Aku pernah berdiri di garis paling rapuh dari sebuah kepercayaan, memegang namamu seperti kaca tipis yang berkilau, tapi mudah retak. Di hadapan dunia, aku menjaganya tetap utuh. Aku menutup celah-celah kecil yang bisa membuat orang lain meragukanmu. Aku menyebutmu dengan bangga, bahkan saat ragu mulai berisik di dalam dadaku sendiri.
Kamu tidak pernah tahu betapa sering aku membelamu tanpa kamu minta. Di meja makan keluarga, aku mengubah keraguan menjadi keyakinan. Di antara teman-teman, aku merapikan ceritamu agar terdengar layak diperjuangkan. Aku menyulam citramu dengan kata-kata terbaik, berharap suatu hari kamu akan tumbuh menjadi versi yang aku percayai sejak awal.
Sedikit pun aku tidak pernah memandang ketidaksempurnaan sisi gelap yang pernah menyentuh hidupmu sebagai sesuatu yang layak direndahkan. Di mataku, kamu hadir menjadi sosok yang layak dicintai dengan penuh ketulusan dan pengharapan.
Tapi di matamu, mungkin aku hanya seseorang yang terlalu banyak bertanya. Terlalu ingin tahu. Terlalu ingin masuk ke ruang-ruang yang kamu sebut “pribadi”, seolah cintaku adalah gangguan, bukan rumah.
Padahal yang aku lakukan hanyalah mengetuk, memastikan kamu baik-baik saja di dalam sana, di balik diam yang semakin hari semakin asing. Aku ingin kamu menjadi lebih baik, bukan untuk dunia, melainkan untuk dirimu sendiri, dan untuk masa depan kita.
Namun, niat yang kugenggam erat itu berubah wujud di matamu menjadi tuntutan, menjadi beban, menjadi sesuatu yang ingin kamu hindari. Mungkin benar katamu, aku tidak pantas mengetahui apa-apa. Mungkin bukan aku yang kamu tuju untuk menjalani segalanya.
Dan hebatnya, kamu memilih pergi dengan cara paling sunyi. Tidak ada kata selesai. Tidak ada penjelasan. Hanya jarak yang tiba-tiba menjadi jawaban atas semua pertanyaan yang tak pernah sempat terucap. Seolah aku adalah satu-satunya yang salah. Seolah semua usahaku hanyalah kesalahan yang terlalu besar untuk dimaafkan.
Aku berdiri di sini sekarang, di antara sisa-sisa pembelaan yang dulu aku bangun untukmu, dan luka yang perlahan belajar menerima bahwa tidak semua perjuangan berakhir dengan dimengerti. Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan, tapi ketika seluruh cinta yang kita berikan dipahami sebagai sesuatu yang mengganggu.
Dan lebih dari semua itu, ketika kamu memilih diam, lalu membiarkanku menanggung seluruh cerita sendirian. Membiarkanku menghapus air mata yang berulang kali gagal kutahan, dengan tanganku sendiri. Tangan yang masih gemetar melepaskanmu pergi menuju bahagiamu, tanpa ada aku lagi.