Langkah kian merapuh, namun pundak pura-pura kukuh. Tangis kian pecah, namun senyum tetap merekah.
Ra, masih sama kah senyummu? Merekah seperti sebilah sabit menuju purnama sempurna di tiap bulannya? Sudah berapa lama semenjak isak tangismu itu kau perdengarkan pada ku dulu saat tubuhmu lelah dan kau berkata hatimu patah, ku harap Ra, semua itu sudah berlalu. Tangis sendu mu tak lagi beradu dengan senyum manismu yang penuh tipu itu.
Kita ini memang suka sekali menipu orang lain kan Ra? Berkata semua baik-baik saja namun nyatanya hati sudah tak karuan adanya. Berkata semua sedang buruk-buruknya namun senyum tetap merekah seperti senja yang menjingga di ufuk barat sana. Sering kali Ra, manusia itu tak pernah mau peduli dengan apa yang tersembunyi, mereka selalu merasa apa yang tampak di depan mata adalah apa yang sebenar-benarnya ada.
Masihkah ingat bahwa apa yang kita lihat belum pasti ada dan apa yang tak terlihat pun belum pula tak pernah ada, semuanya itu semu Ra. Perasaan-perasaan orang-orang yang sering kali diumbar di media sosial itu pun pikirku juga hanya contoh kecil dari itu. Seringkali sepasang kekasih yang memajangkan foto mesra berdua di media sosial dengan caption tulisan paling romantis sekalipun sebenarnya hanya sebuah pencintraan pada kawan-kawan di jagat maya saja. Maka dari itu aku tak pernah mau nenunjukkan pada jagat maya itu bagaimana kita, bagaimana purnama sempurna milikmu bertemu cahaya redup surya yang belum nampak di pagi buta milikku.
Ra, selama hidup yang ku jalani ini banyak sekali kebohongan yang ku tampakkan pada mereka, mungkin padamu juga. Seperti saat aku bilang padamu bahwa hidup akan baik-baik saja. Kenyataannya tidak begitu Ra, terkadang hidup ku, ada di perbatasan antara kemauan untuk hidup dan keinginan untuk mengakhirinya, batas-batas antara patah semangat dan kewajibanku untuk menyemangati orang lain, sementara orang-orang tidak ingin peduli dengan apa yang sebenarnya kita rasakan.
Orang-orang yang melihat orang lain putus asa akan selalu mengingatkan sedikit menengok ke belakang untuk berkaca bahwa apa yang terlewati selama ini lebih berat, mereka hanya tak tau bagiamana perasaan kita saat ini bahkan mereka hanya mencoba menipu hati Ra. Mereka mungkin sebenarnya tau bagaimana perasaan itu tak semudah itu untuk pulih, untuk benar-benar sembuh, karena aku pun percaya beberapa dari mereka pasti pernah merasakannya.
Hidup ini memang kurang ajar Ra, sering ku katakan padamu juga kan? Bahwa yang paling kurang ajar di dunia ini adalah sang waktu. Ia benar-benar apatis sekali Ra, tak mau menunggu barang sejenak, dan tak mau mempercepat barang sekejap. Tapi darinya kita belajar untuk tetap berjalan kan Ra? Darinya kita belajar untuk menipu hati kita berkali-kali, menipu orang-orang dengan senyum merekah walau sebenarnya isak tangis ingin sekali tumpah.