*dis is a very long story*
Bisnis, sudah jadi passion saya sejak SMA. Usaha-usaha kecil pernah saya coba sejak itu, mulai penasaran dengan rahasia bisnis, dan segala yang berkaitan dengan bisnis. Hingga sekarang—alhamdulillah—bisa mengelola bisnis yang baru berjalan sekitar 2 tahun. Saya masih membaca dan mencari artikel-artikel berkaitan dengan bisnis, apapun itu. Hingga menemukan tulisan mengenai pentingnya menuliskan rencana bisnis. Semua kepentingan yang terlibat dalam bisnis yang saya jalani mulai dituliskan dalam catatan-catatan besar—termasuk mulai mengaplikasikan nilai syariah yang dilakukan dalam segala transaksi, walau belum sempat dibukukan hingga menjadi sebuah perencanaan bisnis yang rapi.
Ketika sedang asik-asiknya pada kegiatan menulis dan bisnis, seorang teman membagikan info lomba Business Plan yang diadakan organisasinya, SEVENTSEAS nama acaranya (Sharia Economic Event South East Asia). Tertarik, tentu. Apalagi memang itu yang sedang saya lakukan. Rencana awalnya, tulisan Business Plan yang akan saya lombakan adalah tentang bisnis saya sendiri, tapi rasanya kurang mengena pada tema yang diusung—“Strategy and Innovation for Economic Development in Digital Era”.
Sebelum benar-benar memutuskan untuk maju lomba, ada sedikit keraguan. “Aspek Syariah” pada kriteria penilaian menjadi sesuatu yang begitu menakutkan bagi saya. Tentang ekonomi saja, tingkat kepahaman saya sangatlah sedikit. Apalagi Ekonomi Syariah. Sedikit sekali. Minder. Takut salah.
“Kayaknya aku nggak jadi ikut lomba, ragu.” Begitu yang saya ucapkan pada teman saya yang penyelenggara.
“Ajari aku tentang aspek syariah yang harus ada di bisnis, nggak ngerti.”
“Baca aja, di internet banyak, contoh proposal bisnis syariah nya juga banyak. Ikut aja, sih. Masih lama ini.” Begitu katanya.
Somehow, disitu ada sedikit rasa menantang. Semacam jadi ingin mencoba untuk belajar.
Saya mulai mengajak rekan-rekan terdekat untuk membuat tim yang berakhir dengan hanya satu orang yang ingin ikut berkompetisi bersama saya. Pencarian ide tidak memakan watu lama, satu ide pertama yang muncul dari rekan saya langsung saya putuskan untuk dibuat perencanaan bisnisnya. Pengumpulan abstrak, adalah tahap pertama lomba. Pembuatan abstrak hanya dilakukan dengan satu pertemuan tim, selama beberapa jam. Selebihnya, mencakup diskusi dan revisi, dilakukan melalui whatsapp.
“Oke, mari kita coba. Kalau nggak lolos, nggak apa-apa. Ini pertama kalinya.” Ini yang kuucapkan dalam hati ketika mengirim email sebagai bentuk pendaftaran.
Bismillahirrahmanirrahim.
Setelah mengirim email, keseharian berjalan seperti biasanya. Tanpa begitu menunggu hasil, kadang bahkan lupa telah mengirimkan abstrak. Sekitar sebulan—kalau tidak salah—abstrak selesai diseleksi. Pengumuman lolos abstrak lalu dipublikasikan.
Judul kami tertera. Antara kaget dan senang—karena ini pertama kalinya—ketika melihat hasil. Sempat minder juga karena dari sekitar 50+ yang lolos, rata-rata dari PTN unggulan di Indonesia.
Akhirnya, datanglah tugas pembuatan proposal bisnis sepenuhnya. Parahnya, ketika tahu harus membuat proposal bisnis, kita tak begitu saja langsung mengerjakannya. Hehehe
Pembuatan proposal bisnis dimulai sekitar 10 hari sebelum deadline pengumpulan. Dilakukan dengan lagi-lagi satu pertemuan tim—karena rekan tim saya harus segera pindah ke Bandung untuk melanjutkan studinya—selama beberapa jam. Karena pertama kali, pertemuan yang harusnya diisi diskusi berbobot, justru kebanyakan kami isi dengan melamun. Berpikir. Bingung. Membaca. Kami tak tahu harus apa. Wkwk. Akhirnya, satu pertemuan tersebut menghasilkan sekitar satu paragraf latar belakang. Sungguh. Luar. Biasa.
Beberapa hari kemudian, saya baru membuka booklet Business Plan terbaru yang dikirimkan panitia yang ternyata, tertera segala yang dibutuhkan untuk ada pada proposal tersebut. Disitu saya merasa.... ah sudahlah. Antara bodoh dengan lalai. Akhirnya, diskusi dilanjutkan via whatsapp (lagi) untuk pembagian tugas mulai pembuatan hingga revisi. Seluruhnya kami lakukan full via whatsapp dan email.
Kebiasaan buruk saya sebagai deadliner berpengaruh pada pembuatan proposal. Pelengkapan proposal dilakukan sekitar 3 hari sebelum deadline pengumpulan. Dan mengejar pengumpulan sehari sebelum deadline. Alhamdulillah, done.
Lagi-lagi berkata dalam hati. “Coba dulu, kalau nggak lolos nggak apa-apa. Ini pertama kali. Lawannya PTN-PTN ternama. You did your best”
Bismillahirrahmanirrahim.
Sampai saat menunggu lagi, kali ini masa menunggu nya lebih greget karena pengumuman selanjutnya adalah finalis. Siapa yang lolos final, akan bertandang ke Malang untuk tahap terakhir; presentasi. Nggak se-lama nunggu hasil lolos abstrak, pengumuman lolos proposal lebih cepat dipublikasikan—walau agak telat juga dari jadwal. Ketika buka file, lumayan deg-degan, yang teringat selalu rasa minder. Tapi Bismillah, akhirnya terbukalah file lolos proposal dan ternyata, Business Plan kami lolos final.
Tapi lagi-lagi, takut dan minder.
Akhirnya segala persiapan mulai disusun, dari pengajuan dana ke kampus untuk registrasi ulang sampai kebutuhan teknis untuk sampai dan berkunjung ke Malang. Semuanya tida dilakukan dan selesai dengan cepat karena padatnya agenda masing-masing. Rekan tim saya masih berada di Bandung, dan saya tengah berada pada tuntutan untuk melatih anak-anak didik paskibra untuk lomba baris-berbaris tingkat SMP yang dilakukan setiap hari penuh selama sebulan. Satu hal yang justru dilakukan terakhir, adalah persiapan materi presentasi. Hehe. Pembuatan materi presentasi dilakukan dalam 2 pertemuan, setelah rekan tim saya kembali dari Bandung di sela-sela ujiannya demi lomba ini. Dan di sela-sela hari-hari terakhir saya melatih anak-anak didik untuk lomba baris berbaris. Hectic.
Pembuatan materi presentasi berlanjut hingga dilakukan di perjalanan dari Jakarta menuju ke Malang, lalu masih di lanjutkan di Malang sesampainya di penginapan hingga malam harinya sebelum Technical Meeting. Semacam nol persen persiapan. Hal yang saya rasakan pun ketika berangkat adalah seperti, “ini benar-benar pergi untuk lomba? Semuanya rasa dadakan”. agak lucu, tapi seru dan menantang. Yo wis, jalani saja, selesaikan saja apa yang sudah dimulai.
Hari ke 2 di Malang jadi hari presentasi, dengan persiapan seadanya dan pikiran yang sudah kemana-mana karena selama di Malang saya dichat dan ditelfon tak habis habisan oleh anak-anak didik yang tengah gladi resik untuk lombanya keesokan hari. Fokusku. Pecah. Presentasi berakhir tidak maksimal, tapi lega bukan main. Dan tidak ada beban untuk menang. Selesai begitu saja.
Lanjut ke hari terakhir, seminar dan pengumuman pemenang. Aneh, kali ini hampir nggak deg-degan sama sekali. Semacam pasrah apapun hasilnya. Karena semuanya pun sudah selesai. Dan ternyata...
Ketiga pemenang diwakili dari mahasiswa ptn yang tersebar di Indonesia. Alhamdulillah, ketika denger pemenangnya, siapapun itu, betulan ikut senang. Dengar pemenang Call For Paper—lomba sebelah yang nggak saya ikuti—itu aja saya senang. Mungkin karena memang sudah suasananya bahagia, jadi ikut bahagia aja.
Lagi-lagi saya ucap dalam hati, “nggak apa-apa, ini pertama kalinya.”
Beberapa saat setelah euphoria kemenangan selesai, kami peserta ramailah dengan desas desus akumulasi hasil nilai. Saya yang penasaran dengan cepat mendapat datanya dan ketika melihat hasilnya... barulah menyesal. Kurang sedikit sekali poin untuk bisa menyingkirkan si juara 3 (hehe hampura). Lalu di kepala mulai memutar kejadian-kejadian kemarin, flashback melihat apa yang telah dijalani dan dilalui. Greget. I should’ve done better.I knew I can do better but I didn’t.
Nggak, saya nggak sedih. Cuma greget sama diri sendiri. Semua orang memaklumi bahkan memberi selamat karena itu lomba pertama yang saya jalani dan menurut mereka hasil itu cukup bagus. Tapi tetap saja, greget. Saya seharusnya bisa lebih serius, bisa lebih siap, bisa lebih baik, dan sebagainya sebagainya. Tapi lalu saya teringat ucapan teman yang dulu sempat mempengaruhi saya untuk maju lomba ketika saya ragu. Pada sambutannya ia bilang, “Selanjutnya untuk materi, atau hadiah, atau trophy, itu semua adalah bonus. Tapi proses yang teman-teman jalani adalah lebih berharga daripada itu.”
Somehow, ucapannya adalah yang membuat saya lupa akan pentingnya kemenangan, pentingnya status juara, berharganya hadiah, dan lain-lain.
Saya seharusnya ingat bahwa selama menjalani lomba tersebut dari pembuatan abstrak hingga bisa bertandang ke Malang merupakan perjalanan yang tidak bisa diganti dengan apapun. Bukan kemenangan tujuan dan intinya. Lebih dari itu, saya mendapat pengalaman dan pelajaran yang benar-benar membuat diri ini berpikir. Berproses.
Semua yang saya jalani dari serangkaian Seventseas 2017 ini adalah pertama kalinya untuk saya. Membuat Proposal Bisnis selengkap itu, belajar Ekonomi Syariah, masuk pada lingkungan orang-orang penggiat Ekonomi Syariah, masuk pada lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama namun tetap profesional yang membuat nyaman dan kagum, bertemu dan berdiskusi dengan pakar-pakar ekonomi dan bisnis—yang saat itu menjadi juri presentasi, bertemu rekan sesama mahasiswa dari kampus yang tersebar di Indonesia dari latar belakang yang berbeda namun bersatu dengan maksud dan tujuan yang sama, mahasiswa-mahasiswa hebat yang sesama pengusaha muda, penggiat karya ilmiah, penggiat organisasi, semua bersatu dalam satu forum.
Mungkin ini adalah satu-satunya lomba yang tidak terasa seperti kompetisi. Rasanya justru seperti saling bersinergi dengan pikiran-pikiran kritisnya untuk tujuan yang sama; menciptakan negeri yang maju melalui ekonomi. Saya yang sama sekali buta dengan ekonomi perlahan terbuka pikirannya karena ajang ini, pada awalnya memang rasanya seperti tuntutan harus memahami ekonomi yang menurut saya sulit sekali, lama-kelamaan justru ingin tahu lebih banyak tentang ekonomi Indonesia. Mengikuti seminar di hari terakhir dengan tema “Financial Technology for Islamic Economic Development” adalah juga kali pertama bagi saya. Sebelumnya seminar yang saya ikuti tidak jauh dari tema perkembangan informasi , komunikasi dan teknologi, pengembangan bisnis, kegiatan anti narkoba, dan pemberdayaan perempuan. Kalau kau orang yang sama seperti saya, tentu terbayang bagaimana sulitnya mencerna materi tentang ekonomi, apalagi ekonomi syariah, apalagi ekonomi syariah yang berkembang bersama dengan perkembangan teknologi. Sulit. Sungguh. Tapi menyenangkan. Menantang untuk dipelajari. Sedikit banyak ada pemahaman-pemahaman baru yang kini saya ketahui, ada hal-hal baru yang ternyata penting untuk diketahui.
Semua orang yang saya temui disana bisa jadi inspirasi, mahasiswa penggiat lomba yang benar-benar menjalankan passionnya dalam menulis karya, mahasiswa pengusaha yang dengan apik menjalankan bisnisnya namun tetap jadi mahasiswa berkualitas di kelasnya, mahasiswa dengan ide briliannya yang dimanfaatkan dengan baik hingga ide bukan jadi sekedar ide namun bisa menebar kebermanfaatan, para juri dengan segala pengalamannya yang luar biasa yang mendukung penuh kemajuan mahasiswa yang berkembang melalui ide dan tulisan, para pembicara seminar yang pola pikirnya tak terduga hingga usahanya bisa meningkatkan perkembangan Indonesia, bahkan para mahasiswa panitia yang totalitas, serius dan konsisten dalam menjalankan tugasnya di sela-sela sibuknya perkuliahan.
Inti dari tulisan ini adalah bukan rangkaian cerita saya di awal, tapi bagaimana pengalaman pertama saya mengikuti lomba dalam rangkaian Seventseas 2017 memberikan pelajaran yang tak terhingga dan bermanfaat bagi kehidupan ke depannya. Dan itu adalah lebih berharga dari materi apapun.
Jadi, cobalah apapun selagi kita masih muda—yang mengandung nilai-nilai kebaikan tentunya. Keluarlah dan cari hal-hal baru untuk dipelajari.
Jangan sampai kita menyesal.
Tangerang Selatan, 23 Nov 2017