Percaya
Apabila kau berani menggantungkan harap pada manusia, padahal kau tau hal itu akan mempertaruhkan rasa kecewa, mengapa tetap saja melakukannya? Oh memang bukan kamu, melainkan hatimu sendiri, rasa itu mengalir dengan sendirinya, lalu mengantarkanmu pada asumsi-asumsi tak berarah.
Percayalah, apabila kau masih saja menaruh kepercayaan pada seseorang yang tidak jelas bagaimana ranahnya, lalu ternyata diam-diam ia mengkhianatimu, sungguh, itu adalah kesalahanmu; kamu tak benar-benar belajar dari masa lalu. Atau mungkin, sebenarnya ia tidak berkhianat, melainkan pikiranmu itu yang menghancurkan dirimu sendiri.
Maka dari itu, cobalah untuk percaya pada dirimu sendiri, bukan ia. Tak perlu berbuat macam-macam dengan Sang Maha; berpaling dan berkhianat dariNya. Jika pada akhirnya ia pergi meninggalkanmu, anggap saja ia sudah kalah satu. Kamu; masih bertahan dengan kesetiaanmu. Dia; memilih pergi karena sudah tak percaya.
Pada akhirnya, dirimu sendirilah yang senantiasa percaya dan bertahan dalam ketaatan. Bersyukurlah, Ia tak membiarkanmu dalam jurang yang membinasakan.
Pena Imaji



















