Mengapa Aku Akhirnya Percaya bahwa Kita Perlu Menghindari Situasi yang Membuat Kita Disalahpahami
Seingatku, aku pernah membacanya di sini. Hanya, aku lupa tulisan itu milik siapa.
Kurang lebih begini katanya: hindarilah situasi yang bisa membuatmu disalahpahami.
Aku pada masanya pernah menyangkal soal menghindari situasi yang bisa membuat orang lain salah memahamiku.
Menurutku, idealnya, setiap orang bertanggung jawab penuh atas pikirannya masing-masing.
Beban kehati-hatian tak seharusnya dilimpahkan kepadaku yang (saat itu) mungkin memang tidak melakukan sesuatu yang ada kaitannya dengan orang-orang tertentu? Bukankah seharusnya itu urusan mereka? Mengapa bukan mereka saja yang berhati-hati dalam menilai, dan mengapa pula harus aku yang menjaga bagaimana mereka akan menilaiku?
Aku saat itu mungkin melihat prinsip itu sebagai bentuk penyerahan diri. Bahwa aku harus tunduk pada standar moral dan penilaian mereka.
Dengan percaya diri, selalu kubilang,"Terserah mereka mau berpikir apa."
Sesaat, egoku memang merasa menang, tapi di diri terdalamku, aku tetaplah makhluk sosial. Ketika desas-desus atau prasangka buruk itu sampai ke telingaku, tetap saja akan ada bagian dari diriku yang terluka dan merasa tidak nyaman.
Mungkin memang itu konsekuensinya menjadi manusia. Sebanyak apa pun kita mengaku tidak peduli, tetap ada bagian dalam diri yang terusik ketika prasangka itu akhirnya sampai ke telinga kita.
Atau kalau kuubah sedikit pertanyaannya. Seandainya kita tahu bahwa hal itu potensial membuat orang salah memahami kita (selama hal itu bisa dipastikan memang tempat atau situasi yang buruk), sungguh kita memilih setidak peduli itu?
Manusia pasti akan lelah jika terus-menerus menempatkan diri di medan pertempuran yang tidak perlu.
"Barang siapa menempatkan dirinya pada tempat-tempat yang menimbulkan tuduhan, maka janganlah ia menyalahkan orang yang berburuk sangka kepadanya." Lagi-lagi, kutahu ungkapan ini kerap dinisbatkan kepada Umar bin Khattab, meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad penisbatannya. Terlepas dari itu, maknanya memang telah lama menjadi kaidah etika dalam pergaulan—bukan karena kita bertanggung jawab atas semua prasangka orang, tetapi karena kita bertanggung jawab atas sebab-sebab yang berada dalam kendali kita.
Sudut pandangku pun bergeser karenanya.
Beban klarifikasi itu nyata, ketenangan hati itu mahal harganya. Entah akhirnya kita mengeluarkannya tau berakhir menyimpannya, ketika kesalahpahaman terjadi, energi kita bisa habis untuk menyusun kata-kata, membela diri, dan mengatasi rasa dongkol.
Menghindari situasi tersebut adalah caraku menjadi egois—dalam arti yang baik—untuk melindungi kedamaian pikiranku sendiri.
Karena aku tidak punya waktu dan energi melimpah untuk mengklarifikasi kesalahpahaman, jauh lebih mudah untuk mencegahnya dari awal.
Sehingga aku percaya, kalau prinsip "hindarilah situasi yang bisa membuatmu disalahpahami", sebenarnya tidak sepenuhnya dimaksudkan untuk memuaskan orang lain, melainkan untuk melindungi diri kita sendiri.
Memilih untuk tidak menempatkan diri di situasi yang ambigu sejak awal adalah investasi untuk menjaga peace of mind. Sebuah life hack; cara kita menyayangi diri sendiri agar tidak perlu menanggung beban sosial yang tidak perlu.
Bagaimana pun, mengontrol perilaku diri sendiri jauh lebih mudah dan hemat energi daripada mencoba mengontrol persepsi ratusan kepala orang lain.
Jika dulu aku melihat prinsip itu sebagai bentuk penyerahan diri—ketundukan pada penilaian orang lain atas diriku—kini, tidak lagi. Ini adalah otonomi.