Aku terjaga tepat pukul 2 dini hari. Bukan karena mimpi seram atau bertemu idola, namun mimpi absurd yang menjawab keresahanku selama beberapa tahun belakangan. Seperti alam bawah sadarku yang ingin memberitahu bahwa setiap keresahan, kecemasan, ketakutan yang kualami, diri sendiri jugalah yang tahu penyembuhannya.
Mimpi itu masih teringat jelas hingga saat ini. Aku duduk di kursi penumpang pada kendaraan roda dua yang mengantarkanku ke sebuah rumah, menyusuri deretan pohon-pohon besar dan kokoh.
Ketika sampai di halaman rumah asing itu, sang pengemudi berkata, “Rumah itu tidak ada kuncinya.” Ia lalu sengaja menabrakkan kendaraannya ke pagar besi yang juga tidak memiliki kunci. Bunyi berdentang barusan dipakai olehnya sebagai “ketukan” agar si empunya rumah keluar.
Seorang wanita berkerudung keluar rumah. Wajahnya bersih dan teduh, senyumnya berwibawa, lalu ia berjalan menghampiriku dan bertanya dengan suaranya yang tak kalah berkarisma.
“Apa yang kaucari di sini?” Sebuah pertanyaan ganjil dan lekas kujawab tak kalah ganjil. “Aku mencari ketenangan,” kataku.
Aku tidak percaya dengan jawabanku sendiri. Namun, tatapanku begitu pasrah dan payah.
Itulah jawaban paling jujur yang pernah kusampaikan dalam hidupku. Wanita paruh baya itu tersenyum. Wajahnya memiliki karisma yang sama dengan guru mengajiku saat belajar di surau dulu.
“Apa yang membuatmu tidak tenang?”
Pertanyaannya membuatku kembali mengingat semua peristiwa yang pernah kualami. Cemas, takut, kecewa, pahit, kosong, hingga mati rasa.
Seakan tahu apa yang kupikirkan, ia kembali bertanya, “Apa kauyakin apa yang kaucari ada di sini?” Aku menatap matanya dalam.