Layakkah aku, sayang?
Aku telah mengumpulkan begitu banyak luka, hingga hatiku terasa lebih tua daripada waktu.
Masih adakah ruang di pelukmu, untuk seseorang sepertiku?
Written by Aftansa
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day

Jar Jar Binks Fan Club
h
taylor price
art blog(derogatory)
The Bright Sessions
EXPECTATIONS

Jimmy Eat World
KIROKAZE

@theartofmadeline

Love Begins
Not today Justin
🪼

Discoholic 🪩
hello vonnie

No title available
cherry valley forever
Claire Keane
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Brazil

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Iraq

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Kenya
seen from Finland
seen from Switzerland
seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Ecuador
seen from Ecuador
seen from Argentina
seen from France
seen from France

seen from United States
@alghazi917
Layakkah aku, sayang?
Aku telah mengumpulkan begitu banyak luka, hingga hatiku terasa lebih tua daripada waktu.
Masih adakah ruang di pelukmu, untuk seseorang sepertiku?
Written by Aftansa
Belakangan aku belajar satu hal: tidak semua yang berbeda harus diperdebatkan, dan tidak semua yang tidak kupahami harus kuhakimi.
Setiap orang sedang menjalani hidup dengan cerita, luka, dan kapasitas yang berbeda. Ada pilihan yang mungkin tak akan pernah kupilih, tetapi bukan berarti aku berhak merasa lebih baik hanya karena berdiri di tempat yang berbeda.
Menghormati pilihan orang lain bukan berarti selalu menyetujuinya, melainkan menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar hidup sebagai mereka.
Aku juga mulai belajar menurunkan harapan pada hal-hal yang memang berada di luar kapasitas seseorang. Tidak semua orang mampu memberi kasih sayang dengan cara yang kubutuhkan. Tidak semua orang mampu memahami, hadir, atau bertahan sebagaimana yang kuinginkan.
Barangkali mereka sudah memberi sebisanya, hanya saja “sebisanya” belum sampai pada yang kubutuhkan.
Dan itu tidak selalu membuat mereka menjadi orang yang jahat, juga tidak membuat kebutuhanku menjadi berlebihan. Kami hanya memiliki kapasitas yang berbeda.
Semoga usia tidak hanya menambah pengalaman, tetapi juga melapangkan cara pandangku pada manusia.
Semoga semakin sedikit kalimat “seharusnya” yang aku ucapkan kepada orang lain.
Semoga aku cukup rendah hati untuk mengakui bahwa selalu ada bagian dari hidup seseorang yang tak pantas kuterjemahkan dengan sudut pandangku sendiri.
Adrian, YK | Akhir Juli
Doa-Doa Tak Pernah Selesai
(1)
Tuhan, aku tahu aku punya banyak sekali dosa, juga kesombongan yang entah bagaimana tak kunjung punah. Namun biarkanlah aku bertaubat berulang-ulang, menggunakan hak istimewa yang Kau berikan sejak aku terlahir ke dunia.
Kau sudah pasti tahu kenapa aku datang. Aku sedang menyukai seseorang, tak ingin aku munafik jika di hadapanmu (percuma juga, Kau maha tahu). Jujur saja, hatiku meminta. Namun aku sadar, siapalah aku di hadapan cinta.
Kali ini aku tak ingin mengutuk, meski hatiku sudah mulai ribut. Belum lagi kepala dan seluruh isinya yang semakin hari semakin kusut. Namun izinkan aku menggunakan kesempatan kali ini untuk meminta melebihi dicintai salah satu makhluk-Mu yang lain.
Aku meminta kelapangan dada, agar tak begitu banyak dendam bermukim di sana. Juga rasa benci yang kerap beranak pinak. Rasa iri yang tak kunjung selesai. Rasa dengki yang susah sekali dikenali.
Sebab aku tahu, akar dari hatiku yang semerawut tidak terletak pada keraguanku terhadap cinta, atau perasaanku terhadap dicintai. Ia hidup sebagai kegagalanku menguasai nafsu, amarah dan emosi.
Sepanjang aku hidup, inilah yang paling sulit. Bertikai berkali-kali dengan diri sendiri. Kadang tak mengenali kata hati, terkadang menuduh hati menginginkan yang tak mesti. Kadang menganggap segala hal wajar dilakukan selama bisa bertahan dalam keparatnya dunia (mohon ampun, ternyata aku masih mengutuk).
Tuhan, aku percayakan urusan perut sejengkal ini kepada rezeki yang telah kau takar. Aku percayakan urusan jodoh ini kepada nama yang telah kau sandingkan jauh sebelum aku dilahirkan. Aku percayakan urusan napas ini kepada masa dari garis tangan yang kau tuliskan. Namun, sebagaimana aku percaya usaha yang kadang mengkhianati hasil, biarkan aku tetap tumbuh tanpa pernah menyerah, sekalipun hasilnya bukanlah apa yang kuharapkan. Proses-proses itu, izinkanlah kulalui meski terkadang banyak sekali perdebatan dalam perjalanannya.
Aku meminta lebih banyak kepada kesadaranku akan hal baik yang telah tumbuh, sebagaimana Kau menitipkan pikiran yang mampu dan kritis. Agar tak ada rasa benciku pada pengetahuan, tak ada rasa dendamku kepada tanggung jawab, tak ada rasa iriku kepada mimpi, dan tak ada rasa dengkiku kepada iman.
Tuhan, aku memang menyukai seseorang. Sekali lagi aku tak munafik jika aku menginginkannya. Tapi melebihi dia (sekalipun aku tahu dengan hadirnya di hidupku maka dunia akan lebih baik) aku ingin lebih baik sebagai seorang individu, terlepas aku berhenti menyukainya atau Kau izinkan aku mencintainya seumur hidup.
Gerimis Sebelum Fajar, 22 November 2024
Aku menuliskan ini bukan untuk memanggilmu pulang, bukan pula untuk menaruh beban rasa bersalah di pundakmu, atas jalan yang telah kau pilih dengan sadar.
Ini hanya caraku menyimpan sesuatu yang tersisa di antara kita; sebuah kata yang pelan-pelan kupelajari maknanya, ialah tentang penerimaan.
Aku pernah bertahan sejauh yang kupahami sebagai cinta, menautkan harap pada hal-hal yang bahkan tak lagi utuh. Aku berdiri tanpa diminta, memohon tanpa suara, menjaga tanpa benar-benar dijaga.
Dan aku percaya, bahwa cinta layak diperjuangkan sampai batas paling akhir. Tapi di ujung segala upaya, saat kata-kata telah habis, saat langkah-langkah tak lagi menemukan arah, pada akhirnya aku mengerti; perjuangan itu tidak gagal, ia hanya selesai dan perlu dicukupkan.
Aku merapikan diriku perlahan, mengumpulkan serpihan hari yang tertinggal di kenangan, menyusuri pagi yang terasa terlalu sepi, dan malam yang enggan benar-benar usai.
Tidak mudah, tentu saja tidak. Namun aku bertahan bukan untuk membuktikan apa-apa, hanya karena hidup terus bergerak, meski hatiku sempat tertinggal.
Ada bagian dariku yang masih diam di waktu-waktu bersama kita, yang sampai hari ini belum sepenuhnya pulang. Aku belajar bernapas di sela sesak, tersenyum di antara runtuh, dan melangkah dengan kaki yang gemetar tapi tetap ingin sampai.
Tak banyak yang tahu betapa sunyinya perjalanan ini; bahkan kamu yang dulu menjadi alasan mengapa aku bertahan. Jika suatu hari, di keramaian yang tak sengaja atau kesunyian yang tak terduga, namaku melintas di benakmu, ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah tinggal begitu lama, hingga akhirnya pergi tanpa lagi meminta untuk dipertahankan.
Tak perlu lagi ada penyesalan. Cukup doakan aku diam-diam. Semoga suatu hari nanti aku menemukan damai yang dulu gagal kita jaga bersama. Aku mengakui satu hal; mungkin aku bukan tempat paling teduh untukmu pulang. Mungkin aku pernah menjadi ragu dalam langkahmu, menjadi lelah dalam harimu, dan pada akhirnya, menjadi sesuatu yang harus kau lepaskan lebih awal dari yang seharusnya.
Untuk itu, aku meminta maaf; bukan untuk mengubah yang telah lewat, melainkan untuk berdamai dengan peranku dalam kisah yang tidak berhasil kita selesaikan.
Ngomongin Cinta di Usia 40-an
Zaman saya muda, cinta itu sederhana. Sesederhana potongan lagu dari Bad English ini:
Sometimes I wanna give up, wanna give in, I wanna quit the fight… And then I see you baby, and everything’s alright.
Simpel dan polos. Masalah hidup aja selesai hanya karena satu senyum. 😁
Waktu itu, logika belum masuk daftar penting. Dompet tipis tidak terasa. Masa depan masih seperti brosur perumahan: gambarnya indah, isinya belum tentu.
Dan itu sah. Namanya juga cinta masa muda.
Tapi hidup berjalan terus.
Pelan-pelan, cinta dipaksa ikut rapat. Duduk di meja yang sama dengan tagihan listrik, anak demam tengah malam, orang tua yang mulai sering ke rumah sakit, dan pekerjaan yang tak selalu ramah.
Di usia 40-an, cinta tidak lagi seperti When I See You Smile-nya Bad English di awal tulisan ini, tapi ia lebih mirip lagu The Reason dari Hoobastank.
Cinta di usia ini tidak lagi tentang perasaan yang membara, tapi tentang komitmen dan tanggung jawab. Cinta yang telah melalui banyak hal, telah menghadapi banyak tantangan, dan tetap memilih untuk bertahan.
Cinta dewasa tidak banyak kata. Kadang malah tidak romantis sama sekali.
Cinta jenis ini lebih sering hadir dalam bentuk yang kurang estetik:
— sama-sama diam tanpa saling curiga; — sama-sama capek tanpa saling menyalahkan; — sama-sama tahu kapan harus bicara, kapan cukup menemani.
Kalau cinta muda membuat kita ingin lari dari dunia, cinta dewasa justru mengajak berdamai dengannya.
Dan mungkin, inilah cinta yang tidak banyak dibicarakan orang. Karena tidak fotogenik, kurang menarik, dan tidak selalu terlihat bahagia.
Tapi justru di sanalah cinta bekerja paling keras.
Sebagai orang jadul, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:
Cinta tidak selalu tentang merasa senang, tapi tentang memilih tetap tinggal, bahkan ketika hidup sedang tidak ramah.
Dan itu, buat saya, sudah lebih dari cukup.
Catatan Orang Jadul di Zaman Digital
Surat untuk seseorang yang panas dikening, dingin dikenang.
Ingatkah dulu saat terakhir kita berbincang, aku sempat bertanya.
"Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu, kamu mau kembali ke masa apa?". Aku masih jelas ingat jawabanmu, dan ku tuliskan lagi jawabanku saat itu supaya kamu mengingatnya.
"Aku ingin kembali ke masa sekolah, lalu kuliah. Aku tidak akan merubah apapun, aku hanya ingin lebih memperhatikan apa yang pernah ku lewatkan".
Hari ini, aku ubah jawabanku. Jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan kembali ke masa sekolah, kuliah, lalu bekerja. Bukankah sama saja? Tidak. Aku akan memilih untuk mengunci rapat akun sosial mediaku, sehingga tidak perlu ada direct message berkelanjutan. Aku akan lebih memilih bekerja daripada harus ijin setengah hari demi menemuimu saat itu.
Apa aku menyesal? Iya.
Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa sejak dulu kamu selalu memiliki ruang khusus, tersimpan rapi, tidak pernah ku buka karna aku tidak pernah percaya bahwa aku bisa singgah untuk membacanya. Lalu, kamu datang memberi kesempatan dan kepercayaan bahwa aku bisa tinggal. Aku ragu, tapi kamu terus meyakinkan, sampai akhirnya disaat aku sudah di dalamnya aku menjadi lupa bahwa ternyata bukan aku yang kau ingin tuk tetap tinggal menetap.
Aku mulai berandai-andai, jika dulu aku tidak pernah membuka buku itu, ku pastikan bahwa ruangku untukmu akan tetap utuh. Kamu, tetap akan jadi bagian manis yang selalu ingin aku singgahi untuk ku lihat sesekali diwaktu lelahku. Aku ingin tetap menyimpanmu sebagai kesatuan utuh, tapi robekannya terlalu besar dan panjang untuk ku susun kembali. Aku ingin meruntuhkan ruang bertulis namamu, tapi aku bahkan tidak mampu hanya untuk sekedar memecah jendelanya. Aku ingin membencimu, tapi maafku cukup luas untuk memahami bahwa ini semua bukan sepenuhnya salahmu, walaupun apa yang kau lakukan benar benar melemahkan tidak hanya pikir, tapi tubuh dan juga mentalku.
Aku, punya banyak alasan untuk tidak lagi berharap hal baik untukmu. Tapi, aku memilih berpegang pada satu alasan yang ku kira kau pasti akan menganggapku bodoh, agar kamu selalu dibimbing di jalan-Nya.
Pun sengaja tulisan ini dibuat, barangkali nanti kamu akan membacanya, entah 3 bulan, 6 bulan, 1 atau 2 tahun kedepan. Jika nanti diperjalanan kedepan kita bertemu, akan aku ceritakan kepadamu bagaimana ku lalui waktu-waktu dengan sedikit kenanganmu, yang aku sendiri sudah lupa bagaimana rupa wajahmu dan hangat tawamu. Namun, jika kita tidak dipertemukan lagi, semoga kelak di sela aktivitasmu kamu dapat menemukanku, diingatanmu, meski aku tidak punya ruang khusus didirimu, semoga disaat dunia tidak berpihak denganmu, kamu akan merindukanku. Merindukan tawaku yang kaku, dan aku yang selalu malu-malu dihadapanmu. Tidak sekarang, suatu saat nanti.
Lalu, dengan apa yang tersisa, aku akan selalu mengenangmu sebagai bagian dari pertumbuhanku.
Dan, meski tak lagi utuh, kamu akan tetap menjadi buku yang selalu ingin aku baca berulang kali, lagi dan lagi. Tidak akan bosan.
*els
Rasanya asing, padahal dahulu tidak seperti ini~ Dulu memang tidak sehangat yang lain, tapi tidak juga sedingin yang lain. Tapi, akhir-akhir ini berbeda. Tak dipungkiri, sama-sama merasakan hal yang sama. Bahkan tidak tahu cara bertegur sapa yang baik seperti apa. Tidak juga saling menatap. Pun tidak juga saling bertukar kabar. Padahal jika masih ada duduk bersama, pasti bakal ada cerita baru dari masing-masing. Namun nyatanya, satu sama lain tidak pandai juga menjadi yang pertama meluluhkan tembok yang lamban laun akan semakin tinggi hingga tak terlihat jati diri. Dirasa ini bukan hanya tentang ego semata, tapi apa nya pun belum diketahui. Rasa mengganjal yang sulit diungkapkan. Ingin sekali menangis, tapi lelah jika tangisan tak merubah keadaan. Ya, meskipun, satu sama lain tidak selaiknya untuk menuntut. Karena saat ini waktunya untuk saling berbenah; saling muhasabah; saling berubah; dan saling mendekat hingga rasa asing di awal itu tidak ada lagi. Juga saling berjanji, berusaha, sekuat tenaga untuk menjaga janji supaya tetap ada & terjaga.
Begitu ya~ semoga ~
Pasti bakal banyak doa yang selalu dipanjatkan untukmu seorang. Semoga Allah berikan hidayah diatas sunnah. Allah jadikan pribadi yang sangat lebih baik(tidak mengumpat, tidak main fisik, tidak bermuka masam, tidak juga melukai hati). Lekas sehat. Pingin loh, mengajak masuk pasar modern untuk mentraktir apapun yang di mau.
Syawal 1445 H | April 2024 M
Semakin kita berumur, hidup sebenarnya sedang mengajak kita untuk beres-beres.
Kita mulai sadar bahwa tangan kita terlalu kecil untuk menggenggam semua hal. Maka, kita mulai belajar melepaskan beban yang berat di hati dan pikiran, seperti ambisi yang melelahkan atau urusan yang tidak perlu.
Tujuannya sederhana, agar tangan kita cukup luang untuk memeluk hal-hal yang benar-benar berharga.
Dan untukmu yang sebentar lagi akan bertambah usia, semoga bertambahnya angka ini menjadi awal yang lebih ringan untuk melangkah, serta lebih lapang untuk mensyukuri apa yang telah ada.
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
"Tuhan, berikan aku yang terbaik"
Tabiat manusia; setelah meminta yang terbaik, ia akan menjadi yang paling sedih ketika doa itu benar-benar di kabulkan.
Ketika Tuhan mulai menjauhkan satu persatu yang kurang baik untuk kita, kita mulai mengeluh atas ke terlepasan itu.
-ceritajihaan-
Luwuk Banggai 20 Februari 2025
Pada rahasia yang tak ingin ku bagi terkecuali kepada sunyi, disini.. ingatan tentangmu selalu menghantui di antara sepi, disini.. aku mencoba melupakanmu setengah mati.
Ada jalan yang disiapkan bukan untuk kita tiba melainkan agar kita belajar bagaimana caranya berjalan.
Ada takdir yang tak ditujukan untuk berujung, melainkan untuk menuntun hati, agar paham seni melepas dengan ridha.
Sebab tidak setiap langkah dimaksudkan untuk menuju hasil, sebagian hanya untuk menanam ikhlas di tiap prosesnya.
Barangkali, Tuhan memang menitipkan rezeki dan rahmat-Nya bukan pada akhir perjalanan, melainkan pada cara kita bertumbuh di sepanjang ikhtiar.
~ repost tumblr kaderiyen
Ironi Hidup
Lucu juga kalau dipikir-pikir. Kita semua ini, di terminal, stasiun, atau sekadar di persimpangan jalan, seperti partikel yang lalu-lalang tanpa henti. Berdesakan, berkejaran dengan waktu, masing-masing membawa ransel berisi cerita dan kepala yang penuh entah apa. Mungkin sama, pusing memikirkan cicilan.
Dulu, aku pikir puncak kebijaksanaan itu adalah menemukan ketenangan di tengah riuh ini. Pakai headphone kedap suara, putar lagu paling sendu, lalu pura-pura jadi karakter utama film independen yang sedang merenungi nasib. Merasa paling filosofis sedunia karena berhasil menyepi di tengah keramaian. Konyol.
Ternyata aku salah besar. Makna hidup itu bukan lari dari keramaian, tapi justru nekat menyelam ke dalamnya. Bukan untuk mencari sunyi, tapi untuk mencari satu wajah. Satu wajah spesifik yang membuat ribuan wajah lain jadi latar belakang buram. Satu senyum yang membuatmu rela menembus lautan manusia hanya untuk melihatnya lebih dekat.
Dan di situlah letak ironi manisnya. Kita mencari ketenangan seumur hidup, tapi hati baru benar-benar tenang saat menemukan ‘keriuhan’ baru dalam wujud satu orang. Seseorang yang kehadirannya lebih berisik dari seribu klakson di jam pulang kerja, tapi entah kenapa suaranya menjadi satu-satunya musik yang ingin kau dengar. Hidup bukan tentang mematikan suara dunia, tapi tentang menemukan satu frekuensi yang membuatmu merasa di rumah, di tengah orkestra yang paling kacau sekalipun.
Akhirnya, setiap kita akan sibuk dengan dunianya masing-masing.
Tak ada yang salah. Memang begitulah hidup bekerja.
Yang dulu dekat, perlahan jadi jarak.
Yang dulu selalu sempat, kini sekadar ingin pun nyaris tak sempat.
Kita pernah seruang, sesuara, segelak tawa.
Sungguh aku tak menuntut apa-apa.
Hidup ini terlalu penuh untuk sekadar menyesali yang menjauh.
Aku hanya sedang mengingat.
Bahwa dulu pernah ada kita yang saling sedia:
di pagi buta, di malam patah, di hari remeh yang terasa panjang.
Kalau sekarang sudah tak bisa begitu—tak apa.
Rindu tak harus disuarakan.
Ia tahu cara bertahan,
bahkan dalam diam-diam..
Tapi jika suatu hari nanti kamu lelah…
dan dunia terlalu ramai untuk ditanggung sendiri,
pintu yang pernah kita buka bersama itu,
tak pernah benar-benar kututup.
Jika aku mati dalam sujud,
jangan tangisi aku.
Tangisi hari-hariku yang dulu,
di mana aku hidup
tanpa benar-benar mengingat Allah.
Pelajaran-pelajaran yang Tidak Tertulis di Tubuh Laki-laki
Laki-laki tak pernah diajari cara kehilangan
selain menunduk dan tetap bekerja.
Di jam-jam retak,
kala dunia terasa penuh seperti ruang tunggu
yang menolak satu kursi tambahan,
aku duduk diam
dengan dada sesempit pertanyaan
yang tak berani keluar.
Pernah kulihat ibuku merapal dalam tangisnya
memintal kesedihan seperti benang panas—
tak ada yang pecah, tapi segalanya goyah.
Malam itu aku coba menirunya.
Menyebut namaku sendiri dengan suara yang bukan suara.
Mungkin ini bentuk paling jujur dari tangis:
bukan yang basah di pipi,
tapi yang menggema dalam paru-paru
dan tak pernah benar-benar keluar.
Ada luka yang tak bisa diajarkan
seperti bahasa yang tak sempat ditulis
tapi tumbuh di sela-sela sepi.
Dan hidup?
Penuh, terlalu penuh.
Ambisi, kata mutiara.
Janji, masa yang selalu sempit.
Tuan pun terasa terlalu sibuk
untuk duduk bersamaku malam ini.
Tapi aku tetap mencoba
bukan untuk jadi kuat,
tapi untuk berhenti berpura-pura.
Aku mulai paham,
mengapa ayah tak pernah marah dengan suara,
hanya dengan diam yang menggantung
seperti pisau belum dicabut.
Kami tumbuh dalam rumah
yang duka dan kecewanya dikemas rapi,
dimasukkan ke lemari
bersama kemeja-kemeja kerja dan jas hujan tak pernah dipakai.
Tak ada ruang untuk kehilangan,
kecuali di dalam tubuh.
Di antara persendian yang ngilu tiap pagi,
di balik senyum sopan pada rapat yang memaksakan semangat.
Dan andai suara ibuku tak sempat kudengar waktu itu,
mungkin aku pun akan mewariskan cara yang sama—
menyembunyikan tangis seperti utang,
dibawa tidur dan tak pernah lunas.
Tapi malam-malam nan panjang ini,
aku mengulang satu pelajaran yang tak pernah tertulis:
bahwa laki-laki pun bisa patah tanpa dibunyikan,
dan itu bukan kehinaan.
Bahwa suara yang pecah di dada
bisa menjadi bentuk doa
yang lebih jujur daripada seluruh kalimat motivasi
yang kita baca untuk bertahan.
Bahwa menangis
bukan tanda akhir.
Tapi awal dari keberanian
untuk tidak terus-menerus menjadi orang yang diharapkan,
dan mulai menjadi orang yang sungguh-sungguh hidup.
Aku tak belajar menjadi utuh.
Tapi aku belajar menyebutkan yang runtuh.
Dan barangkali, itu cukup.
Setiap pagi, dunia bangun lebih cepat dari doa.
Orang-orang terburu-buru mengejar sesuatu yang tak tahu bentuknya,
menyebutnya rezeki, nasib, takdir, padahal mungkin hanya rasa takut kehilangan.
Aku lihat roda kehidupan berputar liar,
menyeret yang kuat, menindih yang lemah, lalu berhenti sesaat
untuk menertawakan keduanya.
Di setiap wajah, ada garis halus antara usaha dan pasrah
antara mengharap dan menyerah.
Dan di celah itu,
di tempat di mana manusia tak tahu lagi harus berlari ke mana
Tuhan sering menunggu.
Bukan untuk menolong segera
melainkan untuk memperlihatkan betapa kecilnya langkah-langkah kita
dibanding kehendak yang melingkupi segalanya.
Aku melihat lelaki yang semalam berdoa sungguh-sungguh,
kini menunduk lesu karena dagangannya tak laku.
Dia tak tahu, mungkin Tuhan baru saja menunda rezekinya
agar hatinya tak dikuasai angka.
Aku melihat perempuan tua di tepi jalan,
menengadahkan tangan bukan untuk meminta,
tapi untuk menutupi wajahnya dari debu dunia.
Ada ketabahan di matanya—ketabahan yang tak bisa dipelajari dari buku mana pun.
Di bawah langit yang makin redup,
aku merasa kecil tapi tak lagi takut.
Aku tahu kini: roda itu tak pernah benar-benar kejam.
Ia hanya tunduk pada satu poros
dan poros itu adalah kehendak-Nya.