Narasinopsis - Ayat-ayat Cinta
Film yang sudah booming sejak 13 tahun lalu, akhirnya berhasil aku tonton kembali siang tadi. Dulu, ketika film ini pertama kali dirilis, aku benar-benar tidak memahami mengapa film tentang pernikahan begitu booming dan melegenda. Bahkan masih terkenal sampai hari ini. Well, dulu sekali aku pernah menontonnya di TV, tapi hanya sekilas sebab aku ketiduran dan menganggap film tersebut sangat membosankan. Lalu, akhid-akhir ini aku seringkali melihat cuplikan filmnya bertebaran pada fyp TikTokku. Aku juga tidak mengerti kenapa begitu banyak orang yang menyukai film ini. Bahkan, ibuku sampai membeli novelnya. Dulu, 13 tahun lalu, tepatnya ketika aku masih berusia 10 tahun. Aku belum tahu apa itu cinta, apalagi soal pernikahan dan poligaminya. Ah, bahkan sekarang, 13 tahun kemudian, ketika aku berusia 23 tahun, aku saja masih bertanya-tanya soal hal itu.
Melalui film ayat-ayat cinta aku belajar bahwasannya benar, selain jodoh, rezeki dan mati adalah misteri. Begitu banyak hal dalam hidup ini yang masih menjadi misteri.
Dikisahkan Fahri, seorang pemuda yang begitu baik hati justru mendapat cobaan dari kebaikan hatinya itu. Mendapat fitnah karena perilaku baiknya. Aku menyebutnya, manusia terlalu baik. Kemudian Aisyah, istri Fahri yang baru saja mengenalnya belum lama dan bahkan baru bertemu beberapa kali harus dihadapkan pada situasi tentang siapa yang lebih ia percaya di umur jagung pernikahannya. Dan mereka berdua harus dengan berlapang dada menerima Maria dalam hidup mereka. Maria yang tidak pernah terbayangkan akan datang dan hadir diantara mereka berdua. Cinta seakan jadi rumit. Hidup seakan menertawakan mereka ber-tiga. Tapi ini juga bukan soal cinta segitiga.
Pernikahan tampak sederhana namun nyatanya begitu megah. Bahwasannya pernikahan bukan soal kepercayaanmu pada calon pasanganmu, bukan juga pada pekerjaanmu ataupun pekerjaannya, apalagi harta yang sudah kau punya atau dimilikinya. Tapi pernikahan adalah tentang kepercayaanmu pada Tuhan. Tidak heran jika sekarang banyak terjadi perceraian, sebab begitu banyak orang yang mulai menggulingkan kepercayaan pada Tuhannya. Entah kamu mengakui atau tidak, manusia seringkali hidup setengah-setengah, seperti mempercayai Tuhan dengan setengah-setengah. Kamu bilang kamu percaya Tuhan, tapi kamu ragu besok bisa makan atau tidak -adalah bentuk ketidakpercayaan yang paling nyata. Belum lagi, kamu bilang kamu percaya Tuhan tapi kamu tetap melanggar batas-batasNya. Banyak contoh bentuk ketidakpercayaan manusia pada Tuhan yang lainnya tidak mungkin aku ungkapkan disini semua, bisa kepanjangan.
Perjalanan kehidupan Fahri, Aisha dan Maria yang begitu mengaduk-aduk perasaanku ketika menontonnya sepanjang 2 jam 50 menit itu sukses membuatku menitikkan beberapa tetes air mata. Hingga aku menuliskan tulisan ini adalah sebuah jejak bahwa film itu pernah benar-benar membekas padaku.
Aku tahu, dan kamu juga pasti tahu, bahwasannya film diciptakan untuk hiburan semata. Film adalah pelarian dari kenyataan. Tempat melarikan diri dari pahitnya kenyataan dunia. Tapi, film selalu meninggalkan pesan-pesan tersendiri. Sebab, siapapun yang bekerja dalam film itu pasti ingin meninggalkan kesan pada penontonnya. Dan film ini sukses membuatku sadar bahwasannya hidupku masih jauh lebih membahagiakan daripada apa yang tertayang pada film. Dimana, justru duniaku adalah pelarian dari film yang begitu menyesakkan dada itu. Dan aku benar-benar tahu bahwa Fahri, Aisha, dan Maria adalah karakter fiktif. Cerita itu fiksi. Tapi semoga, kelapangan hati mereka bisa digunakan untuk bahan pembelajaran dan latihan diri ini.
Dan hari ini, aku teramat memahami mengapa begitu banyak orang yang menyukai salah satu karya Habiburrahman El Shirazy ini. Aku paham kenapa film dan novelnya bisa benar-benar terkenal hingga sekarang. Aku juga memahami ketidakpahamanku terhadapnya 13 tahun lalu. Film dan novelnya pantas mendapatkan begitu banyak pujian dan penghargaan, sungguh. Bahkan lebih dari itu.
Sekian, narasinopsis film Ayat-ayat Cinta.
Catatan kecil: Ternyata, aku banyak berubah, berkembang, bertumbuh, bahkan bertransformasi.
- 16 Oktober 2021
- Sastrasa














