Andai saja,
Kau tau wulan, sudah berapa banyak skenario cantik tentang hidup sebuah nona yang merelakan separuh hidupnya untuk tetap tegak dalam gubuk tua yang kian waktu hendak roboh?
Nona dulu dapat berjalan diantara hembusan angin yang terkadang membuatnya menggigil tapi kini bisu menghadapi tornado yang mampu membuatnya mati. Walau itu yang sebenarnya ia cari.
Ia dulu amat naif, berkata bahwa apabila mampu mengendalikan hal kecil lainnya yang tampak besar akan mampu ia kendalikan.
Omong kosong.
Nona merintih, menangis, meraung. Di dalam sebuah kubangan hitam yang terbenam jauh di dalam jasadnya.
Andai. Andai ia mampu kembali leluasa menentukan warna langit apa yang menggambarkan dirinya. Andai ia mampu mencuri pelangi untuk dijadikan hiasan dinding kamarnya. Andai ia mampu menyebrang menuju tempat dimana awan dapat ia hirup.
Andai yang kini menemukan titik jenuh.
Nona lelah menerka apa yang akan melaluinya esok hari.
Gala N.
Yogyakarta, 22 Agustus '22











