Ku pikir ceritanya tlah usai (1)
Ada yang mengatakan sebuah lagu, suasana, pemandangan, foto dan bahkan sebuah buku merupakan pengingat waktu.
Bermaksud menikmati me time bertemankan buku dan segelas kopi, aku duduk di salah satu meja yang disediakan oleh mini market. Ku pikir aku akan lebih mudah mendapatkan feel dari buku yang ku baca. Saat itu aku sedang membaca buku karangan Tere Liye “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”
Aku meresapi tiap rangkaian kata yang dikemukakan oleh Tere Liye, begitu apik dan mengena tentang cinta ‘bertepuk sebelah tangan’ seorang anak manusia.
Kisahku dan kisah pemeran utama beda tipis, kami jatuh cinta oleh sosok malaikat dalam hidup kami. Suasana sore kala itu ditemani awan kelabu yang menggantung setia di langit, menambah feel dari bacaanku.
Aku terseret oleh cerita novel tersebut hingga tak sadar ku bawa diriku pada kisahku sendiri. Tentangnya. Yah, lelaki itu. Lelaki 7 tahunku.
Aku tak akan pernah lagi mengingat tentangnya, semua cerita, puisi prosa dan apapun berkaitan dengannya tlah ku tutup rapat semenjak setahun lalu. Semenjak ia bersanding bersama pujaannya. Di pelaminan.
Akhir kisah pemeran utama itu, membuatku semakin meringis. Ada sebuah luka yang sudah mengering, terbuka, mengeluarkan perih tak tertahankan. Kenangan begitu saja, begitu cepat, menyayatku tanpa ampun. Aku menangis lalu menjerit dalam hati, ku sadar diri tak boleh ku lakukan keras-keras sebab aku ada di keramaian.
Rasanya, dadaku semakin sesak karena menahan diri.
Aku menyelesaikan buku itu dalam 2 jam, yah 2 jam, waktu yang cukup lama hanya untuk menghabiskan sebuah buku yang tidak seberapa lembar. Namun, setiap cerita yang di alami pemeran utama menghantarkanku pula ke ceritaku di masa lampau.
Setelah menyelesaikannya, aku terdiam. Tergugu. Memandang sekitar dengan tatapan kosong.
Hatiku sudah melolong kesakitan, namun wajahku masih datar saja. Kosong.
Pemeran utama itu merelakan kekasih hatinya untuk bersama istrinya meskipun ia tahu saat-saat terakhir bahwa cintanya terbalas, bahwa cintanya tersambut. Ia tidaklah cinta sendirian, ia tidak berjuang sendirian.
Lukaku semakin bernanah, semakin perih.
Aku selalu sendirian. Berjuang. Bertahan. Rindu bahkan cinta. sampai kapan pun. AKU SENDIRIAN.