Untuk kamu pria bermata hitam. Untuk kamu pemilik senyum yang paling menawan.
Kita pernah bersama sebagai sepasang rahasia. Pada sebuat cerita drama yang paling romantis.
Kita pernah saling menebar canda. Pada rasa yang berharap diisi.
kamu pernah aku izinkan menyatu dengan naluriku, namun ternyata semua hanya buaian yang kamu ciptakan untuk memikatku.
Kamu pernah aku usahakan hingga seluruh keluh menjadi luruh tak terasa ragu dan sakit menggerogoti.
Kamu selalu aku rindukan dalam doa dalam setiap sujud yang aku agungkan kepada sang pencipta.
Namun, kenapa kamu tak pernah melihat aku sepenuhnya sayang ? Sebagaimana kamu melihat dia dibelakangku, sebagaimana aku dengan tulus melihatmu ?
Terimakasih telah hadir dihidupku. Terimakasih telah mengajarkanku. Terimakasih telah memberi arti. Terimakasih atas segala rasa.
Kamu adalah sebaik-baiknya luka yang pernah aku cipta tanpa aku merasa dendam dan ingin membalas, rasa ini seolah menolak untuk menerima semua fakta.
Namun kini aku merasa sudah lelah dan berusaha merelakan kamu bahagia dengan seharusnya, tanpa ada aku yang kamu khawatirkan, walau pada nyatanya kamu bahagia bukan karena kita berdua bersama.
Aku mencintaimu dan sepenuhnya ingin memilikimu,namun rasanya aku menjadi egois dan lupa bahagia akan diriku sendiri. Aku ingin seluruh naluri merasuk ke dalam sukma dan tak mampu ada yang menyela di antara kita, namun pada akhirnya kau tetap hanya sebaik-baiknya rahasia yang berusaha tak terpublikasian.
Genggamlah dia yang bukan aku dengan sepenuh jiwa ragamu. Bersamalah dia dengan seluruh sisa rasa yang kamu punya.
Biarlah harapanku terkubur bersama memori indah yang pernah kita cipta, semua yang sudah terjadi akan tersimpan hingga perlahan mati akan habis masa
Kepadamu pria yang sepenuhnya aku harap bisa bersama, aku berusaha menerima semua takdir dari sang pencipta pada kisah kita berdua.
Terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari kisah hidupku dan masa lalu terindah yang pernah kumiliki.