Aris Setyawan yang saya kenal adalah orang yang memiliki banyak mimpi, beribu hobi dan setumpuk ide. Ketika dia menyukai sesuatu, dia akan mengerjakannya dengan tekun. Oleh karena itu dia mempunyai banyak sekali kegiatan, dia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Di sisi lain dia juga mudah sekali bosan. Dia harus membagi fokusnya ke berbagai kegiatan yang ia jalani. Suatu hari, saya lupa tepatnya, mungkin pertengahan tahun 2014, mas Aris (begitu cara saya memanggilnya) pernah bilang ingin membuat buku dari kumpulan tulisan-tulisannya. Dan beberapa bulan yang lalu saya dapat berita baik kalau di penghujung tahun 2016 ini dia mau menerbitkan bukunya itu. Saya senang sekali mendengarnya. Ini memang salah satu impiannya! Saya juga seperti biasa memberikan masukan dan juga kritik. Kamu mau bikin buku apa?. Juga rentetan pertanyaan seperti, “Jadi tema bukunya apa?” Dan kalau dia sudah menjawabnya, saya tanya lagi, kenapa? sampai masalah, Nanti layout bukunya jangan gini ya, dempet-dempet susah dibaca. Kok sampulnya gini sih, ga teralu keramaian? Ya. Cerewet sih. Tapi, saya ngga mau buku pertama yang dia terbitin ini jadi terkesan biasa di mata calon pembaca bukunya. Ternyata, dan untungnya bukan cuma saya yang seperti itu. Teman-temannya, termasuk mas Lelaki Budiman pendiri penerbit Tan Kinira selaku editor juga berdiskusi dan menyumbang saran. Kami juga mengobrolkan rencana penerbitan buku ini dan melakukan debat kusir. Hahaha. Dan, akhirnya buku ini diberi judul PIAS, dalam kamus besar bahasa Indonesia mempunyai arti diagram untuk memperlihatkan atau menerangkan sesuatu. Judul ini juga dipilih dari kata Ketampias (Kecipratan). Jadi, seakan calon pembacanya nanti bisa kecipratan ide-ide dari tulisan yang ada di dalam bukunya. Ada juga yang meng- otak atik gathuk-an, PIAS singkatan dari Pikiran Ide Aris Setyawan. Kumpulan tulisan yang ada dalam buku PIAS ini kebanyakan tulisan yang telah ia muat di blog pribadi dan juga beberapa media baik cetak maupun online. Namun, ada juga beberapa tulisan baru yang belum sempat ia publikasikan. Alasan mas Aris membuat buku ini adalah salah satunya ingin mengarsipkan tulisan-tulisannya yang berceceran di beberapa media. Sehingga ia ingin membuat semacam dokumentasi atas karya tulisan yang pernah ia buat. Dulu tulisannya sempat ramai di Jakartabeat. Dan beberapa kali tulisannya juga dibaca oleh vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud. Itu juga yang berhasil memasukan Aris Setyawan ke jajaran penulis di media online tersebut. Kumpulan tulisan di buku PIAS pun beragam mulai dari seni yang meluas seperti seni rupa, musik, film dan sebagainya. Selain itu, ada beberapa tulisan mengenai isu kajian budaya populer. Kedua bidang tersebut memang menjadi ketertarikan mas Aris dalam menulis. Di luar ketertarikannya, di buku ini mas Aris juga bercerita mengenai fenomena-fenomena sosial di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Yang menarik, mas Aris mampu melihat dan menceritakan itu dari banyak sudut pandang. Ah... terlalu banyak yang bisa dituliskan di sini. Yang jelas, sebagai nona mu yang suka merajuk, saya bisa jadi terlalu subjektif menilai buku mas Aris ini. Tapi, dari kumpulan tulisan di bukunya terselip ide-ide yang menyegarkan. Mas Aris bukan hanya menulis tapi juga bercerita dengan gaya bercerita yang simpel dan bermakna. Mas, Bapak dan Ibu di Lereng Lawu sana pasti bangga kalau melihat karya mu ini. Sekali lagi, selamat mas!