Aku Membencimu, tapi Tidak dengan Keimananmu
Aku tahu, memang tak pernah ada yang baik-baik saja setelah keputusanmu saat itu. Aku tak peduli apa alasan dibaliknya, sebab bagiku, setiap manusia berhak untuk memilih jalannya masing-masing.
Aku tetap akan membencimu, tapi tidak dengan keimananmu. Aku hanya membenci seseorang yang meninggalkanku, tapi aku takkan membenci seseorang yang mencintai Rabbku.
Aku akan berusaha menerima kenyataan, bahwa kita memang tidak ditakdirkan sejalan. Aku akan berusaha memaafkan, atas setiap perlakuan. Dan aku, akan terus berusaha untuk lapang, atas takdir yang telah Ia gariskan. Beribu maaf kuhaturkan, sebab aku juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Akan kubuktikan, bahwa penilaianmu terhadapku; yang juga menjadi alasanmu pergi, tidak pernah menjadi kenyataan.
Aku akan berusaha bertumbuh dengan caraku sendiri. Aku tidak akan berhenti, meski harus tertatih. Sebab sedari dulu, yang menjadi tujuanku untuk terus berjuang bukanlah kamu, tapi Ia Yang Maha Pengasih. Aku percaya, jika aku memohon ridha dariNya, maka Ia akan memudahkan langkahku sampai nanti. Hingga pada akhirnya kamu akan mengerti, bahwa setiap bunga akan mekar pada waktunya sendiri.
Aku tahu, memang sulit menjalani hari-hari dengan bayang penyesalan. Meski akupun mengira keputusan ini akan mudah, nyatanya tidak demikian. Biarkan tetes airmata itu bercucuran di waktu dan tempat yang tidak pernah kita inginkan. Sebab, itu juga akan menjadi pengingat dan pelajaran untuk kita di hari-hari yang akan datang.
Masa lalu selalu ada di belakang, tapi hidup akan terus berjalan ke depan. Mulailah menata kembali yang hancur berserakan, menjejakkan keyakinan, dan memantapkan langkah dengan iman.
Surabaya, 30 November 2019 | Pena Imaji