seorang karib yang sudah lama tak berinteraksi suatu hari mengirimkan saya pesan, menanyakan kabar. klise dan mencurigakan. tapi saya yakin dia bukan sedang dalam prolog meminjam uang karena dia lebih kaya-raya dari saya, haha. saya juga yakin bukan ingin mengundang ke hari istimewa karena dia sudah melakukannya. apa, ya, kira-kira?
setelah saya jawab dengan sungguh tanpa basa-basi, bahwa saya sehat tapi hati saya begini, begitu. sepertinya butuh ini-itu, merindukan ke sini ke situ. saya tidak mengembalikannya dengan balik bertanya kabar, kami tidak perlu sopan-santun itu kali itu. saya penasaran. saya lalu mencecarnya, ada apa? karena ga mungkin ga ada triggernya.
setelah agak dipaksa akhirnya dia cerita, "tumben-tumbenan lu masuk mimpi gue," ditutup emoji terbahak. setelah mengendalikan debar, semoga saya tidak dijadikan yang antagonis perannya, saya beranikan bertanya, saya ngapain di sana?
"cuma senyum, terus pergi. random banget. itu kita kayak lagi main, kayak pameran gitu"
di seberang layar saat itu saya pun tersenyum.. apa, ya, maksudnya? sambil menebak premis yang bagus-bagus, yang indah-indah, yang positive vibes deh pokoknya, kami melanjutkan berbincang, menyambung tali keakraban..
selang beberapa hari setelahnya, seperti, apa, ya.. saya memimpikan hal yang persis sama. memimpikan seseorang tersenyum, lalu pergi. tapi bukan karib saya tadi. saat terbangun saya pun sedih. entah kenapa, sedih saja. bertanya-tanya maksudnya apa? kenapa dia? kenapa tersenyum? kenapa pergi? kenapa mimpinya sama seperti karib saya? adakah suatu pertanda... "baik-baik, ya, Lam," pesannya kemudian.
tapi yang bergegas saya kirimi pesan justru karib saya, bukan dia yang mampir ke mimpi saya. saya bilang ke dia, kok saya sedih, ya? lalu dia juga bilang hal serupa, bahwa awalnya dia pun merasa sedih lepas mimpinya.
tadi pagi, tiba-tiba saya memimpikannya lagi. seseorang yang tersenyum itu. mimpi, dia melakukan kebiasaannya memastikan (?) lalu saya teringat tulisan seorang kawan..
Saya ingin sekali menyayangi tanpa menyulitkanmu. Tetapi itu barangkali membingungkan Tuhan. Kerap saya minta untuk diberi kesempatan lagi, agar setidaknya yang lalu-lalu bisa saya perbaiki. Saya minta kesempatan, agar kalaupun tidak dibersamakan, setidaknya saya bukan menjadi salah satu yang buruk di ingatanmu. Saya mengusahakan banyak hal, agar ada celah yang bisa dilewati. Tetapi bukankah itu sama saja saya sedang meminta agar diberi jalan untuk dibersamakan? Dijadikan yang menyenangkan di kepalamu?
Di lain waktu saya hanya meminta dileburkan perasaannya. Kau tahu? Itu saat-saat di mana barangkali saya sedang merasa buruk. Langit yang katanya tidak berbatas pun, tidak akan bisa dijangkau dengan tangan kosong, bukan? Maka sebagai manusia, bagi saya langit adalah batasnya. Dan apakah kau ingat saya pernah menyebutmu langit sebab sepasang mata milikmu semenenangkan biru? Maka anggaplah terhadapmu, saya sedang berada di titik batasan saya sebagai manusia bertangan kosong.
Saya punya banyak lebam yang jika bersama, kau akan kerepotan menyembuhkannya. Saya terlalu rumit dalam banyak hal, yang memahami dan merapikannya, akan melelahkanmu. Saya lahir dengan hati yang rapuh, mudah sakit dan mudah menangis, lagi lagi, itu hanya akan melelahkan. Dan saya, ingin memberimu sayang yang baik, yang tidak melelahkan. Di situlah saya membuat Tuhan bingung, sebab denganmu, saya berharap dijauhkan.
Atas muara yang akan tertuju nanti, saya serahkan kepada Ia yang menciptakan semesta. Kini, selamat menjadi yang bahagia, selamat menemukan bahagia-bahagia lainnya. Beri saya langkah yang mudah, untuk di hati menjadikanmu sesuatu yang lalu. Bukan pergi apalagi bersembunyi. Saya hanya bergeser ke lain sisi, agar menatap punggungmu tak lagi seberharap dulu.