Pernikahan dalam Islam seringkali gak lepas dari pembahasan ‘sekufu’ atau ‘kufu’. Tapi ada juga yang gak mempermasalahkan soal sekufu ini.
Sekufu atau kafa’ah adalah kesetaraan atau kesepadanan. Selama perjalanan saya belajar ilmu pernikahan dan rumah tangga, para ulama 4 madzhab memiliki penafsiran/pemaknaan yang berbeda-beda tentang sekufu. Silakan Googling sendiri (sebanyak-banyaknya) dan lebih baik baca juga kitab-kitab terjemahan tentang pernikahan. Begitu pula para ustadz(ah), kyai, dan habaib yang pernah saya dengarkan ceramahnya atau bahkan pernah saya tanyai perihal sekufu, beliau semua memiliki pandangan yang berbeda-beda soal sekufu.
Ada yang memandang bahwa sekufu adalah kesetaraan dalam hal-hal duniawi yang menyangkut nasab, pendidikan, status sosial, harta, pekerjaan, dll. Ada juga yang memandangnya sebagai kesetaraan dalam hal-hal ukhrawi seperti ilmu agama dan pengamalan agama.
Sebagian ulama menyatakan bahwa sekufu/kafa’ah hanya disyaratkan bagi calon suami, gak bagi calon istri. Apakah kamu setuju, gengs? Wqwq. Gimana kalo misal kamu adalah seorang laki-laki dan menetapkan kriteria ini-itu untuk calon istri?
Saya akan share perspektif saya soal sekufu. Menurut saya, sekufu sangatlah penting, meski bukan termasuk syarat sah pernikahan. Saya gak ambil pusing terhadap banyaknya pendapat/pandangan soal sekufu dari berbagai ulama ataupun ustadz. Sebab pada dasarnya, SETIAP ORANG PUNYA STANDAR & KRITERIA JODOHNYA MASING-MASING. Meminta pendapat dan pertimbangan dari orang lain—utamanya orang tua, guru, dan keluarga terdekat—itu perlu, tapi kita gak mutlak harus mengikuti apa yang mereka sarankan. Semua kembali lagi pada yang bersangkutan—yang hendak menikah.
Kalo kamu bingung gimana menetapkan sekufu untuk calon pasanganmu, saran dan tip dari saya cuma satu, yakni KENALI DIRIMU SENDIRI. Iya, cuma ada satu, tapi ini bercabang, dan kalo kita gak paham konsep ini cukup berbahaya. Kalo kita sudah kenal dengan diri kita sendiri, otomatis kita akan paham apa aja yang kita butuhkan dan kita inginkan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Loh, kok "yang kita inginkan”? Bukan kah itu gak baik? Bukankah seharusnya “yang kita butuhkan”? Menurut saya, dua-duanya penting. Sebab ketika kita membutuhkan sesuatu, otomatis kita menginginkan sesuatu tersebut untuk kita capai/raih/dapatkan. Rasanya mustahil kalo kita membutuhkan sesuatu tapi kita gak menginginkannya. Contoh: kita butuh ilmu finansial, tapi kita gak ingin mendapatkan ilmu tersebut. Mustahil kan?
Mengenali diri sendiri bagi saya diantaranya berupa:
Pahami dimana saja kita mengenyam pendidikan, sejak pendidikan awal/pertama hingga pendidikan terakhir. Meski bagi sebagian orang ini gak make sense, tapi bagi saya ini penting untuk mengukur kapasitas keilmuan umum kita.
Pahami track record kita selama bersekolah, berkuliah, bekerja, berorganisasi, bersosial, dll. Dari sini kita akan paham kapasitas diri kita.
Pahami kapasitas ilmu agama kita, pemahaman kita terhadap agama, dan bagaimana cara kita beragama. Ingat, sesama muslim belum tentu sama aqidahnya, madzhabnya, harakahnya, amaliyahnya, pengamalannya, dsb.
Melihat latar belakang kita dan keluarga kita, entah itu dari sisi finansial/harta, status sosial, pendidikan, nasab, pekerjaan, dll.
Pahami tipe personality kita. Ini penting untuk menganalisa kepribadian seperti apa yang seharusnya ada pada calon pasangan kita.
Apa yang kita sukai dan apa yang gak kita sukai. Breakdown lagi apa yang gak kita sukai, apakah hal itu bisa kita toleransi atau gak bisa kita toleransi.
Pahami visi misi hidup kita dan visi misi rumah tangga kita, goal kita, rencana jangka pendek kita, rencana jangka panjang kita, dll.
Selebihnya gak bisa saya jabarkan, sebab cukup personal.
Dari beberapa poin di atas akan terbentuk kriteria prinsip dan kriteria non prinsip untuk calon pasangan/jodoh kita. Yang prinsip tetaplah prinsip, gak bisa diubah-ubah, apalagi diturunkan standarnya. Yang non prinsip, pertimbangkanlah dengan matang, apakah kira-kira kita bisa mentoleransinya kalo kelak menjalani kehidupan sampai tua bersamanya?
Dari beberapa poin di atas jugalah lahir frase “Yang bersanding denganmu adalah cerminanmu”.
Setelah saya mengobservasi kehidupan pernikahan banyak pasangan dan juga berdasarkan pendapat saya pribadi, saya memandang sekufu cenderung pada poin 1, 2, dan 3. Kadang mereka yang menjalani pernikahan gak paham atau gak sadar kalo mereka sekufu, tapi kita yang menyaksikannya ada kalanya bergumam dalam hati, “Mereka mah memang cocok” atau “Mereka memang saling pantas satu sama lain” atau “Wah cocok, dapat yang seperti itu juga”.
Ada yang menarik. Gus Ebiet (saya lebih suka menyebut beliau sebagai “Mufti Jember” karena ilmu fiqihnya yang masyaAllah) pernah menukil dari kitab Hasyiyah Al-Bujairami ‘ala Al-Khatib, mengenai tolok ukur dimana laki-laki harus mengungguli wanitanya dan dimana wanita harus mengungguli laki-lakinya. Berikut penjelasannya:
Hendaknya seorang wanita berada di bawah laki-laki dalam 4 kriteria berikut: usianya, tingginya, hartanya, dan derajatnya. Jika tidak, maka wanita akan merendahkan lelakinya. Dan hendaknya wanita lebih tinggi dari laki-laki dalam 4 kriteria berikut: keelokannya, adabnya, budi pekertinya, dan kewira’iannya (menjaga agamanya).
Jadi, gimana menurutmu? Wqwq.
Menemukan yang sekufu itu gak sulit, hanya aja kita yang belum mendapatkannya dan belum jatuh takdirnya.