UANG DAN SKRIPSI
Assalamu’alaikum,
Ditengah aktivitas para mahasiswa akhir memang akrab sekali dengan yang namanya skripsi. Tugas Akhir yang sering menjadi momok. Ketakutan dan kebingungan mahasiswa untuk menyelesaikannya membuat muncul berbagai masalah. Masalah pertama, mahasiswa dituntut untuk merujuk pada referensi buku terkini alias terbaru. Sedangkan seperti banyak kita ketahui terutama mahasiswa yang kuliah di kota kecil, buku-buku di perpustakaan kebanyakan buku lawas. Sedih? Iya. Banget malah. Karena buku-buku lawas yang akhirnya dicoret dari daftar rujukan mahasiswa harus membeli buku-buku yang terkait dengan skripsinya di toko buku. Iya harus beli di toko buku karena pasti bukunya up to date. Tapi? Yup, masalah sepele tapi berat bagi mahasiswa, uang buat beli buku. Sekarang saya sedang memperbarui pola pikir saya sendiri. Pola pikir yang sepertinya susah sekali buat beli buku serius macam buku kuliah atau untuk rujukan skripsi. Padahal dari saya SD saya suka membaca buku (buku cerita, novel, biografi-- yang pasti bukan yang serius-serius). Bahkan SMP pun saya sering beli buku-buku tersebut yah walaupun dengan budget yang minim, gak enak sama bapak. Hehe. Mulai SMA, saya lebih sering beli novel via toko online karena lebih murah karena banyak diskon. Kalo dihitung pasti bisa beratus-ratus ribu atau hampir jutaan. Nah, kini saya ingin memperbarui pola pikir saya tentang hal saya royal beli novel mengapa saya tidak bisa royal membeli buku hukum? Kalau zaman saya masih ada kelas, saya hanya membeli buku yang diwajibkan oleh dosen makanya dosen-dosen zaman sekarang terkesan memaksa mahasiswa membeli buku agar mereka punya buku. Padahal selain buku yang diwajibkan dosen kami selalu menganjurkan dan mengingatkan berkali-kali kepada kami untuk memiliki buku-buku referensi selain buku yang diwajibkan. Masalahnya lagi gimana kalau kami membeli buku-buku tersebut tetapi tidak kami baca? Percuma? Iya. Tapi berguna kalau dapat tugas. Nah, tugas juga merupakan trik dosen agar mahasiswa mau mencari buku dan membacanya. Bukan hanya sekedar membaca tetapi juga mengkaji dan memahaminya.
Mahasiswa kini, bukan hanya mahasiswa, maksud saya anak zaman sekarang sangat royal untuk membeli kuota internet. Karena hidup tanpa Internet rasanya kurang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Berlawanan sekali dengan buku-buku serius macam buku hukum. Saya pun begitu. Hmm. Tapi saya ingin berubah. Bukan jadi tidak beli kuota. Bukan. Itu mah mustahil hehe. Berubah untuk mulai ikhlas beli buku-buku serius untuk rujukan skripsi. Padahal kalau saya beli buku-buku serius tersebut pakai uang orang tua saya tapi saya malah yang sayang uangnya sedangkan orang tua saya malah senang sekali. Selain beli buku, kalau saya bilang mau les, kursus atau bimbel pasti orang tua saya semangat sekali dan bilang iya. Dari situ kadang saya berpikir. Bapak saya dulu hidup susah, saya enak tinggal menikmati kesuksesan bapak saya. Jadi saya harus menjadi kebanggaannya, salah satu caranya dengan beli buku baca buku serius. Terima kasih pak, ma. I love you. Maaf anakmu masih belum bisa berpikir dewasa. Semoga disegerakan ya.
Selain fenomena sayang uang untuk beli buku atau gak punya uang untuk beli buku. Ada hal yang lebih parah lagi. Joki skripsi alias bayar orang untuk membuat skripsi sang mahasiswa tersebut. Dibandingkan masalah pertama, masalah ini lebih berat dan parah. Tidak semua mahasiswa joki skripsi.
Tapi, ada mahasiswa joki skripsi.
Kelo beruntung? Lulus. Dapat gelar.
Kalo sial? Ketahuan. Bikin ulang. Dicurigai dosen. Lulus bakalan lama. Uang melayang.
Karena dua masalah tersebut maka pola pikir saya mulai membaik. Saya akan royal beli buku-buku serius. Soalnya skripsi saya ini sumbernya susah sekali. Di perpus aja gak ada. Sedih.
Waktu ke toko buku di kota saya, buku-buku serius yang terkait skripsi saya juga sedikit. Walaupun ada, harganya selangit. Soalnya kadang saya berpikir sayang banget beli buku tapi cuma mau ngutip satu kalimat. Tapi saya harus beli karena sekarang saya punya tekad dan alasan yang kuat. Seenggaknya kalo cuma ada satu kalimat yang bisa dikutip dari buku yang saya beli, saya jadi punya buku. Keren banget! Karena saya punya impian untuk punya perpustakaan mini. Tapi saya belum pernah memikirkan untuk mengisinya dengan buku serius tapi sekarang akan saya pikirkan. Mungkin itu ide yang bagus?
Seperti yang saya ceritakan di atas, dari SD saya sudah suka buku. Baca buku suka banget. Tapi kalau buku serius itu susah sukanya. Soalnya kalau baca gak langsung bisa mengerti dan masuk di otak beda dengan novel sudah lewat bertahun-tahun pun saya masih ingat inti ceritanya. Baca buku serius juga bikin ngantuk. Suwer deh. Tapi ada temenku anaknya pinter karena rajin baca buku serius hingga tidur pun kurang. Beda orang, beda perspeksi. Aku ingin seperti dia. Tapi berat. Hehe
Pagi ini saya SMS mama saya buat bilang kalau saya beli buku-buku buat rujukan skripsi uangnya diganti ya. Sebenarnya saya mencari dukungan. Dukungan untuk alasan saya merubah pola pikir. Karena saya yakin pasti mama bilang iya. Dan memang bilang iya. Yey!
Waktu googling saya menemukan bahwa UGM juga jual buku secara online nama webnya ugmpress.ugm.ac.id. Wah senang sekali. Tapi mau check out dan bayar buku tersebut saya pun berulang-ulang ragu namun akhirnya saya bayar juga. Semoga cepat sampai. Saya menemukan 3 buku yang kemungkinan berkaitan dengan skripsi saya. Yang saya kecewakan adalah tidak ada review untuk melihat daftar isi untuk melihat apakah tema skripsi saya dibahas di buku tersebut atau tidak. Saya berharap menemukan toko-toko online lainnya yang menjual buku serius terkait skripsi saya. Adakah yang tau? Kalo tau jangan sungkan untuk kasih tau saya ya.
Kesimpulan dari proses berpikir saya terkait uang dan skripsi adalah LEBIH BAIK MEMBELI BUKU DARIPADA MEMBAYAR ORANG UNTUK MENGERJAKAN SKRIPSI KITA. Halal. Kita jadi lebih pintar. Orang tua bangga. Tidak was-was jika ketahuan gimana. Waktu muda lolos. Waktu tua belum tentu. Karena saya sering melihat berita yang sudah tua ketahuan bukan mendapatkan gelar sarjana dan tindakan yang sepatutnya tapi dengan cara-cara licik yang sebenarnya sebagian orang mengetahui tetapi memilih bungkam. Jadi karena itu banyak yang dipecat dan ditarik kembali gelar sarjananya. Semoga kita bukan seperti itu ya teman-teman. Aamiin.
Sekian dari saya. Doakan saya lancar mengerjakan skripsi saya dan dapat dimudahkan dalam menemukan referensi buku yang cocok dengan skripsi saya. Satu lagi doakan saya cepat wisuda. Hehe Terima kasih.
Wassalamu'alaikum













