Beberapa bulan lalu dunia instagram heboh sekali dengan demam yang satu ini. Dari artis papan atas sampai papan bawah ikutan juga, teman-teman dan beberapa kerabat pun turut memeriahkan. Bahkan beberapa teman dekat yang tak ku kira akan terjangkit demam ini (jarang muncul di dunia perinstagraman) turut juga hadir di tengah riuhnya challenge ini. Demam itu pun begitu merebak karena mungkin kedatangannya yang tepat di saat manusia-manusia yang terbiasa sibuk meramaikan bumi di jalanan dan di gedung-gedung tinggi tiba-tiba harus menerima kenyataan menjadi tahanan rumah.
Awalnya senang sekali melihat beberapa influencer dan beberapa tokoh negara mengikuti challenge tersebut, kita jadi bisa melihat sisi lain dari mereka. Tapi lama kelamaan, jenuh juga jika hampir seluruh follower dan following-ku melakukan hal serupa. Terlebih challenge ini memang sangat terasa efeknya ketika malam tiba. Jangan harap dapat ku temukan postingan-postingan dari akun-akun yang ku nyaman membukanya tiap hari seperti nkcthi, dudukdulu, rintiksedu, petualanganmenujusestuatu, qoonit, kartika, najwashihab, narasi, ryan @dipaksadewasa, fiersabesari, dan masih banyak lagi. Ditambah saat-sata itu aku sedang senang-senangnya mengikuti perkembangan informasi covid19. Hal itu terjadi sekitar 3-4 hari. Kejenuhan ku memuncak.
Jenuh sampai di titik sempat berfikir "Ngapain sih orang-orang tuh gak jelas deh" "Mau lu jelek mau ganteng gak peduli gue, yang penting gue tau lu orang baik aslinya" "Pada gak ada kerjaan apa gimana si elah", dan pandangan-pandangan negatif lainnya yang justru malah membuat penilaian ku terhadap orang-orang berubah. Dasar memang aku si ENFJ-T, yang gak bisa kalau ada yang kurang disuka dan disetujui gak langsung bilang dan nunjukin pendapat. Mungkin bagus bila diaplikasikan pada hal-hal lain, tapi ini waktu dan keputusanku sedikit keliru. Setelah ku tunjukkan kejenuhan dan ketidaksetujuan ku tentang challenge ini, mungkin aku tak sadar telah menyakiti beberapa orang yang justru bahagia sekali mengikuti challenge ini. Ya walaupun tetap saja ini hanya penilaianku pribadi, yang jelas ada teman yang bilang, "buat have fun aja koq Hen". Ya walaupun saat itu aku masih membatu, saat otak ini kembali mendingin mulai terpikirlah beberapa hal.
1. Mungkin memang kamu merasa dirugikan karena dengan kelakukan teman-teman dunia maya mu itu kamu jadi tidak nyaman menggunakan sosial media untuk update info-info yang dibutuhkan. Tapi sisi lainnya tak kamu lihat, ada banyak orang di luar sana yang justru terbantu mood baiknya akibat challenge tersebut. Ya efek baiknya bisa juga ke peningkatan imunitas tubuh, yang sangat dibutuhkan di masa pandemi seperti ini.
2. Kejadian ini sudah sering sekali berulang. Kamu tidak setuju suatu hal dan menunjukkan itu tapi dari persepsi yang kurang adil. Lantas sampai kapan mau memaki lingkungan luar dan berhenti introspeksi diri sendiri
3. Kenapa tidak kamu sadari kalau kamu hanya punya dua tangan, dua kaki, dan satu kepala yang tak mungkin bisa merubah lingkunganmu. Menunjukkan pendapat boleh tapi toh keputusan akhirnya tetap ditangan mereka. Setiap manusia punya hak, kamu sendiri juga emosi kan hak pribadinya di usik. Jadi kenapa gak ganti fokus aja? Fokus buat rubah apa yang mampu kamu ubah. Ya, emang gak bisa ngerubah lingkungan luar, tapi kamu bisa ubah diri sendiri.
Finally, aku memutuskan untuk menutup sementara akun instagram awalku untuk beralih ke akun kedua. Apa yang ku lakukan di akun kedua? Karena memang akun ini baru dan sengaja ku peruntukkan hanya untuk posting potongan-potongan kata, jadi following dan follower nya masih bisa kukendalikan. Maka ku mulai memfollow akun-akun yang senang ku lihat tiap hari (yang ku sebutkan di atas). Ya setidaknya ku punya lingkungan baru yang ku buat sendiri untuk bisa menjaga kenyamananku dalam bersosial media, tanpa mengusik kenyamanan orang lain hahaha. Setelah challenge itu selesai akun awalku pun kembali ku lihat dan ku gunakan. Gak kebayang kalau waktu itu ku teruskan ketidaksetujuanku di akun pertama hingga ku me-unfollow teman-teman. Mungkin hari ini akan bertambah orang yang mengiraku sebagai musuh :)
"Kenyamanan pribadi selalu bisa diatur bagaimana cara wujudkannya karena memang hak sepenuhnya ada ditanganmu sendiri. Tapi tetap pikirkan mereka yang ada di sekelilingmu, karena kamu bukan satu-satunya makhluk yang tinggal di bumi. Cari jalan terbaik karena setiap orang punya hak menciptakan dan mendapat rasa nyamannya masing-masing"
Selamat terus bertumbuh kawan!
@mathmythic @adhit21 @sekotenggg @gugunm @fadhila-trifani