Berlayarlah kembali, Puan. Menempuh samudra yang pernah kita lupakan. Meringkas jarak yang kian bertambah seiring langkah kepergian terus mengiringi perjalanan kembali.
Aku tidak memintamu untuk menuntaskan apa pun yang telah kamu putuskan di dalam hidupmu. Aku hanya memintamu untuk berpikir sejenak dan berlayar kembali ke samudra yang hidup di dalam matamu itu. Pada ombak yang lama tak mendeburkan kenangan ke kapal kita.
Bagaimanapun juga, mencintaimu ialah dasar dari segala cinta yang kelak akan kuberikan pada sesiapa pun setelah kamu. Padanya, aku kelak akan merajut kisah demi kisah sedangkan apa yang pernah hadir di antara kita, segalanya telah usai menjadi sebuah selimut di antara dingin kesendirianku.
Rindu menjadi kata yang begitu kelu. Lidah serupa terbelenggu hanya untuk menyampaikannya. Dada ini menjadi lebih sesak mengingat jejak-jejak yang pernah kamu titipkan di dalamnya.
Tiada hal yang bisa membuatmu memutar kemudi perjalanan dan berbalik menujuku. Tidak, tidak ada. Sekalipun ada, aku hanya tumbuh menjadi seseorang paling jahat di bumi ini. Memisahkanmu dari bahagia yang telah ditentukan arah perjalanannya.
Aku hanya ingin kamu berlayar kembali sejenak, lalu kita bicara tentang kehidupan masing-masing sampai senja tiba. Biarkan jingga yang tersemat di atas langit menjadi warna yang akan hidup di dalam perasaan masing-masing.
Sampai kapan pun, aku akan selalu mencintaimu. Meskipun tidak harus menjadi seseorang yang selalu ada di sampingmu. Makna cinta lebih luas dari itu, bukan?
Ketahuilah, setelah ribuan detik bergegas pergi, aku akhirnya sadar seperti apa makna cinta yang sebenarnya. Sadar seperti apa makna jarak yang sebenarnya. Karena itu, Puan, berlayarlah bersama kembali sejenak. Aku tidak akan membawamu ke dermaga perasaanku.
Sebaliknya, aku ingin membawamu pada sebuah dermaga di mana kelak aku akan berhenti—agar kamu tahu, bahwa denganmu, aku akhirnya bisa menemukan jalan kembali untuk mencintai seseorang lainnya. Jakarta, 18 Juli 2019
















