Tragedi Lembayung
Oleh: Ariyani Jingga
Pukul 17.30
Sore meredup
Namun masih menyisakan pertanda bahwa ia masih hidup
Sementara itu, jutaan kerdil daun petai cina tidur mengatup
Jutaan lainnya jatuh tersungkur
Setelah sebelumnya terlibat pertengkaran hebat dengan fohn
Seorang penyair duduk di tepi jendela
Kacamatanya tebal
Rambutnya dipukul rata oleh putih
Namun tangannya yang dipenuhi kusut itu
Masih sanggup memegang sebatang bolpoin
Serta selembar kertas yang rupa-rupanya berwarna coklat muda
Dahinya mengerut
Matanya tajam mengikuti ujung bolpoin yang menari-nari dengan tenangnya
Badai telah berhenti
Namun tiba-tiba
Langit, tanah, dedaunan, manusia, dan udara berubah warna menjadi lembayung
Ini bukan kesengajaan, ini adalah bukti kekuasaan
Seorang ibu memukul anaknya yang terlalu lama menatap langit
“Masuk! Nanti matamu sakit”
Sementara ibu lainnya memukul anaknya yang tidak mau menatap langit
“Magrib! Ke masjid, salat!”
Seorang anak laki-laki mengumandangkan azan
Tangannya dengan cepat menutup pintu-pintu dan jendela
Mencegah para musuh manusia yang nyata masuk ke dalam rumah
Tanpa sekali pun mengucapkan assalamu’alaikum
Ia pun beranjak dari kursi tua
Meletakkan rekaan yang telah usai ia rangkai
Mengambil air wudhu, sarung, dan kopiahnya
Menjemput ketenangan
Memenuhi panggilan Tuhan
Tegal, 27 Juli 2017
1.49 p.m.











