ADA sebuah luka yang tak berdarah, namun sanggup merubuhkan fondasi jiwa seorang lelaki: yakni ketika ia merasa asing di dalam rumahnya sendiri. Dunia di luar sana mungkin kejam, penuh kompetisi, dan tanpa ampun. Namun, semua itu biasanya sanggup dihadapi selama ada "rumah" yang menjadi tempatnya untuk pulang dan merasa diterima.
Tragedi yang digambarkan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin ini adalah tentang hilangnya fungsi rumah sebagai maskan (ketenangan). Ketika standar kebahagiaan keluarga hanya diukur dari angka-angka dan materi, maka sosok kepala keluarga tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai mesin pemuas keinginan.
Cibiran atas sebuah "kekurangan" materi adalah racun yang paling cepat mematikan nyali. Demi menghindari rasa malu di hadapan orang tercinta, atau demi menghentikan keluhan di meja makan, tak jarang seorang lelaki terpaksa menggadaikan prinsipnya. Ia memikul beban yang melampaui batas bahunya—bukan karena ia kuat, tapi karena ia merasa tak punya pilihan lain selain menjadi "ada" secara materi, meski harus "tiada" secara nurani.
Kita perlu belajar kembali bahwa cinta tidak seharusnya menuntut seseorang untuk melampaui batas fitrahnya. Kehormatan seorang suami atau ayah bukan terletak pada seberapa mewah dunia yang ia bawa pulang, melainkan pada seberapa berkah nafkah yang ia perjuangkan.
Kita perlu belajar kembali bahwa cinta tidak seharusnya menuntut seseorang untuk melampaui batas fitrahnya.
Kehormatan seorang suami atau ayah bukan terletak pada seberapa mewah dunia yang ia bawa pulang, melainkan pada seberapa berkah nafkah yang ia perjuangkan.
Jangan sampai rumah kita menjadi penjara bagi ia yang sedang berjuang di jalan Tuhan. Jadilah tempat berteduh, bukan sumber badai baru. Sebab, saat bahu itu patah karena tuntutan kita sendiri, maka runtuhlah seluruh atap yang selama ini melindungi kita semua.












