Afwan untuk kakak yang bertanya kepada saya, bi-idznillah pertanyaan dijawab oleh Ustadzuna Abu Salma حفظه الله
Mudah-mudahan Allah mengangkat semua kesulitan yang anti hadapi, dan memang ini adalah ujian yang berat dan besar bagi wanita ketika ada laki-laki yang tidak bisa menjalankan kewajibannya.
Keputusasaan merupakan tablis iblis.
Perlu kita ketahui, semakin berat ujian maka Allah semakin sayang kepada hambanya. Bisa kita lihat bahwa manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi dan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ mengatakan ”sesungguhnya jika Allah mencintai suatu hamba maka Allah akan mengujinya” bentuk ujian itu bermacam-macam
Kita bisa belajar dari sosok syaidatulnisa Ahlu Jannah; Asia bintu muzahim, wanita yang mulia, wanita yang mencinta Allah namun Allah mengujinya dengan manusia paling lalim dimuka bumi yaitu suaminya Fir'aun dan wafat ditangan suaminya sendiri.
Sejatinya ujian didunia ini adalah berat. Maka lihatlah orang-orang terdahulu dan orang-orang yang lebih baik daripada kita. Insyaa Allah akan menguatkan diri kita. Dan dengan ujian akan semkain mendekatkan diri kepada Allah, karena tidak ada satupun manusia yang bisa menolong, sehingga semakin mengajarkan bahwasanya kita adalah milik Allah dan akan berpulang kepada Allah Ta'ala.
Ketika anti berusaha terus untuk bersabar dan bermunajat meminta kepada Allah serta mendekatkan diri kepada Allah. Insya Allah Ini adalah bagian dari kehidupan yang paling nikmat ketika kita semakin dekat kepada Allah.
Tidak dipungkiri bahwa yang berkewajiban menafkahi adalah seorang laki-laki dan sangat-sangat tidak benar, sebagai bentuk kedzaliman jika laki-laki tidak berusaha mencari nafkah malah membiarkan istrinya mencari nafkah.
Ketahui ketika istri melakukan hal tersebut, adalah pahala yang besar bagi istri tapi sesuatu aib yang besar dan memalukan bagi suami.
Kuliah bukanlah menjadi alasan. Statusnya bukan hanya seorang mahasiswa tapi dia adalah seorang suami dan status mahasiswa kelak akan ia lepaskan, tidak boleh dia mendahulukan kuliahnya.
Dan mohon maaf bukan saya memvonis dirinya/memberikan label. Bila ada seorang laki-laki yang sudah berkeluarga tapi ternyata dia hidup dibawah istrinya, istri yang menanggung nafkahnya. Ini menunjukkan sosok yang tidak layak untuk bersadar kepada dirinya meskipun sejatinya secara asal kita bersandar kepada Allah tapi bagi seorang istri terkadang kita juga butuh sandaran yaitu kepada suami.
Kemudian anda boleh menasihati suami agar ia mengerti kondisi dan tanggung jawabnya, mungkin dia belum paham dan mengerti. Anda boleh menyampaikan dengan baik dan tegas atau meminta bantuan dengan orang yang dipercayai misal orang tuanya untuk menasehatinya.
Apabila kita sudah melakukan semuanya, maka boleh seorang istri menuntut haknya, berdasarkan ijma' ulama apabila suami sudah tidak mampu menafkahi dan apalagi tidak mau memberikan nafkah maka istri boleh menuntut untuk berpisah.
Seorang wanita memiliki hak-hak kepada suaminya dan penikahan ”misaqon gholizoh ; pernikahan adalah ikatan yang kuat bukan permainan. Karena sesuatu yang tadinya haram menjadi halal. Semua akan dipertanggungjawabkan diakhirat. Dan orang-orang yang mempermainkannya Allah tidak akan lalai darinya.
Namun yang sangat penting, jika anda mampu bersabar dan memiliki harapan jika suami bisa berubah. Dan beristisab agar mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah dan doakan suamimu diwaktu mustajab. Minta kepada Allah agar diberikan hidayah, jika Allah memberikan hidayah maka ini adalah sesuatu hal yang lebih baik.
Jika semua sarana sudah dilakukan, jika tidak ada perubahan dan suami tetap berlaku dzolim kepada istrinya maka diperoleh untuk berpisah dari dirinya.
و الله علم با لصواب.. باراك فيكم
Apabila ingin mendengar langsung bisa klik tulisan dibawah ( pada sesi tanya jawab menit-menit terakhir Chanel utube Cikarang mengaji)
Jawaban Ustazuna Abu Salma حفظه الله
Semoga bisa membantu kak...