Lebih Banyak jadi Telinga
Di awal tahun 2020 yang sedang senang-senangnya jadi antagonis ini, ada satu kejadian yang membuat saya secara pribadi hampir mengalami depresi ringan. Hampir di beberapa malam, perasaan menjadi sesak didukung pikiran yang kusutnya melebihi kusut benang jahit. Tentu ini efek berkepanjangan setelah beberapa bulan terakhir berasa di bawah tekanan secara berulang. Penolakan terhadap kenyataan menambah rumitnya diri saya kala itu.
Pribadi saya yang terbiasa mengambil energi dari luar (ekstrovert) membawa saya untuk bisa menyeimbangkan emosi dengan berbagi cerita kepada beberapa teman terdekat. Beberapa diantaranya saya ceritakan sedetail mungkin. Namun yang tidak saya sadari adalah sebenarnya saat itu saya hanya membutuhkan dukungan atas pilihan yang saya pilih, tidak lebih. Apalagi berpuluh-puluh saran yang diberikan si pendengar yang justru pada akhirnya membuat saya semakin rumit dan kusut. Terlebih ketika kebanyakan saran bertolak dengan pilihan yang saya pilih. Lalu jalan keluar ditemukan? Tidak. Jalan buntu? Iya. Sampai beberapa chat dari teman tergantung status "read" begitu saja, lalu saya tinggalkan.
Hingga satu saat saya menyerah dan menulis sebuah postingan kata-kata yang justru membuat saya kaget terheran-heran dengan respon orang-orang sesama pengguna tumblr, notes nya paling tinggi dari sekian banyak postingan saya di tumblr pribadi ini, 34 notes. Wow! Begini isinya:
I don't need a thousand solutions. I only need a support.
Ternyata bukan saya sendiri yang merasa seperti itu :'
Akhirnya saya belajar kembali tentang satu hal menjadi orang dewasa. Menjadi dewasa berarti harus siap menjadi telinga. Tak jarang kita menjadi orang yang di cari orang lain untuk mendengar ceritanya, tapi tak jarang justru kita yang akhirnya menjadi mulut. Lupa posisi bahwa ia yang bercerita membutuhkan dua pasang telinga. Mereka sesungguhnya tak butuh solusi apa-apa dari kita sebagai orang luar, karena ia sudah punya pilihannya sendiri. Mereka hanya butuh dukungan. Kita tak berhak menentukan apa-apa, karena memang dia yang tau alasan atas setiap pilihannya. Jika dia bingung di antara pilihannya, boleh kita utarakan pilihan kita, namun tetap bilang padanya, "pilihan akhir tetap ada di kamu, karena kamu yang lebih tau kondisinya, aku dukung apapun pilihan kamu".
Lalu tinggal tunggu sang waktu bekerja. Setidaknya orang yang bercerita akan tetap merasa dirinya ada. Dan mendapatkan kenyamanan dari orang yang dia percaya. Maka dari pengalaman itu saya kembali belajar:
Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak menjadi mulut, beralihlah menjadi sepasang telinga. Karena mungkin itu maksud Tuhan ciptakan satu mulut dan dua telinga, agar kita lebih banyak mendengar ketimbang berbicara.
Bukankah memang seperti itu cara kerja orang bijak? Mendengar dan mendengar, baru berbicara bila memang ia diharuskan untuk berbicara.
Jadi, selamat terus belajar kawan. Kita belajar bersama membuat lingkungan ternyaman bagi diri kita juga orang lain :)
@fadhila-trifani @sekotenggg @gugunm @mathmythic @adhit21