali tukar pikiran dengan orang tua dan dipertengahan pembicaraan kita mendapati khilafiyah prihal Agama pasti saja orang tua membawakan "dalil budayanya"
Memang sudut pandang kita sebagai penuntut ilmu atau yang sempat mempelajarinya, bahwa apa yang dikatakannya dengan menggunakan "dalil budayanya" itu keliru, dan kita berusaha untuk meluruskannya
Tapi siapa yang tahu hati seseorang, niat hati meluruskannya, karena kita terlalu bersemangat, kita lupa deh sama adab kita, kita lupa tuh sama posisi kita bahwa kita ini adalah seorang anak dan yang ku ajak bicara itu orang tua lu sendiri loh, akhirnya kita malah debat
Gitu aja mulu tiap kita ngobrol dan membicarakan khilafiyah prihal Agama, ujung pasti debat
Ngakunya sih penuntut ilmu, tapi nyatanya hanya sebuah penisbatan belaka
Wahai anak kecil, tak usah mengklaim diri telah dewasa jika akhlak dan adab yang selama ini engkau pelajari tidak mampu kau praktekan terhadap orang tua mu
Karena jabatan dan harta tidak mampu merubah pandangan orang tua yang menganggap anaknya adalah tetap seorang anak, selain adab yang mampu merubahnya.