"Ayok mas, sehat-sehat ya, masih 30 lho"
"Siap dok 😁"
"Allahumma inni as alukal-afiyah"
seen from China
seen from Brazil
seen from Bulgaria

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Guatemala

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Chile

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Brazil
"Ayok mas, sehat-sehat ya, masih 30 lho"
"Siap dok 😁"
"Allahumma inni as alukal-afiyah"
Sebelum hujan, Allah telah beri pertanda untuk langit yang semakin meredup. Suara gemuruh sebagai peringatan untuk segera mengangkat jemuran. Gerimis untuk upaya segera berteduh bagi para pengguna jalan. Dan hujan akan dengan damai menyejukkan suasana panas yang sempat menerpa. Memunculkan setitik senyuman akan suatu memori mengganggu yang sempat terpendam barang sejenak. Sebagian dari orang yang mengharapkan cuaca itu berani berdiri mewakili perasaan dalam guyuran sucinya air hujan kala tengah menengadah. Meluapkan segala rasa yang terlalu lama menumpuk. Menguapkan timbunan rindu.
Dina and Me
Hujan
Sebelum hujan udara terasa lebih hangat
"Pasti mau hujan." kata Ibu
Balasku selalu, "Perasaan Ibu aja kali."
Lalu hujan
Lebat
Lengkap dengan petir, gemuruh, beserta badainya
Kamu pun begitu, seperti hujan
Hatiku lebih hangat dari biasanya
"Mungkin kamu suka dia." kata Indi
Balasku hanya, "Ah itu asumsimu saja."
Lalu kau datang
Lantang
Lengkap dengan petir, gemuruh, dan badainya
Tapi hujan reda,
kamu tidak
TENANG
Gemuruh pukul sembilan malam
samarkan bisik-bisik resah,
gemercik air redamkan pitam
tenangkan yang berlalu sudah.
— Purwakarta, A.
TEMAN
Tak sekalipun mengeluh, pada riak gemuruh cemooh merendahkan
umpama lagu yang acapkali kudengarkan, nada-nadanya menyiratkan kehancuran.
Dan mataku lelah,
melihat tiap kata tersusun
menjadi sajak sendu pilu yang ragu kutulis untuk mengatakan pada semesta
bahwa aku ini sedang setia bersama duka.
Ada lagi resahku pukul sembilan malam, sampai terlelap
adalah hening yang hening, cekam yang cekam, dan
kosong yang kosong.
Harapan hanyalah delusi, bagiku.
Suara teman yang hangat, salah satu memori yang menjadi halusinasi
samar, samar,
mendekat, dan hilang.
Ruang ini semakin menghitam
sedang aku hanya mengalah pada mengeluh,
lelah juga perlahan luluh.
Kabur pandang pada kabar,
juga ikrar yang dulu akbar, kini
menghilang sebab terhalang.
Aku pergi ke warung remang yang mulai lapuk
dan bertanya berapa harga sebuah peduli,
anak kecil yang melayaniku itu sulit mendengar,
senyumnya kaku.
Tuhanku yang galak,
bunyi kertap itu... ditutupkah pintu untuk temanku singgah?
Jangan begitu.
Amsalnya angin dari luar itu adalah musim semi yang mendekap hangat.
Di sini,
dingin dan miskin.
— Bandung, A.
Karena kita pelajar kehidupan, Mau belajar atau tidak, Terserah anda Yang jelas, Ujiannya serba dadakan
Ujian hadir dalam memilih ujian, pilihlah satu pijakan untuk seribu langkah di depan, berpikirlah seribu langkah untuk satu ubahan derajat, berpijaklah dalam satu sunyi ketika kau berlari menuju cahaya.
Zikir dan Doa di Mina: Menemukan Kembali Makna Haji
Mentari mulai bersinar di Mina, menandakan dimulainya hari baru bagi jutaan jemaah haji yang semalam beristirahat di bawah langit terbuka. Mereka mengumpulkan kerikil kecil yang akan menjadi saksi dari ketaatan mereka. Dalam momen tersebut, ayat-ayat dari Surah Al-Baqarah, khususnya ayat 200-203, kembali menggema dalam ingatan, mengingatkan kita akan pentingnya berzikir kepada Allah setelah menyelesaikan ibadah haji. Zikir, lebih dari sekadar ritual, merupakan pengakuan bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah. Dalam ayat pertama, Allah memerintahkan agar kita mengingat-Nya lebih banyak daripada kita mengingat nenek moyang kita. Ini adalah panggilan untuk mengubah kebanggaan yang tidak berarti menjadi pengingat akan kebesaran-Nya. Dalam konteks ini, zikir menjadi jiwa dari setiap ibadah, yang mengingatkan kita bahwa hidup kita bukan hanya untuk mengejar harta dan kedudukan, tetapi juga untuk mengingat Allah. Ada dua golongan yang terpisah dalam cara mereka berdoa. Golongan pertama hanya meminta kebaikan duniawi, seperti harta dan kesehatan, tanpa menyadari bahwa kehidupan abadi di akhirat jauh lebih penting. Mereka yang hanya terfokus pada duniawi ini, Allah berfirman, tidak akan mendapatkan bagian di akhirat. Sementara itu, golongan kedua adalah mereka yang mencari kesejatian. Mereka berdoa dengan penuh kesadaran, meminta kebaikan di dunia dan akhirat, serta perlindungan dari azab neraka. Doa ini bukan hanya sekadar permohonan, tetapi juga sebuah pengakuan akan ketidakberdayaan kita tanpa rahmat Allah. Setelah itu, Allah mengingatkan kita bahwa setiap amal yang kita lakukan akan dicatat. Dalam ayat 202, Allah menegaskan bahwa mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan balasan. Ini adalah pengingat bahwa setiap tindakan kita, sekecil apapun, akan diperhitungkan oleh-Nya. Kemudian, dalam ayat 203, kita diingatkan untuk berzikir pada hari-hari tertentu, yaitu hari-hari tasyriq, yang merupakan kelanjutan dari Idul Adha. Allah memberikan keringanan bagi mereka yang ingin cepat meninggalkan Mina, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan makna dari setiap tindakan kita. Apakah kita meninggalkan Mina dengan hati yang terpaut kepada Allah, ataukah kita hanya tergoda oleh urusan duniawi? Melempar jumrah bukan sekadar ritual, tetapi merupakan simbol perlawanan terhadap godaan setan. Setiap kerikil yang kita lempar adalah pengingat akan perjuangan Nabi Ibrahim yang menolak godaan setan ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya. Dalam setiap lemparan, kita menyatakan komitmen untuk terus melawan segala bentuk kesombongan dan ego. Bagi jemaah haji dari Indonesia, keselamatan juga menjadi prioritas. Pengalaman pahit dari tragedi Mina mengajarkan kita bahwa ibadah harus dilakukan dengan memperhatikan keselamatan jiwa. Oleh karena itu, manajemen keselamatan yang ketat diterapkan untuk memastikan semua jemaah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan aman. Refleksi dari seluruh rangkaian ibadah haji ini mengajak kita untuk terus memerangi setan, bukan hanya di Mina, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap langkah kita setelah kembali dari haji haruslah membawa semangat untuk terus beribadah dan berzikir. Haji adalah miniatur kehidupan yang mengajarkan kita untuk tetap taat hingga akhir hayat. Ketika kita meninggalkan Mina, kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan kembali ke kehidupan lama yang penuh dengan kesibukan dunia, ataukah kita akan terus berusaha untuk bertahan dalam ketaatan? Allah menguji seberapa dalam kerinduan kita untuk tetap dekat dengan-Nya. Akhirnya, kita diingatkan bahwa perjalanan menuju Mahsyar adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Setiap amal kita akan dicatat, dan kita harus mempersiapkan bekal untuk pertemuan dengan Allah. Kerikil yang kita lontar di Mina mungkin telah hilang, tetapi catatan amal kita akan selalu ada. Dengan demikian, mari kita jadikan zikir dan doa yang kita panjatkan selama ibadah haji sebagai kompas dalam kehidupan sehari-hari. Kita memohon kebaikan
di dunia agar dapat menjadi ladang amal, dan kebaikan di akhirat agar kita bisa memandang wajah-Nya yang mulia. Haji yang mabrur adalah ketika kita membawa semangat dan nilai-nilai dari Tanah Suci ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Baca selengkapnya di Batuter.Com Link Center : https://tautanku.com/batutercom