Satu lagi bahasan yang akhir-akhir ini mengusik pikiran hingga jiwaku. Belajar. Bisa jadi, bukan cuma aku yang ngerasain ini. Karena masa yang pada akhirnya mau nggak mau mengharuskan kita menggunakan sistem yang berbeda, dari tatap muka jadi daring, dari uang jajan jadi uang paketan.
Belajar yang dulu kuanggap memiliki arti mengembangkan diri supaya potensi diri jadi lebih maksimal dan berguna bagi lingkungannya, sekarang telah bertransformasi menjadi kegiatan untuk menyelesaikan tugas yang jumlahnya seambrek.
Bukan maksud tidak setuju dengan sistem baru ini. Hanya saja, ini membuat keresahan baru muncul. Kehilangan makna belajar yang sesungguhnya. Ini sama saja kehilangan arah. Sekarang aku memang belum menjadi pelajar aktif setelah insiden kelulusanku karena situasi yang menjadi berkah tersendiri bagiku. Tapi saat ini mencari sekolah sama sulitnya dengan mencari jarum dalam jerami. Hingga masa itu benar-benar membuatku jemu, jenuh dan lupa bahwa inti pencarianku ini bukan pada sekolahnya, tapi pembelajarannya.
Guruku Bp. Kyai Tanjung berpesan
Kunci belajar ada pada pengendalian seseorang supaya menjadi dewasa.
Pesan ini lagi-lagi membuatku tersadar dan berpikir lagi lebih mendalam. Harusnya aku lebih gigih dalam belajar terlepas itu aku sudah terdaftar atau belum dalam sekolah. Harusnya aku lebih bersabar lagi dalam mengahadapi kenyataan sistem yang membuat penerimaan sekolah menjadi sangat sulit.
Oke, mungkin itu dulu yang aku bagiin kali ini. Semoga bisa memetik pelajaran dari tulisan yang sebenernya didasari rasa curhat yang dalam diriku.