BLURB I "Ga,” panggil Al ketika Rangga mulai melangkah meninggalkan halaman rumah Syafa. “Ya, Kak?” “Subuh di Jogja itu jam setengah lima.” Al berkata sambil tersenyum simpul. Ini kisah seorang pemuda tampan, rupawan hingga memiliki deretan mantan Pacaran adalah irama hidupnya Ini cerita seorang pemuda yang sibuk dengan urusan dunianya hingga melalaikan waktu-waktu salatnya bahkan dia tidak tahu bilamana azan Subuh dikumandangkan Namun nyatanya hidayah bisa datang kapan saja dengan cara tak terduga Dia menjadi luar biasa setelah mengenal Islam Dia yang dulu dicela, kini menjadi idola. Seperti judulnya, cerita ini Serenyah Rasa. Jika menginginkan literasi yang bergizi dan penuh nutrsisi, Serenyah Rasa cocok menjadi asupan yang bisa menyentil dan menohok nurani dengan halus. – Tinny Najmi, Penulis Novel The Dearest Mendengar judulnya saja amat menggelitik rasa. Mengakrabi karakternya serasa mengukuhkan iman di dada. Syafa mengajarkan bagaimana seharusnya teguh memegang agama. Dari Rangga, kita bisa belajar berproses menuju lebih baik dan belajar ilmu ikhlas. Serenyah Rasa memberikan sugesti, cinta karena Allah akan selalu indah dan megah pada akhirnya. — Jahar Haiba, pegiat buku, literasi dan pecinta sastra Islami. Cc @kaknia_ @lainilaitu https://www.instagram.com/p/B4Bj-NrhNQG/?igshid=7o2x43qgbxxy













