Tentang keimanan
Setiap ada aksi umat muslim, gw selalu mempertanyakan keimanan gw sendiri. Apakah gw sudah menjadi muslim yg beriman?
Sedikit intro, waktu dulu gw suka banget makan di Solar**. Meskipun pelayanannya nggak banget, tapi menurut gw masakannya tasty, dan enak. Tapi kemudian gw dengar kabar kalau katanya resto tersebut mengandung komponen yang nggak halal pada masakannya. Apakah ketika itu gw jadi takut makan disitu? Gw nggak takut dan gw mengabaikan informasi tersebut. Gw tetap saja makan disana dan berpikir mungkin informasi itu akal-akalan restoran lain karena persaingan bisnis. Tapi itu dulu...
Karena setelah itu gw berulang kali berpikir, gw memutuskan sesuatu yang berakar dari satu kata, Iman.
Iman
Seperti yang udah umat Islam tau kalau rukun iman itu kan ada 6, yaitu Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat-Malaikat Allah, Iman kepada Kitab-kitab Allah, Iman kepada Rasul-Rasul Allah, Iman kepada Hari Akhir(Kiamat), dan Iman kepada Qada dan Qadar(takdir baik dan takdir buruk)
Gw pribadi sampai sekarang masih bisa bilang kalau rasa makanan di resto tersebut susah hilang dari ingatan. Tapi satu kata tersebut selalu mengingatkan gw lagi dan lagi untuk nggak makan di resto itu. Gw memang nggak tau kebenaran bahwa resto tersebut itu nggak halal, tapi menurut gw meninggalkan hal yang meragukan itu memang mesti dilakukan. Jadi gw mengambil kesimpulan bahwa keimanan itu tentang pengendalian diri.
Sama halnya ketika sedang berpuasa, selapar-laparnya gw, seenak-enaknya hidangan pembuka puasa, tetap saja nggak bisa gw makan karena gw sedang menjalankan puasa dan gw sudah niat berpuasa sampai sore berganti malam.
Jadi gw berkesimpulan bahwa Allah menguji keimanan kita dari hal yang sangat kecil dan sepele sampai hal yang sangat besar dan penting. Gw sendiri belum bisa dikatakan beriman, karena gw merasa masih belum lulus ujian. Tapi sejak saat gw memikirkan semua itu, gw pun mulai berusaha untuk perlahan-lahan menghindari hal-hal yang nggak baik. Dimulailah dari hal kecil, misalnya membentengi diri dari hal-hal yang tidak halal.
Buat gw Surga itu mahal, benar-benar mahal. Kalau nggak mahal, ujiannya nggak akan sesulit ini. Coba bayangin.. selalu berbuat baik, bersabar, tidak berpenyakit hati, tidak suudzon, dll semua itu keharusan dalam agama gw. Bagaimana manusia yang merupakan makhluk egosentris berjuang mengalahkan egonya? Jadi, menurut gw orang yang nggak memikirkan kehidupan dunia, dan mempersiapkan kehidupan akhirat itu amazing banget.
Setiap detik gw akan selalu ingat kalau gw harus benar-benar bersyukur telah dilahirkan dalam keadaan Islam.
*for all of moslem who live in Jakarta whose faith will be tested













