Satu hal yang bisa disyukuri jika kamu terlibat dalam sebuah organisasi adalah berani mengambil keputusan.
Dulu saat ku masih aktif-aktifnya di organisasi dunia perkampusan, pilihanku terjun menjadi koordinator di beberapa acara membuatku banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang tak sejalan. Jadi waktu itu ada satu agenda organisasi yang memilih ku sebagai koordinator acaranya. Ada empat sub acara yang waktu itu harus ku kelola. Salah satunya bedah buku.
Ternyata memang mendatangkan penulis itu pekerjaan rumah yang amat sulit dan tak bisa diremehkan, respect banget sama anak-anak humas deh. Berkali-kali undang penulis tapi masalah di budget, berkali-kali juga undang penulis tapi kurang srek di materinya. Pokoknya hal itu hampir saja mengambil jatah kewarasanku.
Hingga akhirnya ku putuskan untuk sedikit mengambil peluang relasi, singkat cerita dapatlah aku satu penulis yang punya nama di tumblr yang juga penulis buku bergenre religius, cocok untuk acara ku kalau itu. Beruntungnya tak ada masalah budget dengan beliau. Acara berjalan lancar walau benar penolakan itu terasa sekali deburannya.
Benar saja, di akhir evaluasi akbar seorang penanggungjawab (di atas ku pasti posisinya) meletakkan banyak evaluasi divisi acara di acara bedah buku tersebut. Dia bilang harusnya kita bisa dapat pembicara yang lebih dari beliau (yang menurutnya kurang terkenal). Harusnya kita bisa mengundang penulis-penulis papan atas seperti A. Fuadi, Habiburrahman, dan sebagainya. Ku hanya menelan ludah di tempat duduk ku sendiri. Ingin rasanya meledak dan memaki si penanggungjawab kegiatan itu, tapi ku sadar saat itu forum tengah berlangsung. Dan mau dikata bagaimana nanti bila anggota-anggota ku yang sudah berjuang berbulan-bulan itu ikut jelek reputasinya hanya karena kepala divisinya marah-marah di forum evaluasi. Ku memilih diam.
Di akhir kegiatan beberapa temen dekat banyak yang merangkul dan berikan ketidaksetujuannya dengan pola pikir si penanggungjawab itu. Dalam hati sangat ku benarkan pendapat teman-teman dekatku kalau itu. Karena memang dia tak tau pasti apa yang terjadi dibalik pengambilan keputusan mengundang pemateri tersebut. Ada berapa pilihan keputusan yang harus ku kalahkan demi mengambil keputusan yang tidak menghadirkan mudharat berkepanjangan. Memang bisa saja kami dari divisi acara semena-mena mengundang pembicara dengan budget lebih dari 30 jt, dan tidak mau tau karena itu tanggung jawab divisi sponsor, atau pilihan lain dihapus saja sub acara lainnya dan sisakan hanya acara bedah buku ini (tapi kan konsep kegiatan besar tersebut adalah buah rembukan bersama, tak adil bila diputuskan sepihak). Karena hakikatnya tidak seperti itu management kegiatan berjalan kan?
Tapi tetap saja yang tidak ku setujui dari respon si penanggungjawab adalah ketika dirinya dan beberapa oknum mencoba menggiring opini bahwa si penulis tersebut "tak bernilai". Puncak kekesalanku hadir tat kala melihat seseorang menilai rendah orang lain hanya karena dia tidak setuju atas apa yang orang lain itu lakukan. Padahal jika dipandang sebelah mata "Keunggulan apa sih yang dia punya sampai menilai orang lain sebegitu rendahnya?". Ah lagi-lagi pikiran negatif mulai merebak isi otakku.
Dari kejadian itu satu hal yang bisa ku pelajari adalah, berbeda pendapat itu wajar. Tapi sangat tidak wajar ketika perbedaan pendapat itu dijadikan bahan bakar dalam cara memandang pengambilan keputusan. Dan saat itu juga ku belajar, bahwa mengambil keputusan untuk terus maju dalam koridor kebaikan dan kebenaran itu sangat sulit. Karena kebenaran dalam setiap pandangan orang pun relatif. Akan selalu ada mereka yang mengusik, ntah dari sudut apapun. Lalu apa yang harus dilakukan?
Pelajari saja dulu sejauh apa keputusan harus diambil. Cari latarbelakang sebenarnya dan pahami apa masalahnya, lalu putuskan sikap apa yang akan diambil. Tak apa dibilang tak searah. Pelaut handal pun tetap butuh bertemu ombak yang besar di lautan luas.
Selamat menikmati masa-masa bingung memilih pilihan kawan, sebelum pilihan itu menjelma menjadi tunggal dan kamu tak punya pilihan lain. Hidup itu dinamis. Perbedaan itu hukum alam. Pintar-pintar dan bijaklah untuk saling memahami :)
@mathmythic @gugunm @sekotenggg @fadhila-trifani @adhit21