Ketika mereka bilang “love shall set you free”, itu bohong.
Seketika kamu mencicipi rasanya, racunnya langsung menguasai seluruh peredaran darah kamu, menggerogoti seluruh sistem organ biologis kamu.
Seketika kamu mengalaminya, tak lagi dapat kamu bedakan antara impian dan realita, antara idealis dan realis. Semua jadi samar-samar, melebur antara sukacita dan derita.
Justru jatuh cintalah yang merupakan belenggu mahadahsyat di alam fana ini. Justru jatuh cintalah yang merenggut kemerdekaanmu sebagai sosok kokoh mandiri. Kamu menjadi tak lagi utuh atas dirimu sendiri setelah terjatuh ke dalam angan-angan cinta.
Cinta adalah bos besar industri kapitalisme dan kamu adalah buruh di dalam pabriknya. Cinta menawarkanmu jutaan mimpi dan oase rindu melalui iklan merdu merayu, dengan syarat kamu harus menguras peluh emosimu, membanting tulang rasa, mengupas daging gelora, mengeringkan darah di jantung hati.
Rantainya tak pernah bisa dilepas bila telah terikat. Kamu boleh ahli matematika, tapi tak ada satupun ekuasi yang bisa kamu gunakan untuk mensolusinya. Kamu boleh ahli fisika, tapi tak ada satupun gaya yang dapat mematahkan mata rantainya. Segala imaji dan syair tak jua mampu memperdaya cinta, karena cinta adalah yang maha memperdaya.
Kamu akan terjebak dalam ironinya. Kamu tersesat dalam filsafat rasional namun tak akan sanggup melangkah keluar, sekalipun gerbang ada di ujung jari-jari kaki. Berputar dalam kebutaan walau cahaya bahkan silau. Sedekat apapun kamu menyentuh terhadap cinta yang kamu dekap, tetap kamu merasa sesak, merasa dahaga, merasa lapar. Tak ada segala udara, air, dan makanan yang mampu memuaskan pilu rindumu.
Sekalipun kamu berhasil menemukan muara berkasih-kasihmu, mimpi yang menjadi nyata itu hanya akan jadi sumber ketakutan; ketakutanmu pada keterpisahan, kengerianmu pada hukum alam perubahan. Hal yang dulu kamu terima sebagai kewajaran, kini tak dapat kamu pahami. Hari-harimu jadi mencekam, diisi oleh khawatir.
Lalu kamu mulai bertanya “Pantaskah saya?”. Kamu kehilangan kepercayaan diri. Kamu bercermin dan menemukan kekurangan. Kamu mengamati orang lain dan menemukan pesaing.
Surganya cinta adalah neraka bagi mereka yang ingin merdeka. Akan tetapi, bukankah kecintaan mereka pada kebebasan merupakan belenggu tersendiri pula? Bukankah yang demikian tak ada bedanya dengan jatuh cinta? Takut kehilangan keutuhan diri, bukankah itu juga terjerat oleh impian dan hidangan yang disuguhkan cinta?
Mungkin dalam mencintai, belenggu dan merdeka sudah teraduk jadi satu. Kebebasan dan keterikatan larut dalam asa. Tak dapat dipisahkan. Mereka berdua adalah sepasang sejoli yang juga jatuh cinta, ditakdirkan bersama tapi tak dapat bergandengan tangan. Mereka saling melepaskan, tapi juga saling menjerat. Mandiri tapi bergantung satu sama lain.
Merdekakanlah jiwamu yang mencintai. Jatuh terjun bebaslah emosimu ketika hanyut dalam arus cinta. Biarkan pertanda dari semesta raya membimbingmu mengarungi derasnya rindu. Menangis bersedihlah, lalu tertawa gembira bersama detak jantung cintamu. Genggam erat impian sekaligus khawatirmu, lalu rayakan bebasnya cintamu dalam hamparan sanubari. Biarkan dualitas ini berpadu syahdu.