HUJAN ITU TELAH REDA SEPENUHNYA
Sc: Lovely Runner K-drama
"Time won't make you forget, it'll make you grow and understand things."
Saya pernah terjebak dalam suatu fase kompleks selama masa remaja. Ada hari-hari tertentu ketika saya menyalahkan waktu yang tidak mampu mengobati kesulitan melupakan musim hujan paling panjang dalam hidup. Dunia seolah tak bosan mengirimkan hujan itu selama hampir tujuh tahun meski saya hampir mati tenggelam sendirian. Entah bagaimana, suatu hari hujan itu berhenti sepenuhnya.
Harus diakui awan-awan gelap itu betah menggantung di langit karena saya merangkulnya erat-erat. Terkadang saya terpaku begitu lama tanpa menyadari hari demi hari saya semakin kuyup. Seperti orang bodoh, tubuh ini menolak sadar bahwa hujan itu kapanpun dapat merenggut nyawa saya.
Tahun-tahun berlalu, saya makin "terobsesi" menenggelamkan diri. Adakalanya kepala saya dipenuhi air dan permukiman di dalamnya porak-poranda. Kian hari hujan yang tak mudah dirangkul itu menjelma sebuah wajah dalam film yang saya tonton, orang-orang yang saya temui, benda langit yang saya pandangi, bunga tidur yang saya tangisi hingga fajar, isi kepala yang dipikirkan sepanjang hari, jalan yang saya lalui, buku-buku yang saya baca, dan mungkin ribuan kata yang saya simpan rapi di arsip memo.
Ternyata menghadapi hal yang sama bertahun-tahun membuat saya kehilangan arah. Untuk pertama kalinya saya merasa tak mampu memeluk hujan itu di lengan saya. Kemudian saya memberanikan diri berteriak mengatakan hujan itu hampir membawa sisa-sisa kehidupan saya pergi. Beberapa orang pun datang menarik saya pergi jauh. Tuhan sungguh bermurah hati saat Ia menggerakkan orang-orang ini secepatnya.
Bagaimana cara saya meredakannya? Hal pertama yang dilakukan adalah menyadari bahwa saya dan hujan itu hanya kebetulan melalui perlintasan yang sama. Saya hanya terlalu naif di usia belia untuk memahami berbagai hal. Selanjutnya saya menerima bahwa bila merangkul lebih lama lagi kemungkinan besar saya akan kehilangan akal. Saya memutuskan untuk berbicara dengan orang lain—yang sempat saya yakini tidak lebih baik dari menulis di kertas-kertas kosong. Terakhir, hal paling berani yang pernah saya lakukan seumur hidup, menghadapi hujan itu sekali lagi, melepaskan rangkulan, dan mengucapkan salam perpisahan dengan manis.
Sekarang saya dapat berjalan lebih jauh. Rasanya bahagia kembali hidup normal seperti sediakala. Tentunya saya sesekali masih teringat akan hujan—sangat mustahil bila harus melupakan sepenuhnya—misalnya ketika saya menemukan beberapa hal yang tidak sengaja terasosiasi dengan dirinya. Namun, itu tidak berarti musim hujan akan kembali terjadi. Saya hanya mengingat masa-masa itu sebagai salah satu bab paling indah yang Tuhan tulis. Bab itu sudah selesai ditulis sekarang.
Terima kasih dan selamat tinggal, hujan.
Leonny Eudia La Jemi, 10 April 2024