Membenci
Siapa yang membenci, pasti akan dibenci.
Mungkin pada umumnya, omongan itu benar, meski terkesan salah juga. Tapi, bicara tentang benci membenci rasanya kita harus belajar siroh Nabawiyah, terlebih dahulu; setidaknya kita jadi tahu bagaimana seharusnya seorang muslim dalam memandang hal ini, agar sesuai yang dicontohkan nabi. Sebab, dalam kalimat syahadat yang selalu kita ucapkan dalam sholat, kita ga sebatas mengakui kalau Allah Rabb kita, tapi juga Nabi Muhammad sebagai nabi kita, yang mana salah satu konsekuensinya adalah kita harus belajar dan mengikuti bagaimana beliau 'bersikap'.
Nah, dalam masalah membenci dan dibenci, adalah beliau yang sangat tidak mempermasalahkan apabila beliau dibenci oleh orang lain sebab diri beliau, sebab pribadi beliau. Tapi akan jadi masalah besar, apabila yang dibenci, dilukai, dan dicerca adalah agama yang beliau bawa, islam. Jadi, yang membuat beliau terluka atau menimbulkan ketidaksukaan terhadap sesuatu adalah saat islam ternoda. Dan demikian pula sebaliknya, beliau hanya akan membenci apa-apa yang memang 'dibenci' oleh islam itu sendiri, dibenci oleh Rabbnya.
Pun, saat beliau membenci sesuatu, atau bahkan seseorang, yang beliau benci bukanlah orang tersebut, tapi justru tindakannya, perbuatannya, bukan pribadinya. Sebab setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Tapi yang namanya perbuatan buruk, apalagi yang memang sudah dijelaskan dalam islam: kedzaliman, ketidakadilan misalnya; adalah mutlak hal yang buruk.
Makanya, selama berdakwah di Mekkah, meski beliau mendapat berbagai perlakuan buruk dari kaum kafir Quraisy ; mulai dari ejekan, cemooh, peletakkan duri di jalan yang biasa beliau lalui, bahkan sampai peletakkan kotoran hewan di punggung beliau saat beliau sedang sholat, beliau tidak masalah; selama bukan agamanya yang dicoreng. Akan tetapi saat islam yang diganggu, maka beliau pun menunggu acc dari Allah untuk tindakan berikutnya. Balas dendam? Aduhai, itu justru jauh sekali dari kamus kehidupan beliau. Sebab, saat kesempatan untuk 'balas dendam' datang di tahun 8 H, tepatnya saat kejadian fathu Makkah, yakni pembukaan kota Mekkah oleh pasukan Muslim yang sudah kuat, Rasulullah tidaklah menumpas habis rakyat mekkah yang dahulu menginjak-injak beliau, tapi justru beliau membebaskan mereka.
"Pergilah, kalian adalah orang bebas," begitu ucapnya.
"Siapa yang membenci, pasti akan dibenci". Apabila hal ini menjadi pembenaran untuk membenci semua orang, maka rasanya harus menilisik lebih dalam lagi; siapa dan sebab apa dibenci, dan sebenarnya siapa dan mengapa kita bisa membenci? Sebab, tak semua kebencian adalah hal yang salah; benci pada maksiat misalnya, apakah salah?
Bisa jadi, justru dengan membenci apa yang dibenci oleh-Nya adalah hal yang mendatangkan kebaikan, asal ekspresi kebenciannya pun harus sesuai dengan cara yang dibenarkan-Nya!
Wallahu a'lam. (04/05/21)
---
Halo dashboard biru tua yang sudah aku tinggalkan sejenak! Selamat menikmati malam ganjil, malam ke 23 Ramadhan tahun ini! Mari kencangkan sabuk, jangan berhenti untuk belajar dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik!














