Sudah dua tahun lebih pasca lulus (Februrari 2017) sampai sekarang Juni 2019, gue menghilang (lebih seringnya) dari Media Sosial. Sekali muncul tahun lalu, 5 Syawal 1439 H/ 22 Juni 2018 (minta maaf sama teman-teman) karena nikah tiba-tiba dan gak ngabarin, beberapa waktu lalu, sempat ingin re-born juga ke media sosial, tapi dengan masalah yang sama, akhirnya redup lagi. Alhasil, semua media sosial ditutup, line di-uninstal, instagram pun sama, menyisakan whatsapp dan twitter (itu pun hanya like dan RT status orang tertentu, sembari melihat aktivitas secara incognito di dunia maya)
Pergumulan dalam hati itu terus berkecamuk, antara ingin syiar kebaikan tapi ada aja bagian lain dalam hati berkata jangan. Puluhan dalil sudah dicari dan diketemukan, pembenaran A sampai G sudah disampaikan ke dalam lubuk hati. Tetap saja, ada yang tidak nyaman di dalam sana.
Di tambah lagi semenjak 2017, situasi media sosial benar-benar tidak nyaman. Kalian pasti paham situasi perpolitikan yang membuat media sosial benar-benar terkubu. Teman-teman SMP yang dulu kenal gue adalah bocah ingusan yang kecil dan imut badannya, ada yang di kubu A dan itu berbeda dengan pandangan yang gue anut, dan pergumulan itu menyeruak lagi dengan senangnya, mengakibatkan gue yang sampai sekarang gak mau ‘beropini’ apapun.
Rasanya udah geram, sih. Melihat yang tidak punya kompetensi berbicara dengan riang gembira di panggung yang penuh sandiwara itu, eh tapi, bukannya alasan itu juga yang bikin gue akhirnya menghilang dari media sosial. Sadar diri tidak punya kompetensi, lalu buat apa cuat sana sini kalau pada akhirnya nanti akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dikomentari. Ah, gila benar, sifat perasa yang gue punya!
Gue paling gak suka menyadari persahabatan hancur hanya karena berbeda pandangan. Meski tahu, seharusnya gak seperti itu prinsip perbedaan pandangan. Contohnya, dulu ada Natsir dan Aidit, yang berbeda pandangan notok jedok (bahasa jawa : Mentok) dalam hal ideologi politiknya, tapi saat selesai dari ruang diskusi parlemen, mereka ngopi bareng di cafetaria parlemen. Sekarang? Ah kalian tahu sendiri jawabannya.
Alhasil, Hari demi hari gue menyendiri dan menyaksikan, betapa media sosial ini ngaconya udah keren banget L. Dari yang baik, sampai kotor, dari yang ngaku baik sampai yang sok-sok berpenampilan kotorpun ada. Pada akhirnya gue mutusin untuk mengisi hari-hari itu dengan baca buku. Meski gak banyak juga buku yang akhirnya gue baca, tapi setidaknya hari ini gue tahu gimana harus bersikap?!
Sekarang, atau besok, kondisi media sosial akan tetap sama aja. Ada atau pun tidak perhelatan politik pun akan tetap sama. Sunatullah, namanya air gak akan bersatu dengan minyak, meskipun air kotor dan air bersih kalau dicampur, mengakibatkan air bersihnya kotor juga, tapi dalam volume yang lebih banyak, justru air kotor tadi jadi hilang kalau ditaruh di air bersih yang banyak banget. Pun kebaikan dan keburukan akan tetap gak akan pernah menyatu. Sampai di sini gue juga paham, meski kebaikan itu emang sifatya universal, tapi angka 9 yang dilihat dari dua sisi yang berbeda, akan menghasilkan dua tafsiran yang berbeda pula. Satu sisi melihat sebagai angka “6” satunya lagi “9”. Ya kan?
Poinnya, teruntuk teman-teman media sosial, dimanapun berada, sebelum bermedia sosial, gue menghardik diri untuk punya isi dulu. Jadi yang dikeluarkan tuh isi, bukan sesuatu yang kurang manfaatnya. Besok atau lusa kalau kita beda pandangan, ketahuilah, perbedaan itu bukan menghancurkan persaudaraan kita, itu cuma perbedaan pandangan semata. Gue yang Islam pun tahu, Zaman Rasul masih hidup aja udah ada perbedaan, apalagi sekarang, kan?
Kedua, gue mau ngutip perkataan salah satu inspiring person di twitter juga, @shamsiali2 : “I don’t really care about the people’s view are. My real concern is how I do perform and how God will view it. No matter how you do try to please others around, they will never be. No matter how perfect thing you do, they will find it imperfect. So focus on God instead!”. Yap, ke depan mungkin akan sedikit menyakitkan dan kita bisa ada di dua sisi yang berlainan. Entah disengaja atau tidak, tapi yang gue yakin, sampai kapan pun, gue gak akan bisa membuat semua orang tersenyum dan senang terhadap gue, karena gue bukan penjual es krim yang bisa melakukan itu semua.
So Guys, gue rasa cukup sudah masa berkabungnya, entah besok akan muncul dan tenggelam lagi atau tidak, tapi gue rasa, ini saatnya untuk melangkah dan melompat sedikit demi sedikit. Dengan mengucapkan bismillah ar rahman ar rahiim, semoga Allah berikan kekuatan dan terus menjaga niat dan keikhlasan dalam hati untuk terus berada di jalan kebaikan. I just wanna focus on God.
Here are my media social links :
Twitter : https://twitter.com/panduheru
Tumblr : https://pandu-septi.tumblr.com/