The goal of the Sufi Tariqah is Complete Ma’rifah (Knowledge of God), not dreams, visions, miracles and predications of the future. Don’t be fooled by all of that. Follow an Arif (knower of God) who can make you an Arif.
Shaykh Ibrahim Niasse (may Allah sanctify his secret.) said:
ﻭ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻨﻞ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ
ﻓﻘﺪ ﺿﺎﻉ ﻋﻤﺮﻩ ﻣﺪﻯ ﺍﻻﺯﻣﺎﻥ
And whoever did not attain the Ma’rifah (Certain Knowledge) of Allah
Then he has wasted his lifetime forever!
New Video: Shariat, Tariqat, Marifat Aur Haqiqat | Sufi Master @younusalgohar | ALRA TV
https://www.youtube.com/watch?v=RbDu5kF0_xY
In this informative talk, Sufi Master Younus AlGohar explains the four main chapters of knowledge available in Islamic Sufism: Sharia (Religious Law), Tariqa (the Path), Marifat and Haqeeqat.
-----------
➡️This video is a clip from Sufi Online with Younus AlGohar, a daily show on ALRA TV streamed LIVE on YouTube at 10 PM GMT - join us here: https://www.youtube.com/alratv/live
❓Have a question for Sufi Master Younus AlGohar? Text your questions to us on WhatsApp: +44 7472 540642 or Facebook messenger: http://m.me/alratv
Watch the live recordings of these lectures every day at 22:00 GMT at: http://www.younusalgohar.com
🎥 Find this video on Daily Motion and Soundcloud
http://www.dailymotion.com/mehdifound...
https://soundcloud.com/younusalgohar/
---
New monthly publications!
The True Mehdi Magazine:
http://www.thetruemehdi.com/
saya tuliskan surat ini sebagai tanda persahabatan kita pada malam hari ini tanggal 15 dzulqaidah 1438H atau pada malam ke 16 ketika bulan purnama benderang di langit yang kelam
Sampai pada malam ini, ketika usia saya menginjak 26 tahun,saya masih belum bisa memahami, kebahagiaan apa dan bagaimana yg kita bawa ketika menghadiri sb pernikahan??
Karena bagi saya pernikahan adalah sesuatu yg besar, berat tanggungjawabnya baik di dunia maupun akhirat
Kepada teman, saya ingin bertanya tentang suatu hal,
Kenapa kalian begitu bahagianya menyambut pernikahan? Tidak takutkah
Saya ibaratkan pernikahan itu seperti ini, seandainya engkau diberikan umur olehTuhan, memiliki hidup selama 60 tahun. Dan katakanlah seperti sekarang ini, kamu menikah di usiamu yang ke 25 tahun, itu artinya kamu akan hidup sebagai istri-dan atau ibu sebagaimana tanggungjawab yang terikat olehnya-selama 35 tahun.
Selama 25 tahun kita hidup, telah dijagakan pada diri kita kedua orang tua kita, namun terkadang keharmonisan kasih sayang itu menimbulkan kekecewaan, amarah, sebel, perasaan ndongkol dsb,tapi kasih sayang tidak akan berubah. Ya,karena mereka orang tua kita. Darahnya mengalir sebagaimana darah kita, DNA sifat karakteristiknya memiliki kurang lebih persamaan dg kita. Sedang kan, ketika dalam pernikahan, kamu akan hidup selama 35 tahun dg orang yg sama sekali berbeda, dia hidup dg sifat dankarakteristik sesuai dg budaya keluarganya, dan kamu tidaklah sama, namun sayangnya, tidak ada ikatan abadi seperti darah yang memepertautkan kalian berdua. Kamu punya jaminan apa untuk berumah tangga?tidak takutkah kamu disia siakan?tidak takutkah perasaan kamu berubah?padahal perasaan adalah sesuatu yang ada di luar kendali kita sbg manusia.
Jujur, saya takut. Takut dg diri saya sendiri.
Ketidakkonsistenan dalam kekonsistenan menjalani kehidupan.
Hal pertama yang saya bayangkan tentang pernikahan adalah, ketakutan
Saya takut kalau nantinya entah saya atau dia berpulang kepada Tuhan terlebih dahulu, ketika malam memeluk kerinduan, kepada siapa saya mengadukan?
Sebab kematian adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar ataupun ditukar dan ia akan terus hidup selama kita masih hidup
Saya takut kalau seketika perasaan saya berubah hambar, sebagaimana cinta, ia akan mengalami pasang surut nya, dan perasaan adalah sesuatu di luar kendali kita.
Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana berat kehidupan seorang istri ketika berapa tahun pernikahan dari 35 tahun tersebut, suaminya menderita sakit, sehingga tidak bisa memberikan nafkah, bahkan dirinya yang harus tabah dan menjadi tulang punggung keluarga. Bagaiamana, apa kabar hati? Jika datang kepadamu di saat sulitmu, sesuatu yang mungkin mampu menggoyahkan kesetiaanmu, sesuatu yang menjanjikan keindahan dari hidupmu yang sekarang? Dan bukankah sudah sifatnya manusia selalu merasa kurang puas?
Bagaimana dalam 35 tahun itu, jika engkau diuji oleh Tuhanmu dg kekurangan materi? Maka apa kabar hati yang tertunduk pilu ketika anakmu meminta, menangis, merengek, untuk dibelikan baju baru seperti milik temannya, dan kamu hanya bisa menelan ludah pahit, karena jauh dari kemampuan unt mewujudkan keinginanya?
Bagaimana jika seandainya bahtera kalian pecah ditengah jalan selang beberapa tahun, beberapa belas tahun, beberapa puluh tahun kemudian dari 35 tahun itu?
Setelah kehidupan terasa lengkap, dikaruniai anak, dikecukupi harta, namun ternyata bagaikan dua buah garis yang tak selaras lagi. Allah menghendaki kalian berpisah??
“membayangkan hal buruk hanya akan membuatmu takut menikah,” begitu katamu
Saya tersenyum,.....
Saya tidak sedang membayangkan
Saya menyaksikan, melihat, mendengar, dan merasakan....
“kamu terlalu banyak membaca buku...”
Ya, sebab itu sumber pengetahuan saya, untuk mengenal diri saya
Orang seperti apa saya ini??
Sebab saya sendiri yang mampu mengukur, dan mengarahkan seluruh diri saya, kecuali nafas dan kehidupan di dalamnya.
Saya hanya ingin menyadari satu hal,,,,kebahagiaan kita tidak diukur dg pernikahan, banyaknya anak, atau kecukupan materi.karena kesemuanya...dalam sekejap bisa hilang, berubah, diganti...
Apapun fase hidup yang kita lewati, diri kita adalah tetap,kematian adalah tetap.
Dg menikah, kita tidak bisa langsung menjadi manusia mulia
Dg belum menikah, bukan berarti kita tidak bisa mencapai kesempurnaan diri
Tergantung bagaimana kita mengolah hati dan pikiran kita untuk selalu merasa bahagia
Membangun optimisme di dalam kesedihan
Belajar mencari kebenaran, tanpa perlu menyalahkan
Terus dan terus berusaha mengenali diri, mengolah jiwa, untuk menciptakan rasa nyaman dg diri kita sendiri, sehingga muncul outputnya adalah kita bisa membuat diri kita easy going dg apapun masalah kita, siapapun partner kita.
Dan sekali lagi, hidup terasa melelahkan jika yang menjadi tujuan kita hanyalah dunia. Berkeluarga, beranak, berharta, berderma, berpangkat, berkedudukan. Terasa melelahkan....
Ada atas, diatas segalanya....
Semoga apapun fase hidup yang kita lewati - yang pada akhirnya akan tetap kita tinggalkan, beserta tinggalnya nyawa kita- semoga Allah tetap menjadi tujuan sejati.
Sehingga sempurna kematian kita akan segala keinginan yang tak berkesudahan
Sehingga sempurna tauhid dan iman kita dalam ketaqwaan
Sempurna amal ibadah kita- karena dia satu satunya teman sejati di dalam mati-
Sehingga sempurna tujuan hidup kita, adalah baik ketika di dunia dan baik ketika sesudahnya.
Sempurna, hanya Allah satu satunya yang menjadi sumber segala kebaikan
"Shariah is for Nafs, Tariqah is for body and Heart, Haqiqah is for Soul and Marifa is for the Inner Secret.
The Shariah is only for the Nafs as every Nafs needs a cage to keep it tame, but some are already tame.
Tariqah is for the Soul and gives the Soul Nourishment, allowing it to breathe and be free and roam with love and taste love.
Haqiqah the Truth, is tasting or the experience gained from Tariqah practices, its a state of mind and being it must be experienced.
Marifa: After tasting divine realities Haqiqah, your giving Marifa special Knowledge, Divine Gifts as provision."
Love and Peace - Sufi Synergy Healing Approach
Knowledge of Allah.
Imam Abu al-Qasim al-Qushayrī (rahimahullah) reports that Sayyidah Aisha Siddiqah (radiAllahu anha) said:
“The foundation of support for the house is Deen. The support of deen is knowledge of Allah” (The Most High).
Junaid Baghdadi (rahimahullah) said:
“ how will you become arif?
“You will not be able to get knowledge of Allah unless you be like earth, humble.”
Hazrat Bayazid Bastami (rahimahullah) said:
“The knowledge of Allah is acquired by abandoning that which belongs to you and keep the duties that are due by you to the people.”
Hazrat Dhul-Nun-al-Misri (rahimahullah) said:
“One sign of a person who has knowledge of Allah is that he has empty thoughts of the world and only remembers Allah (Ismul Jalaalah). The company of the Arif is like having the company of Allah - he treats you with gentleness and kindness.”
Musing: In the book "The Degrees of the Soul" Shaykh Shabrawi, talks about the third stage of the soul, where the unseen opens, however the Shaykh goes on to warn, at this stage the seeker cannot still differentiate between information that comes from the good and the bad entities, for the person has not yet mastered their ego and often this puts one at risk. The goal is MarifatAllah, and not the unseen. If your goal is 'seeking' angels, jinns and clairvoyance, it is a distraction from Allah. Whatever you recite, do it for Allah's satisfaction. Prophet Muhammad (peace be upon him) was seeking Allah Subhana wa Ta’Ala in the Cave of Hera, that angel Jibril alayhi salam came to him with revelation, was a consequence, not the purpose of his seclusion.
انسان کو اللہ تعالیٰ نے اپنا راز قرار دیا ہے۔ اسی لیے یہ بڑی پیچیدہ مخلوق ہے۔انسان کی تمام زندگی اپنی ہی ذات سے متعلق رازوں کی گتھیاں سلجھانے میں گزر جاتی ہے۔ کوئی کائنات اور اس کی تخلیق کی تہہ تک پہنچنے کی جستجو میں مشغول ہے تو کوئی اس کرۂ ارض کی حدود سے باہر نکل کر ستاروں پر کمندیں ڈالنے کی جستجو میں مگن ہے۔ مکمل مضمون پڑھنے کے لیے نیچے دیے گئے لنک کو وزٹ کریں:
زندگی آمد برائے بندگی
زندگی بے بندگی، شرمندگی
یعنی ہمیں زندگی فقط بندگی کے لیے ملی ہے، اگر بندگی نہیں کریں گے تو یہ زندگی شرمندگی ہی شرمندگی ہوگی۔(مولانارومیؒ)
اللہ سبحانہٗ و تعالیٰ نے ہم سب کو اپنا بندہ بنا کر بھیجا ہے اور یہ وہ اعزاز ہے کہ جس کا نعم البدل ممکن نہیں۔بندگی وہ عروج ہے جو نفس کے زوال سے شروع ہوتا ہے۔ یہ وہ کمال ہے جو انہیں نصیب ہوتا ہے جو ایک در کے سوا کسی دوسرے درپر نہیں جھکتے۔ مکمل مضمون پڑھنے کے لیے نیچے دیے گئے لنک کو وزٹ کریں: