Selama ini kita sebagai hamba selalu meminta untuk senantiasa diberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan yang didalamnya terkandung beragam problematika dan pilihan yang senantiasa membuat kita kebingungan, harus jalan mana yang kita ambil, atau dalil mana yang kita pakai sebagai alasan mengambil pilihan tersebut. Tapi kita pun tidak tahu petunjuk yang Allah kirimkan ke kita akan berupa apa. Yang mungkin saja datang dari orang lain, atau dari buku/postingan yang sedang kita baca misal.
Hari ini saya belajar banyak dari pertanyaan seorang siswa yang datang untuk konsultasi terkait karyanya yang ia sendiri kebingungan, âapakah saya tidak apa-apa memposting ini, untuk dinikmati pembaca atau saya harus menyuntingnya kembali?â
Sontak beberapa rekan disamping saya penasaran isi dari ceritanya, selesai membacanya ia hanya berkata âsudah posting saja, itu bagus ko, toh ini kan karya, kamu bebas mengekspresikan apapunâ.
Namun tentu tidak begitu dengan saya, yang dia merupakan anak dari bimbingan saya sendiri, saya merasa ada hal yang membawanya keruangan saya, bukan hanya sekedar tentang keresahannya yang khawatir karyanya diusut dan menyeret namanya, tetapi saya yang menganggap dia seorang anak yang sedang mempelajari sebuah âdampakâ dari apa yang kelak akan dikonsumsi oleh publik, yang itu merupakan hasil dari apa yang dilakukan oleh dirinya.
Kalimat pertama yang saya utarakan pada siswa tersebut âdisini kamu tidak akan langsung mendapatkan kesimpulan, bahwa kamu harus tetap mempostingnya, atau diminta untuk memperbaikinya.â Dalam proses konseling, klien tidak akan langsung diberi solusi, sebab solusi yang hadir merupakan hak preogratif klien, dimana permasalahan yang ia hadapi sekarang merupakan masalahnya, tentu yang bertanggung jawab penuh atas keputusan yang akan diambil adalah dirinya sendiri, sebab pelajaran datang tidak selalu langsung datang begitu saja dengan jawabannya. Ada proses yang harus dijalani dan kenyataan atas hasil yang diterimanya nanti.
Sebagai orang dewasa, kadang langsung memberi solusi adalah keahliannya, sebab merasa tahu cara menganalisis dan mungkin karena pernah berpengalaman. Tapi kan apa yang anak sekarang hadapi, tidak selalu sama dengan apa yang pernah kita hadapi dahulu, juga faktor yang harus dipertimbangkan pun tiap orang pasti berbeda. Maka selayaknya sesama manusia, kita hanya punya tanggung jawab untuk selalu mengingatkan, bukan mendikte.
Berlanjut pada obrolan kami, saya melanjutkan dengan beberapa hal yang saya ingin dia pahami sebelum melakukan sesuatu âakan selalu ada pilihan dalam setiap fase kehidupan, hidup ini soal belajar, jadi jangan takut jika melakukan kedalahan. Dan untuk permasalahan kali ini, ada 2 saran yang akan ibu sampaikan, perihal keputusan tentu ada ditanganmu sebagai pribadi yang memiliki hak untuk memilih jalan mana yang akan kau ambil. Yang pertama, jika ini akan tetap diposting karena menganggap bahwa saya termasuk orang yang menganggap karya adalah bentuk ekspresi yang bebas dan lepas, tidak ada yang mesti dipertimbangkan terkait kedepannya karya ini akan berdampak seperti apa terhadap pembaca, maka lakukanlah. Yang kedua, jika ini masih akan dipertimbangkan, maka ada hal juga yang jangan sampai terlewat. âSebagai seorang muslim, kita tahu bahwasanya apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawabannya kelak diakhiratâ, maka jika karya ini suatu saat nanti terbit, lalu dikonsumsi oleh publik, bagaimana jika ada yang terangsang karena narasinya merujuk ke pornoaksi? Apakah penulis bersedia jika kelak dimintai pertanggungjawabannya karena telah memberikan benih-benih gairah yang bisa jadi menjadi awal mula dia mencari yang lebih darisekedar bacaan? Kita pun sama-sama tahu bahwa candu dari hal seperi ini bisa melebihi candunya orang terhadap narkoba.Maka, sebagai muslim, kita tidak akan pernah luput dari pertanggungjawaban diakhirat. Meskipun kita tidak tahu hal tersebut akan bernilai apa dimata Allah. Yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar, dengan menjaga apa yang kita lakukan agar senantiasa berada dijalan-Nya, dan dilakukan atas dasar pertimbangan, bukan sekedar âhanya inginâ saja. Jadi pilihan akan selalu ada ditanganmu, apapun pilihannya semoga itu yang terbaik dan hasil dari beberapa pertimbangan. Yang terpenting kita sebagai manusia pembelajar harus terus belajar meskipun pernah melakukan kesalahan, jangan lantas berhenti belajar atau berproses hanya karena pernah salahâ. Dan setelah panjang lebar kami melanjutkan obrolan yang tidak sebentar, si anak pun pulang dengan kalimat âsetidaknya sekarang saya sudah punya beberapa pandangan, bu. Tidak sebingung kemarin2â.
Dari sini saya merasa diingatkan kembali tentang kehidupan yang sedang saya jalani sekarang, apakah selama ini keputusan yang saya ambil sudah berlandaskan ajaran-Nya, atau masih hanya karena hawa nafsu manusia saja. Atau malah keinginan sendiri yang sudah terhasut bisikan setan âlakukan saja, namanya juga manusia, wajar melakukan kesalahan kecilâ yang bisa saja itu merupan dosa yang tidak dianggap kecil. Jadi, barangkali ini adalah bentuk petunjuk dari-Nya, agar saya mengingat kembali bahwa hidup ini penuh dengan pilihan, dan jangan lupa untuk memilih dengan cara yang bijak, tidak sembarang milih. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.