Di Nagari Anam Koto Batipuh Padang Panjang ada seorang Tokoh perempuan " Pandeka Silek Tuo, keahliannya randai, silek, dendang, saluang, Maestro Seni Traditional Dari Sumbar. Meski dia di tentang oleh masyarakat di lingkunganya, dia tetap dengan santun dan rendah hati , untuk mengajarkan orang dalam ba silek dan menegakan kebenaran, dia menentang KDRT... ( salut.., masa itu sudah ada juga pejuang pembela hak perempuan yahh.. Di usia 105 Tahun dia masih lincah dalam ba silek, gerakannya luwes dan ringan,, meng kipas (palantiang / malantiang) sesuai arti namanya. Di Nagari Lundang Payakumbuh juga ada seorang anak yang ketika lahir di beri nama Rina Afriani, dari cerita ibunya, Afriani itu karna dia lahir di bulan April, tapi di akte kelahiran tercantum bulan Desemberbagaimana kebenarannya Rina sendiri tidak tahu , dia hanya pasrah menerima. Dia adalah Gadis keturunan asli Minang, karna kedua orang tuanya dari Minang, Ibunya berasal dari kota Padang Panjang, dan Ayahnya dari Nagari Ampek Angkek Lasi kota Bukittinggi. Rina adalah anak yang cerdas, ceria, pemberani, mudah bergaul, disenangi banyak orang karna dia juga suka menolong, setia kawan dan parasnya juga cantik. Tapi jangan coba coba mengganggu orang yang dia sayangi seperti saudara atau siapaun, dia bisa memukul dan menghajar lawanya, sehingga teman temanya merasa aman jika bersamanya tak salah dia di sebut Dewi Fortuna.. Dia menghabisi masa kecilnya sampai remaja di Minang, Tamat SMA dia ingin kuliah dia punya cita cita dan ambisi ingin jadi orang sukses karna menurut dia "Miskin itu Hina", namun apa daya orang tuanya meskipun mampu tidak mau membiayai kuliah nya, karna menurut ibunya perempuan itu mentok mentoknya ke dapur juga, akhirnya dia bertekat keluar dari Minang dia pergi merantau ke Riau dengan membawa rasa kecewa, marah, dendam, dia bertekat harus sukses dan akan membuktikan kepada mereka bahwa dia pasti bisa. Dengan modal nekat dia merantau dan tinggal di rumah saudara, tidak lama hanya satu bulan saja dia langsung dapat kerja di PT CPI (CALTEX ) Perusahaan minyak di Rumbai.. Dia memulai dari bawah sampai akhirnya dia bisa kuliah dengan biayanya sendiri, cita cita nya tercapai menjadi orang sukses versi nya sendiri. Jatuh bangun sudah biasa dia lewati, dia perempuan yang tangguh, pemberani, sedikit tomboi, asik dengan dirinya sendiri dan tidak pernah berpacaran seperti remaja lain, dia juga pernah menggeluti dunia perpolitikan ( berawal dari korban politik) dan aktif di Ormas perempuan, sehingga saking asiknya sampai telat menikah di usia 37 Tahun, itupun karna di jodohkan yang berakhir dengan kegagalan, dan menjadikan dia ibu tinggal dengan membawa 3 orang anak. Tahun 2023 dia meninggalkan rantau terakhirnya Kota Batam pulang kekampung asalnya Payakumbuh yang dia tidak sukai Namun karna keterpaksaan hidup sakit dan dimiskinkan pulang kampung adalah hal terbaik saat itu di benaknya. Meski banyak ujian dia tetap tkut dan tegar dia selalu ingin belajar dan mencari jati dirinya, dia ingin hidup tenang dan damai. Setelah di dikampung sekitar bulan April dia berjalan join di Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari dan belajar SMS. Dia tergerak ikut kelas Jurnalis dengan harapan bisa melanjutkan perjuangan, berkarya, mengeluarkan aspirasi, bersuara lewat tulisan .. meski minder Karna usia namun dia ingin melewati Sigelnya . Dari kisah Upiak Palanting timbul hasrat dihati Rina untuk melanjutkan perjuangan nya di Minang ini, Khususnya tentang keyakinan kepercayaan masyarakat Minang sekarang yang menurut pengamatan nya udah jauh melenceng dari masa dia kecil dulu, mengkotak kotak kan dengan nama, tidak mahram, gampang menghakimi, ini dosa itu dosa, hal yang Ilusif dalam beragama, dia berpikir Hall ini perlu di Reformasi ke pada Ajaran Mas Guru yang sedang dia pelajari, semoga terjadilah kehendak Nya.
Saat membaca ulang tulisan saya, malu sendiri jika di bandingkan dengan tulisan kawan kawan yg udah terbiasa menulis, saya sadar ini pengalaman baru bagi saya, saya tidak suka baca dan menulis, saya blom pengalaman dengan menulis, di PR 2 ini terlihat sekali menulis berdasarkan apa yang muncul di benak dan langsung di tumpahkan, tanpa tahu struktur bahasa, ejaan, gaya bercerita, lompat lompat, mengulang kata, bertele tele, saya menyadari banyak sekali yang harus saya pelajari tentang ilmu menulis , saya termotivasi untuk ingin belajar agar bisa menuangkan isi hati dengan baik dan benar.
Amat bersyukur bisa kelas ini.