Ditempat yang berbeda, kita sama-sama menuai sebuah cerita. Kau dan dia menata bahagia, aku dan sunyi menata perihnya luka. Betapa bara cemburu merebak dalam bungkam, mengukir nestapa pada hati yang terlanjur lebam.
Lantas aku menjadi sosok yang penuh kamuflase:
Sebab senyum merupa tangisan, sebab tangis menjelma senyuman.
— Arief Aumar Purwanto










